Pages

Showing posts with label Curcol. Show all posts
Showing posts with label Curcol. Show all posts

Tuesday, 9 May 2017

Welcome back!

Bagaimana jika semua kejadian yang kita alami, kita tulis lalu kemudian dihapus dan ditulis kembali beberapa tahun kemudian?

Tentu rasanya akan berbeda. Tidak hanya terjadi perubahan penuturan bahasa, namun sudut pandang dan emosi yang ingin disampaikan pun terasa lain.

Baru baru ini banyak diantara teman teman saya yang menyayangkan keputusan saya untuk menghapus seluruh foto yang pernah saya unduh di akun instagram saya. Memang sekilas akan nampak eman. Dibalik itu, ada hal lain yang menjadi pertimbangan saya saat saya secara sengaja menghapus semuanya.

Seperti kita mencoba hadir kembali ke masa lalu. Melihat kembali foto yang pernah kita abadikan dan mencoba mengingat kejadian apa yang mendasari pengambilan gambar tersebut memberi kesan tersendiri. Kalau dulu kita menuliskan dengan bahagia yang menggebu, bisa jadi saat ini kita akan menuliskannya dengan tersedu pilu. Atau mungkin dulu ditulis dengan penuh emosi dan menguras air mata, namun saat dijabarkan kembali malah mampu menguak hikmah yang teramat banyak.

Ini yang akan saya lakukan kedepannya. Ada ratusan bahkan ribuan foto tersimpan dalam folder komputer saya. Beberapa diantara masih saya ingat kenangannya, yang lain agak sedikit lupa.

Blog ini, sudah sekian lama tidak saya sentuh. Bahkan ada yang terang terangan menyebutnya 'lumutan". No matter at all. Faktanya memang se-mengenaskan itu. Terlebih saat setahun lalu saya sangat disibukkan dengan organisasi. hiks

Well, kedepannya kita akan banyak berjumpa di sini. Berbagi cerita, ilmu dan kisah lainnya biar gak lumutan lagi lahya... InsyaAllah

Sunday, 18 September 2016

Mari, memanusiakan rasa malas!

Ada beda pada kata malas dan tidak suka. Ketiadaan dua rasa ini dalam kehidupan manusia ibarat sebuah kenistaan. Manusiawi jika saya mengatakan, kita terlahir bersama dua rasa ini. Tentu saja masih banyak rasa lain, seperti rasa manis semburat pelangi usai hujan guntur menyapa langit. Namun kita hanya akan berbincang soal malas dan tidak suka. Dua rasa yang kerap  melanda manusia. Setiap hari. Di seluruh dunia.

Pernah saya ditanya seorang junior, “Bagaimana cara kakak mengatasi rasa malas?”

Untuk sejenak saya mencoba mencerna pertanyaan yang cukup menohok itu. Bagi saya, untuk menjawab pertanyaan tersebut saya butuh menelaah sebuah pertanyaan baru,

“Benarkah saya sudah berhasil menaklukkan malas?”

Namun nampaknya, sang junior menganggap saya sudah berhasil. Lalu saya mencoba memberi jawaban dengan menjelaskan peran malas dalam kehidupan saya.


Seperti yang saya sebutkan di awal. Rasa malas lahir bersama tangisan pertama seorang bayi ke dunia. Namun ia masih terasa samar. Seperti tepung tercampur air, masih bisa kita bentuk besar, kecil, atau malah belum terasa sama sekali. Dalam kehidupan saya, malas saya anggap seperti iman seseorang. Naik turun. Pasang surut. Kadang saya malas dan kadang saya rajin. 

Segala usaha tentu dikerahkan agar bisa kembali memenjarakan rasa malas ini. Dengan mengingat peran orang tua, keluarga, amanah dan tanggung jawab yang dititipkan oleh warga kampung bahkan tidak jarang untuk benar-benar memenjarakannya, butuh yang namanya hijrah (mengungsi ke rumah teman terdekat agar tertular semangat dan rajinnya)

Sekali lagi saya katakan, malas itu manusiawi. Saya memiliki satu prinsip kuat yang saya tanamkan dalam benak saat harus beradu batin dengan malas. 

"Malas itu boleh, asal jangan malas-malasan!"
Artinya? ya, sesekali kita boleh lah memanjakan malas. Beristirahat dari segala aktifitas monoton setiap harinya. Bersantai sejenak. Mengambang bersama ketidakjelasan. Lagi lagi yang perlu diingat adalah, jangan malas-malasan!

Malas adalah suatu sifat alami yang kadang terjadi dalam diri seseorang. Sedang malas-malasan adalah suatu sifat yang dimanjakan, dibiasakan. dilakukan berulang kali dalam rentang waktu yang lama sehingga menjadikannya sebuah kebiasaan. Coba saja tanamkah hal ini dalam benak kita. Setiap kali malas menyapa, sambutlah! Asal jangan malas-malasan! Mungkin ini akan menjadi salah satu cara memanusiakan rasa malas. 



Tuesday, 26 January 2016

Imtihan Azhar Usai, Liburan? Mau Ngapain?

look at this crazy picture. XD
Ujian di Azhar punya keunikan sendiri. Belajarnya mati-matian, ibadah ditingkatkan gak ketulungan, doa-doa dilangitkan, kalau sudah masuk masa ujian tidak sedikit yang tiba-tiba menghilang dari peredaran dunia maya. Jadi gak heran, perasaan bahagia narapidana yang baru bebas setelah puluhan tahun di penjara masih kalah bahagia sama perasaan para Azhary yang baru usai ujian. 

Cat : Mari sama-sama berdoa semoga Masisir semua diberi kenajahan dengan nilai yang memuaskan. Amin ya rabbal 'alamin

Nah biasanya, setiap orang punya kebiasaan tersendiri dalam menghabiskan masa liburan pasca ujian. Nonton, baca novel, silaturahmi ke rumah teman, atau travelling. Semua itu demi mewujudkan satu kata, 'refreshing' alias penyegaran otak yang sekian lama terpaku dengan huruf-huruf gundul dan dipaksa bekerja lebih banyak dari sebelumnya. 

Actually, Gaes! yang tau hal apa yang bisa menyegarkan otak adalah kita sendiri. Ada yang biasa menghilangkan suntuk dengan main game, ada yang nonton, shopping atau jalan ke mall ( meski gak beli apa-apa), nongkrong barang teman-teman, nonton movie, baca buku, dan lain-lain. 

Meski banyak yang memilih untuk travelling ke tempat-tempat wisata atau tempat bersejarah di Mesir, misal mendaki bukit Sinai sambil menanti salju musim dingin, ke pantai hurgada (liat lautnya aja, jangan nyebur kalau gak mau beku di air!), ke Luxor, Siwa, Alexandria, de el el yang katanya bisa menyegarkan jiwa dan pikiran selepas ujian, saya pribadi sih lebih memilih tidak memilih semua pilihan itu. -_-
 Refresh atau penyegaran otak tidak melulu harus jalan-jalan kan? Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat tubuh dan pikiran kita relax dan gratis. contohnya?

 Contoh membaca.
Buku bacaan itu wisata paling luas dan gratis di seluruh dunia, loh! Dengan buku bacaan kita bisa menjelajahi dunia tanpa harus buang tenaga dan materi, Tentu saja jangan pilih buku bacaan yang memberatkan kerja otak. Pilih yang ringan-ringan saja, atau baca novel sarat pengetahuan seperti novel yang kini sedang antri jadi bahan bacaan yaitu Ayat-Ayat Cinta 2 karya senior kita Kang Abik. 

Contoh lain? Hmm, kalau saya sih, Gaes..
Penyegaran otak itu cukup sehari saja, dengan memperbanyak tidur, makan dan nonton. :v
Then, esok harinya sudah kembali ke dunia nyata. Kembali ke rutinitas sebelum ujian.

Entah kenapa, komputer, tumpukan kertas di meja, dan jendela berlubang di ruangan persegi -tempat saya bekerja- adalah hiburan tersendiri bagi saya. Hal itu lebih menghibur daripada percapakan me****h yang kerap menghantui! -_-. 

Well, intinya semua itu kembali ke diri kita. Kita tau apa yang baik untuk dilakukan, apa yang baik dikerjakan dan apa yang baik dijalani untuk menghabiskan masa liburan. Bukan yang paling tau loh, karena yang paling tau kebaikan untuk kita adalah Allah Swt :)

Lagi, kita tau di Masisir ini ada puluhan kegiatan yang sudah menanti dikerjakan. Pastinya diantara kamu dan kamu-kamu semua sudah punya segudang kegiatan nangkring di kalender harian. Jadi, bagi yang belum punya saldo yang cukup untuk travelling atau tur wisata, selamat kembali ke rutinitas semula seperti saya! :D 
Tapi bagi yang sudah punya agenda tur , rihlah, jalan-jalan ke tempat-tempat bersejarah di Mesir, Selamat berlibur! Semoga kembali dengan pikiran yang fresh dan siap menghadapi ujian selanjutnya. :)

Itu cara saya menghabiskan liburan, kalau kamu?

Thursday, 26 November 2015

Baik boleh, tapi jangan terlalu baik!


Gaes, sebelumnya selamat malam dulu, lah! 
Long time no tulis curhat di sini. Entah karena kegiatan yang seabrek, atau fasilitas yang tidak memadai. Semenjak dipinjamkan si layar lebar ini, jadi nulis di sini lagi, deh! Well, 

Saya paham, Gaes! kehidupan ini terlalu singkat untuk digunakan saling menyalahkan. Manusia gak ada yang sempurna. Gak yang yang paling benar. Yang paling dan Maha Benar hanya Allah saja, kita? mending banyakin istighfar dulu aja! ya toh?

Kalau saya sih, entah mengapa kata sahabat saya , saya orangnya suka menyalahkan diri sendiri. Saat merengungi masalah, selalu saja yang keluar 'Iya, saya kok yang salah." Karena saya selalu merasa, kesalahan yang saya munculkan dari sikap saya lebih banyak daripada pihak lawan. Akhirnya sering muncul pikiran "Coba saya gak gini, pasti gak gitu!". "Coba saya tadi kaya gitu aja, pasti gak gini jadinya". "Ya, salah saya sih pake giti segala, jadinya gutu semua!" Darimanapun datangnya masalah, pikiran saya selalu begitu. Pokoknya rempong banget jalan pikir saya kalau lagi dalam keadaan begini, Gaes!

Malam ini saya baper sekali, Gaes! Kesal bercampur greget sama orang. Sebut aja dia D. Dia orang yang lagi dekat sama sahabat saya. Suatu hari saya berniat membantu si D untuk melancarkan urusannya di tempat saya bekerja. Karena saya agak kenal dengan atasan saya, saya mengendus aroma urusan dia akan berakhir gagal. Well, saya beri tahu dia sebuah informasi yang waktu itu belum banyak yang tau -bukan berarti rahasia juga- tentang posisi atasan saya di kantor. 
Alih-alih dapat tanggapan yang baik, omongan saya tak diindahkannya, Gaes! Dia percaya dengan apa yang dia yakini, bahwa urusannya akan baik-baik saja. 

Oke, saya biarkan saja. Waktu terus berjalan, saya tetap merasa urusannya akan berakhir gagal, Gaes! Akhirnya saya coba menghubungi salah satu atasan -bukan atasan paling atas- dan menanyakannya, well bener, Gaes! jawaban atasan saya yang satu ini mengamini feeling indra keenam saya! Urusan dia gak nemu ujungnya! Ngawang di langit gak sampe alamat tujuan!

Sebagai seorang yang mengenal dia dari sahabat saya, entah kenapa hati baik saya sedang berkuasa saat itu untuk membantu dia. Tapi saya gak tau gimana cara bantunya. Sedang saya gak tau masalahnya gimana. Setelah saya jelaskan -dengan bahasa saya yang, yaa begitulah!" masalah lain muncul, Gaes! Urusan mereka benar-benar di ujung langit! Jauuh dari kata lancar. Persis seperti yang saya prediksikan. Tapi inti masalahnya buat saya bukan itu, tapi sikap si D yang menyalahkan saya!

Oh God! saya benar-benar shock saat mereka semua nyalahkan saya, Gaes! Malah saya dibilang nyalahin mereka. hmm.. nyalahin dari sisi mana? 

Saya jadi mikir, Gaes! Saya kan gak mungkin menyalahkan kebaikan hati saya. Ia suci, Gaes! Udah fitrah manusia itu baik. Tapi mungkinkah salah tempat? Harusnya saya gak usah bantuin. Gak usah ngasih informasi. Gak usah ikut campur. Meski punya feeling urusannya bakal kacau, yaudah biarkan saja. Toh, urusannya kan? Jadi kebaikan hati saya saat itu, saya tempatkan di akhir cerita saja. Saat mereka marah dan putus asa, saya berbaik hati bilang "Yang sabar ya, Mas!"

Tapi ya sudahlah! Sudah mainstream bilang 'nasi sudah menjadi bubur' meskipun nasi juga bisa jadi nasi goreng. Saya cuma bisa bilang 'air sudah menjadi susu'. Biarlah mereka kesal ke saya, benci, dan menyalahkan saya. Allah tahu apa yang saya maksud. 

Lagi-lagi saya begini, Gaes! Meski saya kesal, saya gak benar-benar bisa menyalahkan si D. Kita anggap saja ini salah saya. Salah menempatkan kebaikan. Ada banyak pelajaran yang saya dapat dari kejadian ini. Salah satunya; 
"Birokrasi negara gak bisa pake hati polos dan gak tegaan sama orang"
Well, honestly kejadian ini benar-benar membekas di hati, Gaes! Malam saat si D bilang kalau dia dan teman-temannya merasa dipermainkan atasan saya, lalu mulai menyeloteh banyak hal, kasar, dan menyalahkan saya yang katanya menyalahkan mereka, saya nangis, Gaes! Saya benar-benar sedih dan miris. Saya merasa, mereka memvonis saya yang jauh dari apa yang saya niatkan dari awal, membantu saja. Saya gak punya kepentingan terselubung di dalamnya. Tapi saya juga bersyukur, dan berterimakasih pada si D. Berkat dia, saya bisa belajar lebih hati-hati menempatkan kebaikan. Jangan sampai hati suci saya ini, menangis lagi karena salah tempat, hiks!

Eh, tapi kadang saya juga mikir setelah malam dia ngomel panjang lebar. Coba seandainya saya gak masuk urusan mereka, gak bantu apa-apa, dan urusan mereka berantakan begini, kira-kira si D meluapkan rasa marahnya ke siapa ya? XD wkwkwk
Mungkin saat itu, saya sedang sial!






Wednesday, 10 June 2015

Gula Garam Sahabat

Gula-Garam-Sahabat. Salah satu pembicaraan yang tidak pernah bertemu ujungnya itu adalah persahabatan. Banyak orang yang bilang, persahabatan itu lebih dari sekedar berteman. Teman itu belum tentu sahabat, tapi sahabat sudah pasti ia teman. Saya setuju, dunia ini tidak melulu diisi oleh cinta. Permasalahan lain yang kerap melanda anak remaja juga terjadi dalam hal persahabatan. Bahkan terkadang, sahabat dan cinta memiliki hubungan yang kuat, sahabat yang saling mencinta misalnya. 

Pernah ada seorang yang bercerita tentang kisah persahabatannya semasa dia sekolah dulu. Seorang sahabat yang katanya selalu ada disaat dia butuh. Suka dan duka, sedih dan bahagia. Terlebih kondisi lingkungannya yang hidup di asrama, makin klop lah kisah persabahatan mereka. Kemana-mana berdua, makin sepiring berdua, ke kelas berdua, belajar berdua, semua serba berdua (Nah, udah nyamain kisah cinta remaja aja kan?)

Ada lagi kisah dari yang lain. Masa sekolahnya dulu dia lalui tanpa seorang sahabat. Dia penyendiri? Tidak. Pendiam? Tidak juga. Lalu? Lalu dia tidak menemukan yang namanya sahabat. Baginya semua orang yang ia temui adalah teman. Dan teman tidak semuanya bisa dipercaya atau dijadikan tempat berbagi terutama untuk hal pribadi. Memang manusiawi, ketika memiliki masalah yang terlalu rumit dihadapi seusianya, lalu muncul rasa ingin berbagi. Namun berbagi itu tidak semudah menabur biji-bijian di hadapan segerembolan burung merpati di alun-alun kota, lalu mereka makan dan bawa terbang ke langit. Ia lebih seperti mengeluarkan biji berduri yang tersangkut di tenggorokan. Sakit? ya sakit.

Sebut saja namanya Siti. Saat dia menuturkan pengalaman pahitnya dalam bersahabat. Seorang yang sudah ia anggap sebagai sahabat. Karena bersamanya lah dia berbagi keluh kesahnya. Bahagianya, air matanya, sampai suatu saat ia menuturkan semua perasaannya di bawah gemerlap hiasan benda langit di malam hari. Tapi siapa sangka? karena rasa percayanya itu yang menjeremuskan dia ke lembah hitam? Masalah datang silih berganti menghampiri Siti akibat ulah seorang yang dia anggap 'sahabatnya' membeberkan semua curhatannya. Lalu bagaimana perasaan Siti? Campur aduk pastinya. Semenjak saat itu, untuk sekian lama Siti tidak pernah mau lagi percaya dengan yang namanya sahabat. 

Lain lagi dengan Ita, dia menghabiskan lebih dari 3 tahun bersahabat dengan dua orang teman yang dia temui di bangku kuliah. Tentu saja sudah banyak kisah manis dan pahit yang mereka jalani bersama. Sampai suatu hari, di penghujung tahun kuliahnya di bangku sarjana, masalah datang bertubi-tubi menghantam Ita. Dari masalah kuliah, keluarga, sampai kondisi jiwa dia yang kehilangan pegangan (kepercayaan diri). Loh, sahabatnya mana? itu menjadi pertanyaan yang sama saat cerita ini dia tuturkan. Entah kemana sahabat yang selama lebih dari 3 tahun dia anggap sahabat itu pergi. Sibuk sendiri, atau mungkin mereka sedang menghadapi masalah mereka masing-masing. Lalu terlupa untuk sekedar menanyakan 'apa masalahmu?' atau sekedar bilang 'ceritalah, aku dengar'. Yang jelas, kejadian ini membuat dia cukup depresi dan meragukan apa itu arti sahabat. 

Masih banyak lagi kisah persahabatan yang tidak bisa disebutkan semua di lembar ini. Lalu kenapa saya hanya menyebutkan satu sisi manis dari persahabatan dan menyebutkan tiga kisah pahitnya? 
Karena dalam persahabatan, kita akan menemukan banyak kisah pahit selama perjalanan menemukan rasa 'saling percaya' terhadap satu sama lain. Kisah pahit ini, ketika tidak bisa diambil hikmah-hikmah indah yang terselip dibaliknya maka selamanya kita tidak akan pernah menemukan sosok sahabat. Ibarat tumis pare, meski ia pahit rasanya, tapi ketika kita tahu kandungan di dalam pare memiliki khasiat untuk mengurangi diabetes atau menangkal sel kanker dan masih banyak lagi khasiat lainnya, maka tumis pare ini akan tetap enak dan nyaman di santap bahkan untuk dihidangkan berkali-kali. 

Begitulah persahabatan, selama kita tidak bisa menemukan hikmah yang ada di balik setiap masalah, disaat itu lah kita tidak akan pernah beranjak dewasa. 
Buat kalian, sahabat-sahabat saya. Terimakasih sudah sabar mengajarkan saya untuk bersabar mengais setiap hikmah dari permasalahan kita :)



Monday, 23 March 2015

Ber-cerita-ku

Bercerita itu bukan hal yang mudah.
setidaknya bagiku.
Seperti bercerita tentang mauku, yang entah mengapa kini serasa itu hanya mimpi.
dari gadis yang berharap bisa lepas dari sangkar
berkelana, mencari hal baru.
tersesat, menertawakan wajah-wajah asing
menangis tak ingin kembali
biarlah begitu, tetap seperti mimpi.

yang pada akhirnya ku tangisi jua,
sama seperti terjebak dalam posisi ini
masih tak bisa aku ceritakan
mauku, maumu, mau kalian
lari saja kah aku?
atau ku tertawakan saja kita semua?

aku senang tadi malam kita bercerita,
sedikit saja. kesahku,
kau dengarkan,
kau timpali
dan kita tertawa bersama
menertawakan nasibmu, dan nasibku
yang pada akhirnya aku tahu

"kamu harus memilih, Mah! tidak harus 'siapa'. Menjauh dari semuapun adalah pilihanmu. Dan aku hargai itu"

Monday, 9 March 2015

Untuk kamu, yang mungkin tidak menyangka ini untukmu.


saya bukan tipe orang yang sangat perhatian pada orang lain. tapi bukan juga orang yang tidak peduli sama sekali. saya selalu merasa, saya sangat peka terhadap segala kejadian yang ada di sekitar saya. tentang sikap, tentang masalah dan tentang suatu cita dan asa yang tersenyum di balik deretan gigi. 

Mungkin sebagian ada yang mengenal bagaimana saya. Saat terlalu banyak bicara karena bahagia, atau terlalu banyak bicara karena tertekan. atau saya sekarang yang lebih condong kepada melankolis level kronis saat mendapat masalah. ya itu saya.

Atau sebagian mengenal saya adalah pribadi yang acuh. tidak peduli sekitar. tidak peduli orang lain. ya, dan itu saya yang lain. 

Sejatinya saya sangat mengerti bagaimana menjadi sosok yang harus menyimpan masalah sendiri. menangisinya sendiri. menertawakanya sendiri. saya sangat memahami rasa itu. banyak hal dalam hidup saya berubah karenanya. ada yang ke positif dan banyak juga ke negatif. 
seperti saya yang tidak pernah kuat mendengar makian orang lain misalnya. tiba-tiba tubuh bergetar hebat. atau saya yang sangat takut mendengar kritikan, entah itu yang membangun atau menjatuhkan. dan banyak hal lagi. yang membuat saya sangat muak pada masa lalu saya. dan berterimakasih pada mereka yang membantu menorehkannya di hidup saya. 

ohya, balik lagi ke kamu. 
bukan saya tidak mau mendengar, hanya mungkin saya belum yakin bahwa saya adalah pendengar yang pas untukmu. 

Sunday, 8 March 2015

Bukan, bukan aku dendam. Kawan?

Bukan mauku membenci kalian. Bukan inginku mendendam ini semua.
Hampir di setiap sujud aku selalu berdoa,
Memohon agar Allah menghilangkan semua penyakit hati
Benci, dendam, iri, dengki, marah, terhadap orang lain
Terhadap kalian, yang menyisakan luka terlalu dalam.

Terlalu dalam. Sangat dalam hingga terkadang ia menjelma menjadi sebuah mimpi buruk
Menyisakan rasa sakit yg amat nyata, kawan.
Bahkan aku mengira itu nyata.
Mimpi itu, selalu berhias tangis dari mataku.
Tangis yang... ah, hampir saja aku vonis itu bukan mimpi.
Tapi benar-benar tangisanku yang sudah tak sanggup ku bendung
Terlalu berat bagi umurku yang masih jauh lebih muda dari kalian memendam rasa itu
Rasa sakit, terasingkan, terpojokkan, disalahkan atas sesuatu yang aku pun tak tahu itu salah siapa
Di tinggal orang yang aku harapkan tetap berdiri di sampingku
Di acuhkan, di datangi hanya ketika kalian butuh
Satu tahun aku menjalani itu semua.
Itu tidaklah sebentar, kawan.

Tahukah kalian, kawan,
Biar ku ceritakan beberapa contoh dari sekian mimpi burukku selama aku di Mesir
Mimpi tentang kita, tentang aku dan kalian dulu
Berbeda-beda, berbagai latar belakang
Tapi rasanya sama, tertekan, sakit, sesak.
Rasanya seperti aku kembali ke masa kita sekolah dulu
Lalu semua memori itu di putar ulang.
Hanya saja, aku dalam kondisi berbeda
Tidak hanya diam mendengar caci maki kalian
Tidak hanya pasrah melihat tatap tajam kalian
Aku selalu saja dalam posisi menangis
Ada rasa marah dalam tangisku, marah yang dulunya terpendam
Aku luapkan saat itu. dalam mimpi.
Entah mengapa, mimpi itu seringkali hanya tentang luapan rasa marahku
Kecewaku,
Sedihku,
Tidak hanya terjadi sekali, kawan. Berkali-kali, setiap tahun.

Bukan, bukan aku dendam. Kawan?

Saturday, 7 March 2015

Sepenggal Kisah Mencari Pengalaman Menulis

AKU DAN FLP
Hari itu ulang tahun saya yang ke-21. Semilir hembusan angin pertengahan musim dingin Negeri Kinanah tidak menghalangi langkah kaki saya menjalani rutinitas sehari-hari. Sebagai seorang mahasiswi di salah satu Universitas islam tertua di dunia Al-Azhar Kairo, tentunya saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan belajar saya dengan banyak bermain. Meski kampus saya tidak pernah menerapkan aturan absen untuk ribuan mahasiswinya, saya tetap berkomitmen untuk hadir dalam setiap kelas semaksimal mungkin. Terlebih lagi, ini semester terakhir saya di program sarjana. Jadi saya berusaha semampu saya untuk lulus dengan hasil yang memuaskan. Selain itu, saya mengisi waktu dengan bekerja paruh waktu di Atase Pendidikan KBRI Kairo bagian pendataan dan sedikit berkecimpung di dunia organisasi.
Jadilah hari itu, Ahad 8 Febuari 2015 sepulang kuliah saya langsung menuju kantor Konsuler KBRI Kairo tempat saya bekerja. Kebetulan kantor saya terletak di tengah-tengah pusat kegiatan Masisir ( sebutan untuk Mahasiswa/i Indonesia Mesir ) tepatnya di Hay ‘Asyir, Nasr City Kairo. Saat itu, saya bertemu beberapa anggota FLP ( Forum Lingkar Pena ). Saya tidak tahu siapa nama mereka. Yang saya tahu mereka sedang menyiapkan perlengkapan acara Talk Show Kepenulisan bersama Ustad Irja Nasrullah dan Ustad Dadan Ramadhan, S.Ag seorang penulis dan editor buku anak. Beliau juga Manajer Devisi Anak & Balita DAR! Mizan dan Ustad Irja, mantan ketua FLP Mesir tahun 2012-2013.
Sebenarnya saya sudah mendengar nama FLP Mesir sejak pertama kali saya datang ke sini. Sekitar tahun akhir tahun 2011. Saat itu saya menemukan seleberan berisi informasi tentang FLP Mesir. Karena saat itu saya masih mahasiswi baru di sini, jadi saya abaikan saja. Lagipula, saat itu saya masih tidak memiliki kepercayaan diri dalam menulis khususnya menulis cerita fiksi. Tahun-tahun berikutnya, saya tidak pernah mendengar kabar FLP Mesir lagi. Saya hanya kenal beberapa pentolan-pentolan FLP Mesir yang memang jago dalam dunia kepenulisan. Waktu itu saya juga heran, kenapa FLP tidak mengadakan pelatihan kepenulisan atau perekrutan anggota baru misalnya?
Awal tahun 2014 saya terjun dalam dunia menulis karya fiksi. Niatnya hanya coba-coba saja, ternyata karya pertama saya dalam bentuk cerita pendek ( cerpen ) di bacakan di Radio Republik Indonesia ( RRI ) dalam program Bilik Sastra yang di nakhodai oleh Bunda Pipiet Senja. Dari sana saya semakin optimis mengasah kemampuan saya dalam menulis. Meski saya sempat merasa down ketika menulis karya fiksi berupa cerpen yang kedua kalinya, karena saya merasa aneh. Pengetahuan menulis saya sangat minim. Saya bahkan tidak menguasai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai ejaan yang disempurnakan. Saya harus mencari wadah yang bisa membantu saya mengasah skill menulis saya. Karena bagi saya, selain bakat menulis juga memerlukan kebiasaan. Artinya terbiasa menulis membantu kita menjadi penulis handal.
Masuk tahun 2015 inilah, saya menemukan selebaran acara Talk Show yang diselenggarakan oleh gabungan organisasi Masisir. Salah satunya FLP Mesir. Mujurnya, acara ini diadakan di Aula Konsuler KBRI Kairo. Satu gedung dengan kantor saya. FLP Mesir membuka pendaftaran gratis bagi siapa saja yang ingin bergabung bersama mereka. Saat itulah awal mula saya bergabung dengan FLP Mesir. Menjadi bagian dari pejuang-pejuang yang selalu semangat berdakwah dengan pena. Saat umur saya beranjak 21 tahun. Saat saya berharap kebaikan dan rahmat Allah Swt selalu memeluk saya. Saat saya merasa, saya bukan lagi gadis kecil manja yang hanya bisa mengekor orang lain dalam setiap hal. Saat itulah saya memutuskan menjadi bagian dari FLP Mesir.
21 Febuari 2015
Menjelang seminggu saya bergabung menjadi anggota FLP, kami diminta untuk menuliskan satu karya terbaru kami dan dikumpulkan untuk dibedah. Waktu itu saya menulis cerpen dengan judul “EBY”. Pertemuan selanjutnya, karya kami akan di ‘bengkel’ oleh teman-teman FLP Mesir baik yang lama ataupun yang baru. Saat itu saya sengaja mengumpulkan cerpen saya diakhir batas pengumpulan. Saya tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk membedah karya sendiri. Entah memang saya sedang tidak beruntung, atau nasib baik tidak memihak saya. Dari sekian karya teman-teman FLP Mesir yang baru, karya saya dijadikan urutan pertama untuk dibedah.  
Saat itulah saya benar-benar mengenal kedahsyatan FLP. Pengetahuan yang luas tentang kepenulisan saya dapatkan hari itu saat karya saya dibantai oleh teman-teman. Ilmu-ilmu yang sebelumnya saya masih buta tentangnya, saya ketahui sedikit demi sedikit bersama FLP. Tentang tanda baca, penggunaan tanda petik, penyesuian majas dan masih banyak lagi. Meski karya saya terbilang jelek dan tidak ada bagusnya menurut saya, tapi saya cukup senang karena menurut komentar salah satu senior FLP Mesir, kemampuan saya mendeskripsikan sesuatu dengan penggunaan majas sangat bagus.
Hari itu benar-benar hari yang menakjubkan. Kepala saya sampai terasa sakit karena terlalu keras berpikir. Perdebatan sengit antara saya dan beberapa anggota FLP lainnya benar-benar membuat saya sadar bahwa ilmu saya tentang dunia kepenulisan sangat jauh dari kata cukup. Sebagai seorang penulis, tuhan dari cerita yang dibuat tentu saya memiliki argumen-argumen untuk membantah setiap koreksi yang dilontarkan teman-teman FLP. Kecuali untuk komentar tentang tata bahasa, saya dengarkan semuanya. Karena memang itulah tujuan saya bergabung bersama FLP. Untuk meneguk habis ilmu tentang kepenulisan. Agar saya bisa menyampaikan dakwah dengan tulisan yang mampu dibaca semua kalangan.
Saya sangat bersyukur bisa mengenal FLP Mesir dan sangat berterimakasih atas segala ilmu yang FLP berikan kepada saya.  Terimakasih telah membangkitkan semangat menulis saya. Semoga Allah Swt. menuliskan kisah pertemuan saya dengan anggota FLP lainnya di seluruh dunia. Agar ukhuwah ini tidak memiliki akhir. Agar tulisan-tulisan dari pena para penulis tak pernah kehabisan tintanya. Berbagi ilmu bersama kalian adalah sebuah momen yang saya impikan. Meski saya tidak bisa seperti yang lain, memiliki ribuan cerita menarik bersama FLP. Pengalaman indah dibalik suka dan duka berjuang di FLP. Tapi saya bangga bisa menjadi bagian dari tubuh FLP saat hari hari jadi saya. Sukses selalu FLP! Selamat Ulang Tahun yang ke-18! Semoga makin jaya! J
 Salam hangat dari Kairo,
Rahmah Rasyidah

 dikirim untuk mengikuti lomba Kisah Inspiratif Aku dan FLP dalam rangka memperingati Milad FLP yang ke-18.