Pages

Monday, 14 May 2018

Mungkin Aku Kurang Bersyukur #Part2

Menghargai hidup itu gak mudah, loh!
Pernah suatu malam, aku sedang makan di salah satu warung di pinggir jalan kota Jakarta. Lalu datang satu keluarga kecil. Ada Bapak, Ibu, anak perempuan berumur sekitar 7 tahun dan adik kecil laki-lakinya berumur 5 tahun an. Ohya, si Ibu juga sedang menggendong seorang bayi, tidur pulas. 

Mereka datang sambil nyanyi. Entah itu lagu apa, yang aku tangkap, mereka kompak sekali. Seperti sudah terbiasa bernyanyi bersama. Aku sempat bersitatap dengan anak perempuannya. Suaranya nyaring dan tegas. Rambutnya sebahu, wajahnya lelah dan matanya seolah mau bilang 'Maaf, Kak! saya gak punya pilihan lain."

Jujur, malam itu aku miris sekali. Masa kecil kita, itu masa-masa emas untuk memberi doktrin kehidupan. Misalnya, jika masa kecil kita sering melihat orang tua kita berdagang, semakin dewasa kita akan semakin condong dan dengan sendirinya akan memilih dunia perdagangan, begitupula jika masa kecil dihabiskan dengan seorang petani, profesor, pembisnis dan lain sebagainya. 

Masa kecil mereka bagaimana? Melihat kondisi mereka sekeluarga harus mencari nafkah dengan bernyanyi bersama di jalanan  kota Jakarta, apakah terbesit di benak mereka untuk keluar dari zona itu dan mencoba sekolah tinggi misalnya? Atau sekolah ke luar negeri? Yang aku rasakan, jangankan untuk menjadi seorang dokter seperti kebanyakan cita-cita anak kecil lainnya, untuk sekolah saja mereka pesimis. 

Rabbi, sungguh saat itu aku malu sekali. Dengan nikmat yang sudah Engkau beri hingga sejauh ini,  sama sekali aku tidak menghargai hidup aku. Jelas sekali, aku jauh dari kata syukur. Nastaghfirullah wa natuubu ilaiH

Sunday, 13 May 2018

Mungkin Aku Kurang Bersyukur


Fase kehidupan itu naik turun. Kadang kalau udah bahagia, bahagia banget. Tapi kalau sudah sedih, ya sedih banget. Sadar gak sadar, kita suka berlarut dalam dua perasaan itu, ya gak sih?

Dari dulu , aku emang susah membahasakan isi hati. Kaya sekarang misalnya. Pengen banget sebenarnya menumpahkan semuanya di sini, katanya biar agak lega. Tapi tetap aja, buntu.

Umurku emang sudah gak muda lagi, rasanya makin ke sini makin berat saja rintangan hidup. Sejak awal aku gak pernah membayangkan fase hidup akan gitu-gitu saja. Aku selalu mencoba mempersiapkan kemungkinan terburuk, atau membayangkan hidup aku kedepannya akan sangat susah. Lalu kemudian, mencoba berpikir kemungkinan solusi yang ada. 

Tapi kontemplasi mencari solusi saat kondisi sedang tenang akan berbeda hasilnya dengan saat kita sedang terdesak, katakanlah sedang terpojokkan takdir. Kondisi seperti ini benar-benar rapuh. lemah. 

Aku kadang suka ngerasa, apa di dunia ini, setiap orang yang sedang 'terjatuh' akan merasa sendiri dalam hidupnya? atau itu aku saja? apa aku wajar bersedih se dalam ini? atau aku terlalu berlebihan? aku rasa kondisi ini sangat berbahaya, benar-benar gak bisa dibahasakan. Tapi yang aku sadari, yang merasakan ini gak hanya aku, di luar sana jutaan orang pun merasakan keluh kesah mereka masing-masing. Kadang kalau sudah di part ini,mungkin aku merasa aku kurang bersyukur. 

Sunday, 11 February 2018

Jelajah Kota, Jelajah Bahasa

Apa yang paling menarik dari kegiatan 'jalan-jalan?'
Liat pemandangan? Nikmati suasana baru? Merhatiin orang-orang baru? Jelajah tempat wisata? Atau cuma sekedar lari dari kenyataan? ish.. horor ya? hha


Belakangan ini aku emang lagi jelajah berapa kota di pulau Jawa. Dari Jawa Barat sampai ujung Jawa Timur. Bukan Surabaya ya, tapi Madura. Bahkan sampai kota paling timur di Madura, Sumenep. 
Sepanjang jelajah ini sih, alhamdulillah ndak ada kendala ya. Banyak yang ngira, agenda jelajah ini hanya sekedar untuk ngamburin uang. ck, ck , ck , hidup gak semenyenangkan itu buat aku, rek! hha. Maksudnya, gak lahya aku fokus buang uang hanya untuk jalan-jalan. Well, Emang jalan-jalan butuh duit, tapi selama punya teman insyaAllah agenda jelajah kita bisa lebih hemat. Makanya, kalau mau jelajah niatnya jangan jalan-jalan, tapi silaturahmi. Aku ulang lagi ya sekalian pake bold type deh, untuk silaturahmi. 

Kebanyakan orang pasti nyari 'kuliner' kalau lagi jelajah kota baru. Misalnya, apa makanan khas kota itu. Dari makanan berat sampe makanan ringan. Bahkan sampe yang ringan banget kaya kapas ( ada perumpamaan yang lebih ringan dari kapas ga? hha ). Terus nanti instastory nya penuh sama foto makanan. Benerkan? Kalian pasti juga gitu. Tapi iam not ya!

Setiap kali menjelajah, yang aku cari ada dua hal. Pertama adalah bahasa dan yang kedua budaya. Bahkan aku gak ngelirik kulinernya sama sekali loh, sungguh! Hha. Biar dikata perut lapar asal diajarin bahasa setempat hati aku berasa kenyang kok ! #ciee

Well, Aku suka banget merhatiin bahasa setiap kota yang aku kunjungi. Kosakata, intonasi, ciri khas, sampe mimik khas para penduduknya. Sebut saja misalnya Cirebon. Mereka punya kata khas 'jeh' di setiap kalimatnya. Misal bilang 'pada bae jeh!' 'segala gala jeh'! 'ajak ekoten jeh!'  dll. Intonasi ngomongnya juga cepet. Jelas lahya, pertama kali denger aku langsung tertarik.

Beda banget pas aku lagi di Jawa Tengah, kaya di Jogja. Kebetulan aku lagi belajar bahasa kromo juga sihya! Jadi kalau ketemu yang lebih tua, atau mau belanja paling gak aku coba-coba pake pengantar halusnya. Kaya 'niki pinten, Pak?' 'wonten sampo mboten , Bu?' atau sekedar bilang 'matur suwun njeh , Bu!' dengan nada halus dan senyum paling manis , ah rasanya meleleeeh.. aku yang ngomong aja berasa adem hati apalagi beliau-beliau udah pengen ngambil mantu kaliya! XD

Bahkan dengan bahasa, biasanya sambutan warga setempat juga berubah loh! Pernah suatu hari pas lagi di Kediri, aku beli sesuatu. Berbahasa kromo ala kadarnya banget, eh tiba-tiba si Bapaknya bilang 'ndalemipun sangking Jogja ya Mba?' . Aku ketawa aja sambil ngaminkan. Pengalaman lain pas lagi makan di warung Madura, aku bahasain pake Madura eh dikasih lebih murah. Apalagi makan di rumah makan Padang, aku ajak ngobrol bahasa Padang jugaa, tapi harganya tetap sih! hha

Tapi akhirnya aku sadar, bahasa itu penting banget! Aku jadi ngerasa kemanapun aku pergi, aku bisa diterima. At least , diterima sama budaya setempat. Mungkin karena aku suka banget sama Bahasa kaliya, jadi setiap nemu bahasa baru rasanya pengen tahu. Pengen belajar. Pengen bisa. Mungkin kapan-kapan aku cerita di halaman terpisah tiap kota yang aku kunjungi beserta kenangan di dalamnya. Untuk bagian ini, aku cuma mau ngucapin alhamdulillah. Alhamdulillah atas segala cerita ini. :)

Sunday, 2 July 2017

Trus Kenapa Kalau Gue Perempuan?

Trus kenapa kalau gue perempuan?

Sebenarnya dari dulu gue udah agak gimana gitu soal gender. Gue pernah nulis cerpen. Judulnya Kutukan Perempuan. Gue ga bermaksud cerita seorang wanita yang sedang dikutuk, ya! Malah sebaliknya, di cerpen itu gue ngutuk laki-laki. 

Emang sih, emansipasi wanita belakangan ini marak diperjuangkan. Isu kesetaraan gender ramai diperbincangkan di seluruh dunia. Udah ga jamannya lagi perempuan ngendep di rumah yang katanya perempuan terlahir untuk dapur, kasur dan sumur. Perempuan juga dapet hak pendidikan, bekerja sampe berkarir, semua sama. Selain biologis, yang membedakan antara lelaki dan perempuan hanya beberapa dari hak kewajiban sesuai ajaran Islam misalnya, meskipun pendidikan seorang istri melebihi suaminya, maka ia tetap harus taat selama tidak untuk maksiat kepada Allah. Allah malah tegaskan
"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa."
 Look, Allah tidak membedakan lelaki dan perempuan. Semua orang bisa ikut kompetisi untuk meraih kemuliaan Allah. Kalau Allah saja tidak membedakan, kenapa kita malah terlalu membandingkan?

Barusan temen gue ngintip gue nulis ini. Tiba-tiba dia cerita. Dia baru nonton The Lost City of Z. Di film itu diceritakan seorang suami yang ingin berpetualang kembali ke hutan Amazon. Singkat cerita, sang istri ingin ikut serta. Dengan sangat percaya diri Si Suami menjelaskan bahwa istrinya tidak akan sanggup untuk ikut. Dalam petualangan ini butuh fisik yang kuat, tahan banting dan bla bla. Sekilas gue denger cerita ini, gue ngebatin ah, lagu lama!

Ceritanya belum selesai. Kemudian sang istri menjawab dengan tenang. "Menurut kamu , perempuan itu lemah? Perempuan itu ditakdirkan untuk melahirkan seorang anak. Perjuangan melahirkan juga butuh kekuatan fisik. Tidak hanya raga yang kami pertaruhkan, tapi juga nyawa!" 
Masih mau meragukan kekuatan perempuan?

Gue sepakat, perempuan ga sekuat laki-laki. Dalam beberapa hal, perempuan juga lebih lemah misal soal ibadah. Perempuan punya libur bulanan, sedangkan laki-laki sampe hari kiamat pun bisa beribadah setiap harinya. Tapi bukan berarti , perempuan ga bisa sekuat laki-laki kan? Seenggaknya 1 : 100lah!

Di beberapa kesempatan, gue sedih kenapa keperempuanan gue seolah menjadi tebing pembatas gue untuk berbuat banyak hal. Misal, gue ga bisa S2 di luar Cairo karena gue perempuan. Gue gaa boleh terlalu tinggi bercita-cita, karena gue perempuan. Gue gaa leluasa ini dan itu karena gue perempuan. Ibarat di satu sisi gue didorong, di sisi lain gue ditahan. 

Berawal dari gejolak hati gue ini, gue pengen banget jadi Menteri Pemberdayaan Wanita. Gue pengen memberdayakan para perempuan yang punya cita-cita dan impian diluar angan perempuan biasa. Gue pengen bilang sama mereka agar gaa hilang harapan! Kalau ada 100 perempuan luar biasa, coba bayangkan berapa generasi luar biasa yang akan mereka lahirkan? Jika seorang perempuan adalah sekolah bagi keluarganya, maka jadilah sekolah bergengsi. Kelasnya standar internasional. Kurikulumnya bersandar pada Al Qur'an dan as Sunnah. MasyaAllah! Gue yakin yang lahir nantinya adalah jundi jundi kebanggaan Islam!

Kok gue jadi membara gini ya? haha
Intinya mah, gue tetap bersyukur gue terlahir sebagai perempuan. Kalau gue laki-laki, ga kebayang gue udah dimana dan jadi apa. XD

To Be An Activist Is A Fate

Gue agak sedih malam ini. Masih agak ya, karena atas segala karunia yang Allah beri ke gue sampe detik ini, gue gak punya alasan berlarut dalam kesedihan. Gue udah lama nyemplung di organisasi. Sibuk sana sini, rapat siang malam, sampe akhirnya gue jabat jadi ketua Wihdah, organisasi induk khusus menaungi mahasiswi Indonesia di Mesir. 

Kompleksitas drama organisasi udah gue telen semua. Dari semua yang gue lalui, gue sih ngerasa sudah mulai terbiasa dihadapkan hantaman, ujian, bahkan klimaks dari sebuah organisasi di mana gue udah ngerasa mabok berat dan rasanya cuma pengen liat awan dan laut biar sekalian muntah!

Meski begitu, gue bahagia! Kayanya emang gue terlahir sebagai seorang aktivis. Penggerak. Ke mana arah dan bentuknya, gue yang nentuin. Bakatnya udah dari sono. Gue gaa pernah nyesal mempertanyakan kenapa gue jadi aktivis. Bagi gue, to be an activist is a fate! Kudu disyukuri biar memberi feedback positif. 

Back lagi ke topik pertama yang kita bahas, gue agak sedih malam ini. Gue lagi dihadapkan suatu permasalahan yang bagi gue itu baru. Pasalnya begini, biasanya gue berhadapan sama orang itu-itu aja. Lembaga itu-itu aja. Lingkarannya ya itu aja. Jadi muter kemana-mana yaa ketemunya orang yang sama. 

Ibarat sudah lama muter di lingkaran yang sama, gue harus pindah tempat. Entah itu ke lingkaran lebih luas, atau minimal ke lingkaran tetangga. Well , sekarang gue kejebak sebuah kompleksitas drama organisasi di lingkaran yang baru. Lebih luas, lebih besar, lebih menantang. 

One side , gue exicited banget! Pasti banyak pengalaman yang bisa diambil. But in another side, gue bingung bersikap. Sikap gue ini , benar atau salah ya? Bijak atau gaa? selfish atau malah terlalu merendahkan diri? 
Gue jadi bingung, dilematis memilih untuk mempertimbangkan profesionalitas atau fokus pada realitas sambil berharap, "Nanti juga akan membaik sendiri!" 

Berproses memang penting. Kita semua kudu menghargai proses kalau pengen sukses. Tapi juga memperhatikan hal lain. Misal strategi yang kuat dan terukur. Gue jadi ngeri sendiri ngebayangin, gimana kehidupan di Indonesia. Pantes aja ada slogan "lambat disikat". "Lo lambat, Lo tamat!" Kompetisinya main banget!

Dalam skala yang masih tergolong kecil ini aja, gue udah kelabakan. Gimana yang lebih besar? Semoga keputusan gue untuk meminta agar ditinjau kembali ini adalah benar. Gue kalau ngerasa ada yang ga beres dari cara main sebuah organisasi, gue akan blak blakan bilang! Dan gue ga suka kalau ketidakberesan ini dipelihara! Pilihannya sederhana, "Bereskan! atau Lo jaga tapi gue hengkang!"

Hati kecil gue sih ngerasa bersalah ngomong gitu. Tapi gue rasa, semakin luas Lo bersosialisasi, Lo kudu punya prinsip hidup yang kuat. Jangan mau terombang ambing. Selain itu, tetap memperhitungkan setiap chance ,  possibility, dan challenge nya. Objektif dan terukur!

Kehidupan di luar itu ganas, Gaes! Tapi lebih ganas lagi kalau Lo punya hati yang susah memaafkan orang lain. Intinya, no matter apa yang terjadi, tetap saling memaafkan! Sepakat? :) 

Gitu aja dari gue, sekali lagi, gue gaa pernah berhenti bersyukur. Bagi gue, to be an activist is a fate!  Selamat berkegiatan! :)

Doakan Saya Jadi Duta Bahasa!

Bahasa kedua yang saya pelajari selain bahasa orang tua ( Bahasa Banjar ) adalah bahasa Kutai. Kutai adalah kabupaten tempat saya tinggal. Tepatnya Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. 
Meski Banjar adalah pendatang dari Banjarmasin-Kalimantan Selatan, suku ini cukup mendominasi di kampung kami. Deretan kampung kami bersuku Banjar, deretan kampung seberang bersuku Kutai. Kampung ini dipisahkan oleh Sungai Mahakam. Karena pusat perbelanjaan berada di kampung Kutai, jadi mau tidak mau bahasa Kutai adalah bahasa yang wajib dipelajari agar memudahkan proses jual beli sehari-hari. 

Lulus sekolah dasar, saya mulai merantau ke pulau Madura. Saat itu saya baru memasuki umur 11 tahun. Yang menarik perhatian saya pertama kali jelas saja, bahasa! Gaa ada satu kosakata pun dari bahasa Madura yang agak mirip bahasa Banjar atau Kutai. Sangat sedikit sekali yang diambil dari serapan bahasa Indonesia malah! So, detik pertama dengar, melongo. Detik berikutnya mbyar! buyar!

Sejak saat itu saya jadi suka gondok dengar orang Madura ngobrol di samping saya. Tapi yang namanya gondok ya, kalau disikapi negatif misal benci yang ngomong, ya feedbacknya juga bad lahya.. 
Saya lebih memilih untuk menaklukkan bahasa itu. Saat itu saya mikir , "Saya harus bisa bahasa mereka biar ga dibegoin!" 
Di sisi lain saya juga mikir, bagaimana saya mau masuk dan mengenal lebih dalam budaya mereka kalau saya tidak berada di dalam barisan mereka. Dan untuk masuk barisan mereka, at least saya harus menguasai bahasa mereka. ( Btw, cool juga ya untuk pemikiran bocah umur 11 tahun! XD )

Jadilah saya diam diam belajar bahasa Madura ( kalau terang terangan dan ketahuan berbahasa daerah bisa dihukum wkwk ). Dari ngobrol sama bibi dapur, penjual di toko sampai Pak Slamet tukang bakso yang tiap hari jum'at nongkrong depan gerbang pondok. 

Akhirnya, pada bulan ketiga di Madura saya sudah bisa ngomong cas cus berbahasa Madura, gaes! :D
Awalnya sih emang ga dapat nada dan intonasinya. Kalau saya mah, don ker aja yah! toh saya bukan native speaker bahasa setempat. Menghadapi cemoohan teman teman, saya jadi bikin rule bahasa sendiri. Begini nih bunyinya ; 

Seorang pecinta bahasa tidak akan menghina atau menyalahkan ( dg maksud menjatuhkan ) orang yang ingin belajar bahasa

Meski dia salah intonasi atau salah pronunciation misalnya , tetap kasih respect! Karena setidaknya, dia mau belajar. Dalam belajar bahasa khususnya ilmu speaking, salah dikit ga masalah kok. Yang penting bisa dipahami. Kalau mau membenarkan, bukan dengan menyalahkan trus bilang 'Ih, Lo salah!' dan biasanya andalan mereka bilang 'Gaa usah ngomong bahasa kita deh kalau ga bisa!'  MasyaAllah, kejam banget yak! :v

Hari berganti bulan berganti tahun, bahasa Madura sudah mendarah daging di tubuh saya. Sampai-sampai, pasca kelulusan dan keluar dari pulau Madura, saya lebih biasa plus lancar berbahasa Madura dibanding Banjar. Bahkan seringkali kalau ditanya kosakata, lebih kenceng speed jawab bahasa Madura!. :D

Then, sampai detik ini, 6 tahun sudah saya di Mesir, saya banyak belajar bahasa Nusantara. Dari Banjar, Kutai, Jawa, Madura, Sunda, Minang sampai Betawi. Tapi yang paling aktif sih bahasa Banjar, Kutai, Jawa, Madura dan Minang. Nambah bahasa Arab, Ammiyah Mesir, Inggris dan Malaysia. Ohya satu lagi, bahasa yang paling susah saya pahami dari dulu, yaitu bahasa hati! wkwk

Well, saya suka banget belajar bahasa. Kemana saya pergi, berkawan dan berpetualang, yang selalu membuat saya takjub adalah bahasanya. Dulu saya punya cita cita pengen jadi praktisi linguistik bahasa. Meski nampaknya, saya lebih cepat nyerap bahasa nusantara daripada bahasa asing, yang penting bahasa deh!

Doa saya sih sederhana dan mohon kiranya pembaca setia Bocah Embara sekalian sudi turut mendoakan, semoga saya jadi duta bahasa Nusantara dan Dunia. Kalau ga bisa saya, mudah-mudahan anak cucu saya bisa! Amin :)

Salam hangat dari , Cairo :) 

Tuesday, 13 June 2017

Dilematis! Camaba, Masisir, KBRI dan Wajib Bayar Asrama 50USD

Selain jumlah Camaba tahun ini yang sangat fantastis (1468 orang camaba), perihal wajib asrama dengan membayar 50$ perbulan juga sedang hangat diperbincangkan belakangan ini. 

Angka 50$ untuk asrama memang tidak sedikit. Hitungannya, jika 50$ untuk biaya asrama, belum lagi kebutuhan pribadi, transportasi ngaji atau berorganisasi bagi yang masuk barisan para aktivis plus untuk membayar biaya Daurul Lughah, total minimal yang dibutuhkan kurang lebih sekitar 100$ perbulan. Untuk kalangan menengah,  biaya segitu sudah cukup nyekik pernafasan, apalagi untuk kalangan ke bawah. Nah, realita yang ada menunjukkan bahwa banyak Camaba dari tahun ke tahun (hingga tidak menutupi tahun ini) adalah dari kalangan menengah ke bawah. Apakah angka '50' ini memberatkan? Jelas saja, iya. 

Posisi ini sangat dilematis sebenarnya. Mengingat tujuan utama dibangun asrama ini adalah sebagai Hibah -bukan aset negara- kepada al Azhar atas jasanya selama ini terhadap Indonesia. Jika sudah dianggap Hibah, seyogyanya segala hal yang berkaitan dengan bangunan tersebut menjadi tanggungjawab pihak yang dihibahkan. Namun ternyata,  kondisi Mesir yg semakin rumit merubah keadaan hingga menuntut biaya operasional tetap dikembalikan kepada pemerintah kita. 

Sumber  Foto: Google

Terlepas dari itu semua, kebijakan ini diambil tentu saja atas pertimbangan yang sangat matang. Pemerintah kita -dalam hal ini KBRI Cairo- sudah mengerahkan negosiasi terbaik mereka dihadapan pihak Al Azhar. Disampaikan juga bahwa angka '50' ini sudah ditetapkan oleh pihak Al Azhar sejak lama. Melewati musyawarah yang sangat alot dan tawar menawar diplomatis dengan KBRI Cairo. Bahkan saat itu, nilai tukar dolar - pound Mesir masih stabil. Dilematis kan? Iya. Apakah KBRI Cairo sudah mengusahakan keringanan biaya dan meminimalisir beban biaya asrama Indonesia untuk Masisir? Tentu saja juga, iya.

Lalu muncul pertanyaan, "Mengapa harus Camaba?" 

Saya jadi teringat isu hangat yang diangkat sekelompok Masisir terkait asrama yang tak kunjung dihuni beberapa bulan silam. Sehari sebelum LPJ saya di Wihdah (sekitar tgl 5 Maret 2017)  saya menyempatkan bersilaturahmi dengan Pak Dubes dan Pak DCM KBRI Cairo. Disela silaturahmi, kami juga membahas berita 'Asrama Indonesia di Cairo jadi sarang Jin'  ( baca :  http://www.kompasiana.com/coffeeaceh/asrama-indonesia-di-komplek-univ-al-azhar-mesir-jadi-sarang-jin_58c3f7ed337b61cb04181e74 ) ini. Dengan sangat bijak saat itu Bapak Dubes meminta pendapat kami, para pemimpin organisasi besar Masisir -saat itu turut hadir Presiden, Wapres PPMI dan wakil Wihdah- terkait hal tersebut.

Berangkat dari sana, kami semua sepakat bahwa asrama harus segera difungsikan. Sebagai jalan tengah agar asrama tetap bisa dihuni dengan kebijakan tetap membayar adalah jika dihuni oleh Camaba. Karena akan banyak manfaat yang bisa diambil oleh mereka ( baca juga : http://www.ppmimesir.com/2017/06/polemik-sistem-wajib-asrama-maba-tahun.html?m=1 )  ( http://www.informatikamesir.com/2017/06/asrama-50-dollar.html?m=1 ). 

Di forum itu juga sempat saya sampaikan, bahwa kalaupun harus dihuni oleh Camaba dan berbayar, jika memungkinkan biayanya tidak sampai melebihi standar kehidupan Masisir diluar asrama, yaitu sebesar 300-500 le perbulan. Well, aspirasi-aspirasi sudah disampaikan. Saat itu kami tinggal menunggu hasil musyawarah final terkait nominal antara pihak Azhar dan KBRI. 

Lalu terkait peranan Diktis Kemenag yang pernah menyampaikan bahwa sudah mengalokasikan dana sejumlah 5 M utk penghuni asrama ini masih dipertanyakan. Mereka menyampaikan saat kunjungan saya dan Wapres PPMI, Sdr. Ikhwan Hakim, awal April lalu ke Diktis Kemenag bahwa akan ada dana beasiswa dari Kemenag untuk para penghuni asrama tersebut. Pada akhirnya, mereka yang bayar 50$ perbulan jika ditotal hanya akan membayar 25$ perbulan. Namun kabar ini ditepis kebenarannya oleh Atdikbud KBRI Cairo. Hemat saya, meski benar sudah dialokasikan, tapi akan susah cair tahun ini, kemungkinan baru cair tahun depan.

Jadi kondisinya bisa digambarkan seperti ini, Al Azhar mau ini, Masisir mau itu,  KBRI berusaha sekuat tenaga memeras otak agar kalimat 'ini' dan 'itu' bisa menjadi 'iti' atau 'inu'. Meski pada akhirnya nanti, tetap akan ada pihak yang dikorbankan. Dilematis kan?

Saya selaku bagian dari Masisir dan sempat menjabat ketua Wihdah tahun lalu berharap kita semua dapat menemukan solusi terbaik atas permasalahan ini. Syukur-syukur jika ternyata angka 50 masih bisa dinegosiasi kembali .

Namun, jika angka '50' ini sudah diketok palu dan final, ada baiknya jika KBRI Cairo dapat duduk 'lesehan' bersama seluruh elemen aktivis Masisir,  baik PPMI,  Wihdah, kekeluargaan dan sejumlah kru buletin Masisir untuk musyawarah dan menelusuri kembali kronologis penetapan kebijakan ini agar tidak terjadi salah paham,  saling menyalahkan dan cari aman. Nantinya para aktivis ini yang akan jadi perpanjangan lidah kepada para Camaba agar dapat dipahami bersama.

Terakhir, mari kita doakan agar Allah Swt melimpahkan rahmat dan perlindunganNya kepada al Azhar, para UlamaNya,  KBRI Cairo dan segenap Masisir serta melepaskan umat Islam di seluruh dunia dari cobaan duniawai yang sedang melanda, Amin ya rabbal alamin 

Wallahualam 
°Rahmah Rasyidah°⁠⁠⁠⁠

Tuesday, 6 June 2017

Menjadi Mahasiswa Tingkat Akhir di Al Azhar Cairo


Kampus Putri Al Azhar Cairo
Besok hari terakhir saya ujian. Kalau dihitung-hitung, ini ujian putaran ke-12 yang saya lalui selama di Mesir. Kalau dihitung semesternya, ada sekitar 12 semester juga. Kalau setahun ada 2 semester,  berarti ini masuk tahun ke 6. Dan kalau ditinjau dari sisi Strata yg dilalui, alhamdulillah ini masuk Strata 2 perjalanan saya menjadi mahasiswi di Cairo. Diantara semua semester yg saya lalui, semester 7-8 adalah yang paling berkenang. 

Sebut saja saat itu saya adalah mahasiswi tingkat akhir. Menjadi MTA (Mahasiswi Tingkat Akhir) itu ribet-tidak mudah-menantang-banyak cobaan. Jangan bayangkan kami (mahasiswa Al Azhar Cairo) harus puasa, begadang atau sampai berkele untuk menyelesaikan skripsi dari pihak kampus. FYI nih ya, tahun akhir kami gak pake skripsi. Ya ujian seperti biasa, tapi ya gitu, rasanya sama seperti makan mangga muda kecut dan asam dikasih petis Madura pake 10 cabe rawit. Uch. 

Trus enak dong ya gak pake skripsi? Gak juga,  Bro. Ujian kami, lebih mengerikan dari misteri si Manis dari Jembatan Ancol. Kalau di Mesir, mungkin shootingnya di Jembatan 6 oktober. Tapi ya sudah lah, saya akan cerita pengalaman saya saja. 

Ya, saat itu saya jadi MTA di Al Azhar. Sbg seorang MTA,  profesi saya lainnya adl sbg aktivis mahasiswa, staff honorer di Kedutaan, dan kakak/adik bagi keluarga di sini. Wow padat banget dong? Hm, gak bisa saya jelaskan rasanya, Guys. 

Karena selain ga ada skripsi, Al Azhar juga sangat jauh dari absensi kehadiran. Kalau mau hadir kelas silahkan, gak juga gak dicari. Enak? Gak, Guys! Justru disitu letak cobaannya. Kita diuji apakah benar benar mau berjuang mjd mahasiswa sejati, atau hanya sekedar hadir ujian, lulus kemudian pergi.

Dg segala kesibukan dan profesi yg saya pegang saat itu, sy komitmen untuk ga bolos kuliah. Pagi kuliah, siang dari jam 2 ngantor sampe jam 6 dan kadang habis maghrib sampe jam 9 ada rapat / agenda mahasiswa.

Biasanya, sebulan sebelum ujian saya akan off semua agenda. Sudah mulai fokus baca diktat kuliah dan bimbingan belajar sama temen sekelas (kadang adik kelas) dari berbagai negara, Indonesia, Thailand, Brunei, Singapore dan Malaysia.

Hanya saja, masa MTA saya memang beda. Persiapan ujian juga beda. 
Saat itu, tiba tiba pihak kampus mengumumkan jadwal ujian yang dimajukan dari biasanya. Gak cuma kita, para dosenpun keliatan gak siapnya. Nampak dari penjelasan di kelas yg terkesan diburu waktu. Belum lagi sebagian diktat yang belum dibagi. Jadi apa yang mau dibaca?

Sekali, setia kawan kita diuji. Dalam keadaan genting begitu, semua orang berharap bisa belajar bersama. Mendadak notif hape jadi penuh. Status ujian yg dimajukan bertebaran di beranda Sosmed. Saya pun ga kalah heboh, langsung ambil cuti kerja dan atur strategi baca. 

Setiap harinya, teman teman saya datang ke rumah. Kita belajar bersama, sharing dan mencoba bahagia dg kenyataan yang ada. Dan jujur, itu momen momen yang sangat indah selama saya menjadi santri di Universitas Al Azhar Cairo. Sampai kami wisuda bersama, saya banyak mengambil pelajaran dari pengalaman sy selama mjd MTA. 

Bahwa menjadi Azhari tidak akan versus dg organisasi. Asal tahu prioritas dan piawai manajemen waktu yang rapi.

Menjadi Azhari bukan tentang diri sendiri. Bukan tentang yang penting ujian kemudian pergi. Atau tentang IQ tinggi dan yakin akan lulus sendiri. 

Menjadi Azhari adalah tentang sebuah kesungguhan, ketekunan dan pengorbanan. 

Nah, sekarang giliran kamu. Kapan mau jadi Azhari di sini?

Tuesday, 9 May 2017

Welcome back!

Bagaimana jika semua kejadian yang kita alami, kita tulis lalu kemudian dihapus dan ditulis kembali beberapa tahun kemudian?

Tentu rasanya akan berbeda. Tidak hanya terjadi perubahan penuturan bahasa, namun sudut pandang dan emosi yang ingin disampaikan pun terasa lain.

Baru baru ini banyak diantara teman teman saya yang menyayangkan keputusan saya untuk menghapus seluruh foto yang pernah saya unduh di akun instagram saya. Memang sekilas akan nampak eman. Dibalik itu, ada hal lain yang menjadi pertimbangan saya saat saya secara sengaja menghapus semuanya.

Seperti kita mencoba hadir kembali ke masa lalu. Melihat kembali foto yang pernah kita abadikan dan mencoba mengingat kejadian apa yang mendasari pengambilan gambar tersebut memberi kesan tersendiri. Kalau dulu kita menuliskan dengan bahagia yang menggebu, bisa jadi saat ini kita akan menuliskannya dengan tersedu pilu. Atau mungkin dulu ditulis dengan penuh emosi dan menguras air mata, namun saat dijabarkan kembali malah mampu menguak hikmah yang teramat banyak.

Ini yang akan saya lakukan kedepannya. Ada ratusan bahkan ribuan foto tersimpan dalam folder komputer saya. Beberapa diantara masih saya ingat kenangannya, yang lain agak sedikit lupa.

Blog ini, sudah sekian lama tidak saya sentuh. Bahkan ada yang terang terangan menyebutnya 'lumutan". No matter at all. Faktanya memang se-mengenaskan itu. Terlebih saat setahun lalu saya sangat disibukkan dengan organisasi. hiks

Well, kedepannya kita akan banyak berjumpa di sini. Berbagi cerita, ilmu dan kisah lainnya biar gak lumutan lagi lahya... InsyaAllah

Sunday, 25 September 2016

Duduk Sejajar dalam Belajar, Berdiri Sama Tinggi dalam Organisasi


Al Azhar, piramida dan padang pasir. 3 hal yang terbayang pertama kali sebelum menginjakkan kaki di Negeri Seribu Menara, Mesir. Sebuah harapan besar sudah dipupuk subur jauh sebelum burung besi membawa raga menyentuh cita agar tidak hanya sekedar ekspektasi belaka. Benar adanya saat dikatakan, Mesir adalah negara peradaban. Darinya lahir jutaan peradaban sejak ribuan tahun sebelum masehi, seperti piramida yang menjadi bukti sejarah bahwa dahulu kala seorang Raja pernah binasa karena kekejaman dan ketamakannya.

Tak terkecuali keberadaan al-Azhar yang dijadikan kiblat ilmu agama oleh sebagian besar masyarakat muslim di dunia. Sejak munculnya komunitas pertama Indonesia di Mesir pada tahun 1850 , mereka tidak hanya mengkaji ilmu agama saja, namun turut aktif menciptakan pergerakan baik dalam membangun hubungan kepada pemerintah Mesir, membuat majalah Indonesia pertama[1] dan bersatu dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia agar diakui oleh dunia khususnya Timur Tengah.
hanya ilustrasi

Sejarah telah mengamini bahwa pelajar Indonesia di Mesir berada dalam lingkaran pergerakan yang memiliki dua titik fokus utama, yaitu belajar agama dan berorganisasi. Meski telah terjadi pergeseran zaman hampir satu setengah abad lamanya, dua hal ini masih tertanam dalam sanubari mereka. Pergerakan tersebut semakin bervariasi bentuknya, dari komunitas, himpunan hingga akhirnya menjadi sebuah persatuan yang sekarang dikenal dengan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia ( PPMI ) Mesir.

Al-Azhar sendiri mempunyai ciri khas unik, yaitu sebuah proses belajar mengajar yang tidak terikat dalam catatan buku absen kehadiran. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para muridnya dalam menggali ilmu agama di salah satu universitas islam tertua di dunia ini, khususnya bagi para pelajar Indonesia. Ibarat berjalan di sebuah lingkaran yang memiliki dua titik fokus utama, jika terlalu fokus pada satu titik ( organisasi ), maka titik lainnya ( belajar ) akan lengah, lebih lagi saat titik tersebut tidak memiliki tanda jelas untuk mengharuskannya berhenti. Pertanyaannya adalah, bagaimana caranya agar bisa menyeimbang dua fokus tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan bahkan perlu untuk dituliskan dengan ukuran huruf besar di buku catatan harian para pelajar, yaitu :

Pertama    : Tajdid niat
Tajdid niat merupakan sebuah usaha memperbaharui niat sebelum kembali menapaki aktifitas keseharian. Kurangnya kesadaran atas urgensi niat dalam beraktifitas kadang menjadi bumerang kegagalan dalam kehidupan. Oleh karenanya, penting bagi pelajar untuk memperbaharui niat awal kedatangannya ke Mesir, yaitu menuntut ilmu.

Usaha lain seperti mengingat bahwa ada amanah besar yang dititipkan orang tua saat kita meninggalkan bumi pertiwi. Sebuah harapan besar agar sekembalinya dari sini ( read : Mesir ), ada buah manis yang bisa dipetik.

Kedua       : Belajar mengatur waktu
Hal yang sering kali menjadi penghambat kesuksesan adalah ketidakpiawaian dalam mengatur waktu seperti kapan harus belajar, kapan berogranisasi, kapan waktu santai dengan teman dan kapan harus beristirahat. Tanpa kita sadari, organisasi adalah wadah untuk melatih kita dalam hal tersebut. Yang perlu diingat adalah organisasi sejatinya bukan penghambat dalam belajar, ia merupakan sebuah kendaraan mencapai kesuksesan yang lebih besar di masa akan datang, dengan syarat yaitu mampu mengatur waktu.

Ketiga       : Biasakan menghadiri kelas
Sebagian besar orang beranggapan bahwa kuliah bukanlah hal yang penting. Asal bisa mengikuti ujian, bimbingan belajar bersama sesama pelajar, lulus, selesai. Dibalik itu semua, masih banyak yang tidak menyadari bahwa menghadiri kelas di kampus adalah salah satu kunci kelulusan. Bahkan penulis berani katakan 50% faktor meraih mumtaz ditentukan dengannya. Namun semuanya butuh pembiasaan karena aktifitas yang senantiasa dilakukan akan menjadi sebuah rutinitas. Oleh karenanya, meski absen dari kelas tidak akan menganggu status sebagai pelajar resmi di al-Azhar, membiasakan hadir dan bertatap muka dengan para dosen di kampus akan menambah keberkahan dalam perjalanan menuntut ilmu di perantauan ini.

Keempat     : Sadar prioritas
Dalam perjalanannya, tentu akan banyak ditemukan hambatan serta rintangan semisal saat kebutuhan organisasi terbentur dengan waktu kuliah, aktifitas organisasi yang menjamur sehingga menyita jatah waktu belajar dan lain sebagainya. Penting kiranya agar pelajar menyadari mana prioritas utama selama keberadaannya di Mesir. Meski menurut hemat penulis, menuntut ilmu tetap merupakan sebuah prioritas dibanding berorganisasi, dengan tetap meyakini bahwa dengan berorganisasi pelajar akan semakin dapat  memperkaya pengalaman, menempa diri, membentuk karakter dan menguasai skill komunikasi yang baik agar dapat menyampaikan ilmu yang dimiliki dengan cara yang baik pula.

4 hal diatas hanyalah beberapa contoh yang patut diperhatikan oleh para perantau di Negara serba cokelat ini untuk menyeimbangkan kebutuhan belajar dan beroganisasi. Oleh karenanya, belajar dari sejarah dan manajemen kehidupan yang baik akan membantu kita untuk semakin memahami bagaimana cara agar dapat duduk sejajar saat belajar dan berdiri sama tinggi saat berorganisasi.

 “Sesungguhnya keberkahan itu berserakan di Mesir. Kalian yang menentukan, akankah pergi mencari atau hanya berdiam diri.” –penulis-

Cat : artikel ini dibuat untuk modul ormaba PPMI 2016


[1] Majalah pertama yang dibuat oleh para pelajar Indonesia di Mesir bernama Seruan Azhar. Majalah tersebut terbit pertama kali pada bulan Oktober 1925 dengan Raden Fathurraman sebagai direktur. 

Sunday, 18 September 2016

Mari, memanusiakan rasa malas!

Ada beda pada kata malas dan tidak suka. Ketiadaan dua rasa ini dalam kehidupan manusia ibarat sebuah kenistaan. Manusiawi jika saya mengatakan, kita terlahir bersama dua rasa ini. Tentu saja masih banyak rasa lain, seperti rasa manis semburat pelangi usai hujan guntur menyapa langit. Namun kita hanya akan berbincang soal malas dan tidak suka. Dua rasa yang kerap  melanda manusia. Setiap hari. Di seluruh dunia.

Pernah saya ditanya seorang junior, “Bagaimana cara kakak mengatasi rasa malas?”

Untuk sejenak saya mencoba mencerna pertanyaan yang cukup menohok itu. Bagi saya, untuk menjawab pertanyaan tersebut saya butuh menelaah sebuah pertanyaan baru,

“Benarkah saya sudah berhasil menaklukkan malas?”

Namun nampaknya, sang junior menganggap saya sudah berhasil. Lalu saya mencoba memberi jawaban dengan menjelaskan peran malas dalam kehidupan saya.


Seperti yang saya sebutkan di awal. Rasa malas lahir bersama tangisan pertama seorang bayi ke dunia. Namun ia masih terasa samar. Seperti tepung tercampur air, masih bisa kita bentuk besar, kecil, atau malah belum terasa sama sekali. Dalam kehidupan saya, malas saya anggap seperti iman seseorang. Naik turun. Pasang surut. Kadang saya malas dan kadang saya rajin. 

Segala usaha tentu dikerahkan agar bisa kembali memenjarakan rasa malas ini. Dengan mengingat peran orang tua, keluarga, amanah dan tanggung jawab yang dititipkan oleh warga kampung bahkan tidak jarang untuk benar-benar memenjarakannya, butuh yang namanya hijrah (mengungsi ke rumah teman terdekat agar tertular semangat dan rajinnya)

Sekali lagi saya katakan, malas itu manusiawi. Saya memiliki satu prinsip kuat yang saya tanamkan dalam benak saat harus beradu batin dengan malas. 

"Malas itu boleh, asal jangan malas-malasan!"
Artinya? ya, sesekali kita boleh lah memanjakan malas. Beristirahat dari segala aktifitas monoton setiap harinya. Bersantai sejenak. Mengambang bersama ketidakjelasan. Lagi lagi yang perlu diingat adalah, jangan malas-malasan!

Malas adalah suatu sifat alami yang kadang terjadi dalam diri seseorang. Sedang malas-malasan adalah suatu sifat yang dimanjakan, dibiasakan. dilakukan berulang kali dalam rentang waktu yang lama sehingga menjadikannya sebuah kebiasaan. Coba saja tanamkah hal ini dalam benak kita. Setiap kali malas menyapa, sambutlah! Asal jangan malas-malasan! Mungkin ini akan menjadi salah satu cara memanusiakan rasa malas. 



Tuesday, 26 January 2016

Imtihan Azhar Usai, Liburan? Mau Ngapain?

look at this crazy picture. XD
Ujian di Azhar punya keunikan sendiri. Belajarnya mati-matian, ibadah ditingkatkan gak ketulungan, doa-doa dilangitkan, kalau sudah masuk masa ujian tidak sedikit yang tiba-tiba menghilang dari peredaran dunia maya. Jadi gak heran, perasaan bahagia narapidana yang baru bebas setelah puluhan tahun di penjara masih kalah bahagia sama perasaan para Azhary yang baru usai ujian. 

Cat : Mari sama-sama berdoa semoga Masisir semua diberi kenajahan dengan nilai yang memuaskan. Amin ya rabbal 'alamin

Nah biasanya, setiap orang punya kebiasaan tersendiri dalam menghabiskan masa liburan pasca ujian. Nonton, baca novel, silaturahmi ke rumah teman, atau travelling. Semua itu demi mewujudkan satu kata, 'refreshing' alias penyegaran otak yang sekian lama terpaku dengan huruf-huruf gundul dan dipaksa bekerja lebih banyak dari sebelumnya. 

Actually, Gaes! yang tau hal apa yang bisa menyegarkan otak adalah kita sendiri. Ada yang biasa menghilangkan suntuk dengan main game, ada yang nonton, shopping atau jalan ke mall ( meski gak beli apa-apa), nongkrong barang teman-teman, nonton movie, baca buku, dan lain-lain. 

Meski banyak yang memilih untuk travelling ke tempat-tempat wisata atau tempat bersejarah di Mesir, misal mendaki bukit Sinai sambil menanti salju musim dingin, ke pantai hurgada (liat lautnya aja, jangan nyebur kalau gak mau beku di air!), ke Luxor, Siwa, Alexandria, de el el yang katanya bisa menyegarkan jiwa dan pikiran selepas ujian, saya pribadi sih lebih memilih tidak memilih semua pilihan itu. -_-
 Refresh atau penyegaran otak tidak melulu harus jalan-jalan kan? Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat tubuh dan pikiran kita relax dan gratis. contohnya?

 Contoh membaca.
Buku bacaan itu wisata paling luas dan gratis di seluruh dunia, loh! Dengan buku bacaan kita bisa menjelajahi dunia tanpa harus buang tenaga dan materi, Tentu saja jangan pilih buku bacaan yang memberatkan kerja otak. Pilih yang ringan-ringan saja, atau baca novel sarat pengetahuan seperti novel yang kini sedang antri jadi bahan bacaan yaitu Ayat-Ayat Cinta 2 karya senior kita Kang Abik. 

Contoh lain? Hmm, kalau saya sih, Gaes..
Penyegaran otak itu cukup sehari saja, dengan memperbanyak tidur, makan dan nonton. :v
Then, esok harinya sudah kembali ke dunia nyata. Kembali ke rutinitas sebelum ujian.

Entah kenapa, komputer, tumpukan kertas di meja, dan jendela berlubang di ruangan persegi -tempat saya bekerja- adalah hiburan tersendiri bagi saya. Hal itu lebih menghibur daripada percapakan me****h yang kerap menghantui! -_-. 

Well, intinya semua itu kembali ke diri kita. Kita tau apa yang baik untuk dilakukan, apa yang baik dikerjakan dan apa yang baik dijalani untuk menghabiskan masa liburan. Bukan yang paling tau loh, karena yang paling tau kebaikan untuk kita adalah Allah Swt :)

Lagi, kita tau di Masisir ini ada puluhan kegiatan yang sudah menanti dikerjakan. Pastinya diantara kamu dan kamu-kamu semua sudah punya segudang kegiatan nangkring di kalender harian. Jadi, bagi yang belum punya saldo yang cukup untuk travelling atau tur wisata, selamat kembali ke rutinitas semula seperti saya! :D 
Tapi bagi yang sudah punya agenda tur , rihlah, jalan-jalan ke tempat-tempat bersejarah di Mesir, Selamat berlibur! Semoga kembali dengan pikiran yang fresh dan siap menghadapi ujian selanjutnya. :)

Itu cara saya menghabiskan liburan, kalau kamu?

Tuesday, 12 January 2016

Tarzan versi arab, kisah Hayy bin Yaqdzan karya Ibn Thufail

Membaca kisah Hayy bin Yaqdzan karya Ibn Thufail jadi teringat Tarzan Betawi yang sering saya tonton waktu kecil dulu.

Kisah tentang tumbuh kembang seorang anak laki-laki dibawah asuhan hewan liar di hutan ( dalam bukunya Ibn Thufail disebutkan seorang rusa )
*kisah ini juga fiktif belaka, so jangan mempertanyakan hutan arab mana yg Hayy tempati. :)

Seorang anak manusia yang mencari tahu tentang dunia tanpa arahan manusia lain. Memperhatikan, mengamati, dan membuat kesimpulan pribadi terhadap apa yang dia lihat dari hewan, tumbuhan, alam sekitar dan dirinya sendiri.

Terlebih saat induk asuhnya -sang rusa- mati tak bergerak. Rasa ingin tahunya bergejolak. Mengapa induknya diam tak bergerak? Lalu dia teringat saat dia pernah melukai hewan liar lainnya sampai mati. Apakah tubuh induknya terluka? Apakah ada 'sesuatu' yang masuk dan merusak tubuh induknya sehingga dia tak bergerak? Jika 'sesuatu' itu dia ambil, bisakah induknya kembali sedia kala?

Pertanyaan terus bermunculan sampai akhirnya mengantarkannya pada pencarian Tuhan. Bahwa ada sesuatu Maha Besar yang menggerakkan alam ini, menghidupkan dan mematikan, dsb.

Buku ini mengantarkan kita pada perjalanan sufi dengan polesan kisah yang menarik. Direkomendasikan untuk dibaca.

Ohya, bedanya dengan Tarzan Betawi, Hayy bin Yaqdzan tidak punya kekuatan super dan tidak berbicara dengan bahasa "Auuwoo" :D


*Barusaja kembali dari ujian dengan salah satu soalnya tentang kisah ini. :)

Friday, 8 January 2016

3 Hal yang tidak boleh kamu lupa selama ujian di Univ. Azhar Cairo

Seorang teman pernah bertanya, "Jika kamu selalu menjadi yang terakhir ketika keluar ruangan ujian, lalu apa yang kamu lakukan selama 2 jam (tahun sebelumnya masih berlaku durasi ujian selama 3 jam) disana?"

Sebelumnya perlu diketahui, tulisan ini mungkin saja hanya bisa dimengerti oleh mereka yang pernah atau masih sedang meniti pendidikannya di salah satu Universitas Islam tertua di dunia ini, yaitu Al Azhar Cairo. Bagi yang belum pernah merasakan hawa 'karantina' dan 'kursi panas' ujian di Azhar, barangkali ini bisa menjadi gambaran umum, bahwa ujian di Al Azhar benar-benar Subhanallah! Penuh hawa mistis, yang mana IQ manusia bukan menjadi faktor utama kelulusan, tapi kelulusan sangat bergantung pada usaha, doa dan juga ibadah.
Jadi tak heran, sebulan menjelang ujian, para thullab ( pelajar ) Azhar merayakan 'lebaran ujian' dengan saling berma'afan dan meningkatkan ibadah mereka. Jurus terakhir yang mereka keluarkan setelah berakhir masa ujian adalah dengan berbondong-bondong update status di medsos dan melangitkan satu kata ajaib, yaitu TAWAKKAL. 

Kembali pada pertanyaan di atas, tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan tersebut dari sudut pandang penulis. Sangat memungkinkan akan berbeda dengan apa yang dilakukan teman-teman yang lain saat menghabiskan durasi waktu ujian. So, bagi kamu yang biasa menggunakan setengah jatah durasi ujian yang diberi, ada 3 hal yang tidak boleh kamu lupa dan bisa kamu lakukan untuk memaksimalkan jawaban ujianmu. 


  1. Jangan lupa membawa jam tangan/jam weker. 
Sebelum masuk kelas, jangan lupa untuk membawa jam tangan kesayangan atau jam weker ke dalam ruangan ujian. Wah, untuk apa? Yang jelas bukan untuk jualan jam atau pindah lapak tidur terus masang jam weker di sana. :v
Jam yang biasa menemani ujian saya :D
Yup, jam tersebut untuk mengatur alokasi kamu dalam menjawab soal. Berapa banyak soal yang diberi akan berbeda di setiap diktat kuliah. Kamu  bisa mengenalinya dari penjelasan dosen atau mempelajarinya dari contoh soal tahun-tahun sebelumnya. Hmm, contohnya?

Misal kamu diberi 2 soal induk (biasanya soal Al Azhar beranak cucu :D ) , dari induk tersebut lahir masing-masingnya 3 soal (keseluruhan ada 6 soal). Setiap soal kamu beri jatah 15 menit menjawab, atau 20 menit bagi soal yang kamu kira butuh jawaban lebih banyak. Dari 6 soal, kamu akan menghabiskan sekitar 90-100 menit, atau sejam 40 menit. 
Nah, sisa waktu kurang lebih 20 menit bisa kamu gunakan untuk mengoreksi dan merapikan lembar jawaban kamu. 

Perlu diingat, alokasi waktu untuk tiap diktat berbeda tergantung tingkat kemudahan dan kesulitannya. So, silahkan alokasikan sendiri ya! ( Terkadang di beberapa diktat, saya menghabiskan dua jam full tanpa ada jatah mengoreksi kembali. Bahkan pernah sampai kehabisan waktu saking sulitnya! XD )

    2.  Jangan lupa membawa alat tulis yang lengkap.

Lengkap? Emang apa aja yang kita butuhkan untuk ujian? 
Kalau saya, biasanya saya bawa pena biru, hitam dan merah, penggaris, dan tip x. Mungkin pada heran 3 buah pena yang berbeda itu untuk apa?  :v
Hmm well, saya akan bantu menjelaskan kegunaan masing-masing alat tulis ini secara lebih terperinci. 8)

Penggaris : Penggaris sangat penting dibawa ketika ujian, Gaes! Jangan sampai ujian kamu, kamu malah sibuk mencari pinjaman penggaris ke orang lain karena akan sangat mengganggu konsentrasi sekitar. Penggaris ini digunakan untuk membuat garis tepi di lembar ujian kamu. Biar terlihat lebih rapi. Ukuran lebar garis tepinya sesuai selera aja ya, asal jangan sampai lebar kedua garis tepi lebih besar daripada jatah untuk jawabannya! :v

Pena Biru ; pena biru biasanya dipakai untuk menulis jawaban ujiannya. Konon, katanya Al Azhar lebih suka jawaban dengan pena biru. Wallahu'alam benar tidaknya, yang jelas selama 4 tahun ujian saya selalu pakai pena biru. :D

Pena Hitam : Bingung ya? sudah ada pena biru trus yang hitam untuk apa? XD 
Yup, pena hitam saya gunakan untuk menggaris bawahi poin-poin penting di lembar jawaban. Contoh ; biasanya ada soal 'sebutkan dan jelaskan', Nah, poin-poin inti yang disebutkan digaris bawahi dengan pena hitam. Untuk penjelasannya, biarkan saja apa adanya. :D
Termasuk juga menggaris bawahi kalimat pembuka ( jangan lupa untuk selalu menyertakan kalimat pembuka berupa basmallah, tahmid, shalawat dan doa ringkas sebelum menjawab soal ). 
Dan kegunaan terakhir adalah untuk menulis keterangan jawaban, Cth ; الإجابة الأولى ( al ijabah al ula ) atau 'Jawaban Pertama' dan seterusnya bisa pakai pena hitam dan di garis bawahi. Ini bisa membantu pengoreksi ujian kita agar lebih mudah membaca jawaban kita. 

Pena Merah ; Jangan pernah menjawab soal ujian dengan pena merah ya, sangat tidak sopan. Bisa jadi malah tidak  mendapat nilai sama sekali. XD
Pena merah memikili kegunaan khusus yang jarang digunakan orang lain saat ujian. Nah, kegunaan pena merah adalah untuk memberi harakat setiap dalil yang kamu sertakan, baik dalil Al Qur'an ataupun Hadits. Sesederhana itu? Yup. Cukup sederhana tapi akan terlihat sangat rapi dilembar jawaban kamu. 
Al Azhar sangat menghargai jawaban yang menyertakan banyak dalil penunjangnya, biasanya itu bisa menambah poin nilai kita. Nah, ketika dalilnya kita beri harakat dengan pena merah, akan memudahkan pengoreksi untuk menemukan dalil mana saja yang kita ajukan. Setiap dalil juga bisa digaris bawahi dengan pena hitam untuk lebih menekankan lagi. Nah, nambah lagi kan kegunaan pena hitam untuk memperindah lembar jawabanmu? :D
Cat : jangan lupa pena merah untuk harakat saja. atau bisa pakai pena hitam juga kalau kebetulan tidak bawa pena merah. 

Tip x ; yang terakhir tip x atau apa deh istilah bakunya? :D whatever istilahnya itu, kegunaannya sudah jelas untuk menghapus kalimat yang salah di lembar jawaban kamu. 

Well. dari semua kegunaan alat tulis ini bisa membantu kamu untuk memaksimalkan durasi waktu ujian yang disediakan. Contoh membuat garis tepi bisa kamu lakukan di menit pertama, dan menggaris bawahi inti jawaban, keterangan jawaban, dan memberi harakat dalil bisa kamu lakukan di menit terakhir. 
Yang paling penting, alokasi waktu kamu jelas, dan jangan tergesa-gesa. :)
Kalau memang waktu habis sebelum memberi garis atau mengharakati, keluarkan saja jurus terakhir ya, yaitu TAWAKKAL! XD

    3. Jangan lupa untuk membuat mindset 'Lebih baik menghabiskan 2 jam penuh, daripada mengulang setahun'.

Taukah Anda? yang mempengaruhi sebagian tindakan kita adalah mindset kita dalam memandang sesuatu. Untuk kasus ujian ini, bagaimana kita memandang jatah durasi ujian yang telah diberi. Apakah akan kita gunakan ala kadarnya, ataukah kita maksimalkan sebaik mungkin?
2 jam durasi ujian mungkin akan menjadi waktu yang sangat singkat bagi sebagian orang dan sangat panjang bagi yang lain. Bagi kamu yang merasa bingung menghabiskan 2 jam durasi ujian ( biasanya sejam pertama sudah selesai menjawab semua soal ) ingatlah, jangan tergesa-gesa! Karena kamu hanya memiliki jatah 2 jam ujian sekali seumur hidup di tahun, bulan, tanggal, jam dan menit tersebut.
So, manfaatkan baik-baik. Kamu bisa memanfaatkan dengan mengatur alokasi waktu sebaik mungkin atau dengan merapikan lembar jawaban kamu seperti yang sudah kita jabarkan di poin pertama dan kedua. 

Dari 3 poin diatas, sudah kebayangkan bagaimana saya menghabiskan waktu ujian dan selalu menjadi yang terakhir keluar ruangan? XD
Cara ini bisa kamu terapkan untuk ujianmu nanti, atau kalau kamu merasa kurang sreg  bisa kamu kembangkan sesukamu. Alhamdulillah, cara diatas saya terapkan selama kurang lebih 5x ujian di Azhar ( dari tingkat 2 akhir sampai lulus ) dan nilai saya lumayan baik. :D
Jangan dikira yang keluar terakhir adalah mereka yang kalah, terkadang yang terakhir itu justru yang menjadi pemenang. 8)
Yang paling penting adalah, usaha, doa, dan tawakkal. Karena kesuksesan bukan untuk mereka yang memiliki IQ dan IPK yang tinggi. Tapi bagi mereka yang bisa memaksimalkan usaha dan kemampuannya sebaik mungkin, lalu melangitkan doa setinggi-tingginya! :)

Ma'an najah ya! Mohon maaf jika da kata yang salah. Semoga kita semua diberi kenajahan yang memuaskan! Amin
see you!

*Penulis adalah mahasiswi Al Azhar jurusan Ushuluddin fakultas Hadits yang sekarang juga sedang menempuh ujian pascasarjana di univ lain, mohon doanya ya! :)

Thursday, 26 November 2015

Baik boleh, tapi jangan terlalu baik!


Gaes, sebelumnya selamat malam dulu, lah! 
Long time no tulis curhat di sini. Entah karena kegiatan yang seabrek, atau fasilitas yang tidak memadai. Semenjak dipinjamkan si layar lebar ini, jadi nulis di sini lagi, deh! Well, 

Saya paham, Gaes! kehidupan ini terlalu singkat untuk digunakan saling menyalahkan. Manusia gak ada yang sempurna. Gak yang yang paling benar. Yang paling dan Maha Benar hanya Allah saja, kita? mending banyakin istighfar dulu aja! ya toh?

Kalau saya sih, entah mengapa kata sahabat saya , saya orangnya suka menyalahkan diri sendiri. Saat merengungi masalah, selalu saja yang keluar 'Iya, saya kok yang salah." Karena saya selalu merasa, kesalahan yang saya munculkan dari sikap saya lebih banyak daripada pihak lawan. Akhirnya sering muncul pikiran "Coba saya gak gini, pasti gak gitu!". "Coba saya tadi kaya gitu aja, pasti gak gini jadinya". "Ya, salah saya sih pake giti segala, jadinya gutu semua!" Darimanapun datangnya masalah, pikiran saya selalu begitu. Pokoknya rempong banget jalan pikir saya kalau lagi dalam keadaan begini, Gaes!

Malam ini saya baper sekali, Gaes! Kesal bercampur greget sama orang. Sebut aja dia D. Dia orang yang lagi dekat sama sahabat saya. Suatu hari saya berniat membantu si D untuk melancarkan urusannya di tempat saya bekerja. Karena saya agak kenal dengan atasan saya, saya mengendus aroma urusan dia akan berakhir gagal. Well, saya beri tahu dia sebuah informasi yang waktu itu belum banyak yang tau -bukan berarti rahasia juga- tentang posisi atasan saya di kantor. 
Alih-alih dapat tanggapan yang baik, omongan saya tak diindahkannya, Gaes! Dia percaya dengan apa yang dia yakini, bahwa urusannya akan baik-baik saja. 

Oke, saya biarkan saja. Waktu terus berjalan, saya tetap merasa urusannya akan berakhir gagal, Gaes! Akhirnya saya coba menghubungi salah satu atasan -bukan atasan paling atas- dan menanyakannya, well bener, Gaes! jawaban atasan saya yang satu ini mengamini feeling indra keenam saya! Urusan dia gak nemu ujungnya! Ngawang di langit gak sampe alamat tujuan!

Sebagai seorang yang mengenal dia dari sahabat saya, entah kenapa hati baik saya sedang berkuasa saat itu untuk membantu dia. Tapi saya gak tau gimana cara bantunya. Sedang saya gak tau masalahnya gimana. Setelah saya jelaskan -dengan bahasa saya yang, yaa begitulah!" masalah lain muncul, Gaes! Urusan mereka benar-benar di ujung langit! Jauuh dari kata lancar. Persis seperti yang saya prediksikan. Tapi inti masalahnya buat saya bukan itu, tapi sikap si D yang menyalahkan saya!

Oh God! saya benar-benar shock saat mereka semua nyalahkan saya, Gaes! Malah saya dibilang nyalahin mereka. hmm.. nyalahin dari sisi mana? 

Saya jadi mikir, Gaes! Saya kan gak mungkin menyalahkan kebaikan hati saya. Ia suci, Gaes! Udah fitrah manusia itu baik. Tapi mungkinkah salah tempat? Harusnya saya gak usah bantuin. Gak usah ngasih informasi. Gak usah ikut campur. Meski punya feeling urusannya bakal kacau, yaudah biarkan saja. Toh, urusannya kan? Jadi kebaikan hati saya saat itu, saya tempatkan di akhir cerita saja. Saat mereka marah dan putus asa, saya berbaik hati bilang "Yang sabar ya, Mas!"

Tapi ya sudahlah! Sudah mainstream bilang 'nasi sudah menjadi bubur' meskipun nasi juga bisa jadi nasi goreng. Saya cuma bisa bilang 'air sudah menjadi susu'. Biarlah mereka kesal ke saya, benci, dan menyalahkan saya. Allah tahu apa yang saya maksud. 

Lagi-lagi saya begini, Gaes! Meski saya kesal, saya gak benar-benar bisa menyalahkan si D. Kita anggap saja ini salah saya. Salah menempatkan kebaikan. Ada banyak pelajaran yang saya dapat dari kejadian ini. Salah satunya; 
"Birokrasi negara gak bisa pake hati polos dan gak tegaan sama orang"
Well, honestly kejadian ini benar-benar membekas di hati, Gaes! Malam saat si D bilang kalau dia dan teman-temannya merasa dipermainkan atasan saya, lalu mulai menyeloteh banyak hal, kasar, dan menyalahkan saya yang katanya menyalahkan mereka, saya nangis, Gaes! Saya benar-benar sedih dan miris. Saya merasa, mereka memvonis saya yang jauh dari apa yang saya niatkan dari awal, membantu saja. Saya gak punya kepentingan terselubung di dalamnya. Tapi saya juga bersyukur, dan berterimakasih pada si D. Berkat dia, saya bisa belajar lebih hati-hati menempatkan kebaikan. Jangan sampai hati suci saya ini, menangis lagi karena salah tempat, hiks!

Eh, tapi kadang saya juga mikir setelah malam dia ngomel panjang lebar. Coba seandainya saya gak masuk urusan mereka, gak bantu apa-apa, dan urusan mereka berantakan begini, kira-kira si D meluapkan rasa marahnya ke siapa ya? XD wkwkwk
Mungkin saat itu, saya sedang sial!






Tuesday, 24 November 2015

Menjaga Rahasia Rumah Tangga dan Memelihara Rasa Malu

Menjaga Rahasia Rumah Tangga dan Memelihara Rasa Malu


Sudah menjadi fitrah manusia memiliki sesuatu yang baik dan buruk. ada yang ingin diperlihatkan, ada yang ingin disembunyikan. Seperti halnya berpakaian, di beberapa bagian tak mengapa jika ia dilihat oleh orang lain, tapi bagian tertentu ia tak boleh sekalipun nampak di mata. Sebab jika terjadi, ia sama saja telah menampakkan aibnya sendiri.

Allah Swt menciptakan aib bagi hambanya bukan untuk menurunkan derajat hambanya, melainkan untuk mengajarkan kepada manusia bahwa mereka tidak lepas dari khilaf dan salah. Agar mereka dapat memetik pelajaran dari hal memalukan yang pernah mereka alami. Dengan aib tersebut, mereka akan memiliki rasa malu terhadap Allah Swt dan sesamanya. Disamping itu, Allah Swt memerintahkan agar umat islam menjaga aibnya, bukan malah menyebarkannya.

Begitupula dalam kehidupan berumah tangga. Allah Swt mengajarkan kepada sepasang suami istri agar bisa menjaga aib keluarga dari orang lain. Seperti keburukan yang dimiliki pasangan, atau cacat fisik yang dimiliki salah satunya. Selain itu, sepasang suami istri juga memiliki privasi yang harus mereka jaga bersama, saling menjaga ibarat satu tubuh yang dikendalikan bersama, jika membuka aib salah satunya, sama saja membuka aibnya sendiri.

Lalu bagaimana jika menceritakan hubungan suami istri ( bersetubuh ) kepada orang lain?

Agama islam melarang keras menceritakan hubungan terhadap orang lain. jangankan khalayak umum, islam mengajarkan agar orang tua agar menjaga privasi di hadapan anak-anaknya. Dijelaskan dalam surat An-Nuur : 58 tentang 3 waktu para budak dan anak-anak   harus meminta izin mengetuk pintu kamar suami istri jika ingin masuk. Allah berfirman :

58. Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) Yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu[1047]. tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu[1048]. mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Jika di dalam rumah saja, Allah Swt memerintahkan untuk menjaga aurat dan aib suami istri, bagaimana dengan menceritakan hubungan suami istri di kantor, kampus, atau bahkan di social media?

Rasulullah Saw bersabda :
إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِى إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِى إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا
“Sesungguhnya manusia paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang berhubungan dengan istrinya dan istrinya pun berhubungan dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasianya” (HR. Muslim)
Rasulullah Saw menjelaskan bahwa barangsiapa yang menyebarkan hubungan suami istri kepada orang lain, mereka akan mendapatkan kedudukan paling buruk di sisi Allah Swt, yang berarti mereka sengaja menjauhkan diri dari rahmat Allah Swt di hari kiamat kelak sedang adzab di hari kiamat itu sangat pedih.
Mari kita simak, kisah percakapan Rasulullah Saw dengan para sahabatnya. Rasulullah pernah selepas shalat menghadapakan wajah beliau kepada jamaah kemudian bersabda:
مَجَالِسَكُمْ هَلْ مِنْكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ أَغْلَقَ بَابَهُ وَأَرْخَى سِتْرَهُ ثُمَّ يَخْرُجُ فَيُحَدِّثُ فَيَقُولُ فَعَلْتُ بِأَهْلِى كَذَا وَفَعَلْتُ بِأَهْلِى كَذَا
“Duduklah! Apakah seseorang di antara kalian jika menjima’ istrinya di dalam kamar tertutup lalu setelah itu ia keluar dan menceritakannya kepada orang lain ‘aku telah berbuat begini dengan istriku, aku telah berbuat begitu dengan istriku”
Semua sahabat diam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan wajahnya pada jamaah wanita lalu melanjutkan sabdanya:
هَلْ مِنْكُنَّ مَنْ تُحَدِّثُ
“Adakah salah seorang di antara kalian bercerita begitu?”
Seorang anak gadis Ka’ab bangkit berdiri dan menoleh ke sana kemari agar Rasulullah dapat melihat dan mendengarnya. Ia pun lantas mengatakan, “Demi Allah, sesungguhnya wanita pun biasa bercerita begitu”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
هَلْ تَدْرُونَ مَا مَثَلُ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ إِنَّ مَثَلَ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ مَثَلُ شَيْطَانٍ وَشَيْطَانَةٍ لَقِىَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهِ بِالسِّكَّةِ قَضَى حَاجَتَهُ مِنْهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ

“Apakah kalian tahu bagaimana perumpamaan orang yang berbuat demikian? Sesungguhnya orang yang berbuat demikian seperti setan jantan dan setan betina. Setan itu menjima’ betinanya sambil disaksikan banyak orang di tempat terbuka.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Ketahuilah, salah satu perumpamaan paling  buruk adalah disamakan dengan para musuh Allah Swt yaitu para Iblis dan Syaitan yang telah dilaknat oleh Allah Swt dan diharamkan bagi mereka menyentuh surga. Rasulullah Saw juga menyebutkan dalam sabdanya, bahwa sikap terang-terang atau tidak merasa malu ketika menceritakan sebuah keburukan dan aib adalah suatu keburukan yang mendapat balasan neraka.

Dari Abi Hurairah; dari Rasulullah Saw beliau bersabda : Malu adalah bagian dari Iman dan Iman berada dalam surga. Sikap terang-terangan (dalam perbuatan maksiat dan tidak memiliki rasa malu) adalah keburukan, dan keburukan berada di Neraka.” ( HR. at Tirmidzi)

Bagaimana mungkin seseorang mau kehilangan rasa malunya menceritakan rahasia hubungan suami istrinya bersama para rekannya di kantor, atau di kampus, atau di social media yang bisa dibaca semua orang hanya untuk hiburan atau bahan cadaan, sedang rasa malu yang dia miliki adalah wibawanya di hadapan yang lain. Seringkali umat manusia telah kehilangan satu sifat berharga yang Allah Swt ciptakan untuk menghiasi kehidupan, yaitu rasa  malu. Naudzubillahi min dzalik!  

Menilisik kata malu lebih dalam, ada 6 hikmah rasa malu dalam kehidupan sehari-hari :

Pertama : Malu adalah sebagian dari iman.
Rasulullah Saw berulang kali mengingatkan agar para sahabatnya menjaga rasa malu mereka. diantaranya beliau bersabda :

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِى الْحَيَاءِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الإِيمَانِ
Dari Salim bin Abdullah dari ayahnya ia berkata; “Rasulullah Saw lewat di hadapan seorang Ansar sedang mencela saudaranya karena saudaranya pemalu. Maka Rasulullah Saw bersabda “Biarkan dia! Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.” (HR; Imam Bukhari )
Dalam riwayat lain Rasulullah Saw bersabda :
"إِنَّ الْحَيَاءَ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ"
Yang artinya :“Sesungguhnya malu adalah cabang dari iman.”

Kedua : Malu adalah kebaikan dan wibawa.
Dikutip dari kitab Mukhtasharah Shahih Imam Bukhari :
عَنْ أَبي السَّوَّارِ العَدَويِّ قالَ: سَمِعْتُ عِمْرانَ بْنَ حُصَيْنٍ قالَ: قالَ النبيُّ - صلى الله عليه وسلم -:
"الحَيَاءُ لا يأْتي إِلا بِخَيْرٍ"، فَقَالَ بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ: مَكْتُوبٌ في الحِكْمَةِ: إِنَّ مِنَ الحَيَاءِ وَقَاراً، وَإنَّ مِنَ الحَيَاءِ سَكِينَةً، فَقالَ لَهُ عِمْرانُ: أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسولِ اللهِ - صلى الله عليه وسلم -، وَتُحَدِّثُني عَنْ صَحِيفَتِكَ؟! مختصرة صحيح الامام البخاري 2364- 4/86
Dari Abi as Sawwar al ‘Adawi berkata, aku telah mendengar Imran bin Hushain r.a berkata : “Nabi Muhammad Saw bersabda ‘Malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan’. Lalu Busyair bin Ka’ab berkata: ‘Tertulis dalam berkataan bijak; sesungguhnya sebagian dari malu itu adalah kewibaan dan sesungguhnya sebagian dari malu adalah ketenangan’. Imran bin Hushain menanggapinya; ‘Aku meriwayatkan kepadamu hadits dari Rasulullah Saw malah kamu meriwayatkan dari lembaran-lembaranmu.”

Ketiga : Malu adalah akhlak seorang muslim.

Rasulullah Saw bersabda :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: "إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا، وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ"
Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak dan akhlak agama Islam adalah rasa malu”. ( Sunan Ibnu Majah)

Keempat : Malu dan Iman tidak dapat dipisahkan.

Rasulullah Saw bersabda :
عن ابن عمر قال: قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « إنَّ الْحَيَاءَ وَالإِيمَانَ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ»

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya sifat malu dan iman bergandengan selalu, jika diangkat salah satunya, maka niscaya diangkat yang lain.” HR. Al Hakim dan Bukhari dalam kitab Al Adab Al Mufrad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab shahih Al Adab Al Mufrad, 1313/991.

Kelima : Malu adalah perisai dari keburukan

Sifat malu akan menjaga seseorang dari berbuat perbuatan keji, berbuat maksiat, dan mengumbar aib di hadapan orang lain. Rasulullah Saw bersabda :
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا كَانَ الْفُحْشُ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ شَانَهُ وَلاَ كَانَ الْحَيَاءُ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ ».
Dari Anas bin Malik R.a meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda “Tidaklah pernah perbuatan keji/kotor ada pada sesuatu kecuali akan memburukkannya dan tidaklah pernah sifat malu ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya.”

Keenam : Malu mengantarkan pada Surga-Nya

Dikutip dari kitab ‘Mawarid adz Dzam’aan ila Rawaid Ibn Hibban  nomor 1929 juz 6 hal 207

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم-قَالَ: "الْحَيَاءُ مِنَ الإِيمَانِ، وَالإيمَانُ فِي الْجَنَّةِ. وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ، وَالْجَفَاءُ فِي 
النَّارِ"
Dari Abi Hurairah; dari Rasulullah Saw beliau bersabda : Malu adalah bagian dari Iman dan Iman berada dalam surga. Sikap terang-terangan (dalam perbuatan maksiat dan tidak memiliki rasa malu) adalah keburukan, dan keburukan berada di Neraka.” ( HR. at Tirmidzi)

Allah Swt berfirman  dalam surah An-Nuur : 19

19. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui."

Menjaga aib pasangan dihadapan orang lain adalah suatu kewajiban. Jima’ atau hubungan suami istri merupakan aurat bagi pasangan yang sudah menikah. Menceritakan apa yang telah ia lakukan selama berhubungan dengan pasangannya adalah perbuatan yang keji dan sia-sia. Semoga Allah Swt senantiasa menghiasi hari-hari kita dengan amalan yang bermanfaat dan menjauhkan kita dari kesia-siaan. Amin ya rabbal ‘alamin.


 Wallahu a'lam bi ash-shawab