Pages

Showing posts with label Kumpulan Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Cerpen. Show all posts

Tuesday, 7 April 2015

Naskah Cerpen -Gadis Kemarin Sore- Juara Satu Lomba Cerpen KSW Mesir

GADIS KEMARIN SORE
Oleh : Rahmah Rasyidah


“Kau tahu kisah penunggu hutan di dekat rumah kau itu, Re? Itu hutan keramat! Konon hutan itu dijaga oleh beberapa setan wanita sejak ratusan tahun yang lalu. Kau harus berhati-hati!” 
“Kau masih percaya mitos, El? Aku kira kau lebih cerdas dari itu!”
***
Ekor mata elangnya melirik tajam kearah kerumunan massa. Jalannya terseok, membungkuk kedepan. Sesekali terjatuh dan dipaksa berdiri kembali. Tali berdiameter  satu sentimeter mengikat tangannya yang kurus. Kalau saja tidak ada kulit yang membungkusnya, orang-orang pasti mengira dia kerangka tulang yang berjalan.

Prakk!

Sesuatu mengenai kepalanya. Cairan basah dan lengket membasahi rambut cepaknya yang hitam. Dia menunduk, matanya menangkap kuning telur dan pecahan cangkang jatuh ke bawah. Sumpah serapah membanjiri udara, tak satupun bisa ia rekam dengan baik. Dia hanya mampu menyapu pandangannya dan wajahnya yang menghadap bumi. Empat tubuh besar mengelilinginya, mencoba melindungi tubuh kecil itu. Meski demikian, ada saja sesuatu yang berhasil mengenai tubuhnya dari amukan massa.

“Bakar saja!”
 “Jangan biarkan dia hidup! Pembunuh harus dibunuh!”

Suara itu semakin jelas menggetarkan selaput gendang telinganya. Detik selanjutnya, ratusan kepala berbondong-bondong memenuhi lapangan. Memuaskan dahaga penasaran mereka, mengintip maut yang akan menghampirinya. Sesekali dia mengusap keringat di dahi dengan kaos yang menempel di bahunya.

Matahari berada tepat di atas kepala saat dia berada tepat di tengah-tengah kumpulan manusia. Menatap wajah-wajah terbakar amarah. Sedang wajahnya datar. Tak sedikitpun menyiratkan rasa sesal. Pun rasa takut terhadap maut.

Suasana tiba-tiba hening saat La Ode[1] More, tetua desa memasuki lapangan. Beberapa orang membantunya berjalan dengan sebuah tongkat berkepala ukiran ular. Tongkat turun temurun dari tetua sebelumnya. Ketenangan tergambar jelas pada wajahnya yang keriput. Namun tubuhnya mengeras meredam amarah. Dia berdiri menghadap warga.

“Kita sangat memegang kuat adat,” ucap La Ode More menyapa siang yang terik. Dia berjalan mendekati tubuh kurus yang sekarang menjadi sorotan warga. Menjambak rambutnya dan memaksanya mendongak.

“Kita akan membakar siapa saja yang melanggar perintah leluhur kita!” sambung La Ode More mengakhiri kalimatnya. Setiap kata yang terucap seperti aliran listrik yang membangkitkan amarah warga. Gemuruh amukan warga kian memanas. Sepanas terik matahari siang itu.

***

Desa Katilombu seperti neraka bagi Rere. Gadis yang baru beranjak dewasa itu menghabiskan hidupnya mengurung diri di gubuk kecil, di salah satu kecamatan penghasil makanan sagu terbesar di Indonesia. Perkembangan zaman modern seperti enggan dicicipnya. Berapa kali Rere meminta sesuatu yang biasa diminta gadis sesusianya, tapi Ama[2] menolak. Ama sangat keras, terutama dalam memegang kuat adat dan aturan daerah.

Sore itu udara sangat bersahabat. Sepoi angin bertiup pelan menerbangkan rambut panjang Rere. Dia menemani Ina[3] memijat punggung Ama di teras rumah yang terbuat dari anyaman bambu.

“Kau tidak sama seperti yang lain, Re!” ucap Ama saat Rere memberanikan diri meminta ijin pergi ke kota bersama teman-temannya.

 “Apa gerangan yang membuatku berbeda, Ama?” jawab Rere sambil memasukkan singkong rebus dan beberapa makanan ringan ke dalam sebuah rantang berukuran sedang.

Setiap jum’at sore, menjelang matahari terbenam, Ama selalu berkunjung ke kediaman La Ode More. Tetua desa Katilombu. Sekedar meminta petuah dan nasehat dari pemimpin desa yang sudah berumur hampir seabad itu.

“Tidak apik kau berbuat seperti itu. Kau wanita. Sudah takdir kau berlatih menjadi istri dan ibu yang baik.”

“Bukankah teman-teman wanitaku yang lain bisa melakukan hal yang sama, Ama?” sanggah Rere. Spontan dia menggigit lidahnya sendiri karena menyesal telah mengatakan itu di hadapan Ama. Rere menunduk.

Ama meluruskan punggung, membetulkan posisi duduknya, dan meletakkan kedua tangannya di atas paha. Nampak amarah seperti sedang menggelitik Ama hingga urat lehernya bermunculan, tapi angin mengajaknya berdamai. Rere segera menarik diri dari teras dan masuk ke dalam rumah. Dia tidak ingin Ama mengamuk lagi, terlebih Ama mudah sekali memukul Rere ketika marah.

***

Sembilan bulan berlalu, dengki dan iri tumbuh subur di dalam hati Rere. Beranak menjadi dendam yang kesumat. Dia selalu mengutuk diri sendiri mengapa terlahir menjadi wanita. Bukan! Dia menyesal mengapa harus menjadi anak gadis Ama. Akan lebih beruntung dia menjadi anak gadis dari orang lain. Yang tidak terlalu peduli dengan adat, yang bukan ekor dari La Ode More, yang bukan Ama!

Rere menyusuri jalanan selebar empat meter di desanya. Wajahnya hampa. Dia baru saja pulang dari pasar, membeli sayur mayur untuk persiapan Ina memasak esok hari. Rumahnya berada di dekat lapangan kecil di ujung desa Katilombu. Tepat di perbatasan antara desa dengan hutan kayu jati. Masyarakat Katilombu biasa membuat pertemuan di lapangan itu. Entah untuk hal formal, atau hanya sekedar tempat hajatan warga.

Rere meratapi hidupnya yang tidak bisa keluar dari desa. Dia baru saja menyelesaikan pendidikan menengah atasnya beberapa bulan yang lalu. Beberapa temannya melanjutkan ke perguruan tinggi di kota. Banyak juga yang memilih merantau ke tempat yang lain. Seperti Eli, sahabat Rere juga meninggalkan Katilombu sebulan yang lalu. Orang tuanya mengijinkannya mengambil beasiswa kuliah di tanah Jawa. Berbeda dengan Rere, dia dan Katilombu bagai magnet yang saling tarik menarik. Tidak bisa ia tinggalkan. Atau mungkin karena Ama, yang mengubahnya menjadi magnet desa.

Menyelesaikan sekolah menengah atas juga sudah cukup untuk kau, Re! leluhurmu dulu bahkan tidak menyicipi sekolah dasar!

Rere mengingat dengan baik kata-kata Ama itu. Kepalanya semakin tertunduk, seperti ingin mengubur wajahnya di dasar bumi.

Bruk!

Seorang bocah laki-laki berpakaian lusuh menabrak Rere. Keranjang berisi sayur yang dia bawa terlepas dari tangannya dan jatuh berserakan di jalan. Bocah itu nampak acuh, dia sama sekali tidak melirik Rere. Nafasnya tersengal, Rere dapat menangkap ketakutan terpancar di matanya. Dia berlari masuk ke dalam hutan.

Beberapa detik kemudian, dua orang wanita muncul lima meter dari tempat Rere berdiri. Wajah mereka menyeringai penuh misteri. Satu diantara mereka berwajah bulat, rambutnya hitam sebahu. Dan satunya lagi, memiliki rambut yang tak kalah hitam dan panjang. Tatapan mereka lurus, seperti tidak peduli adanya Rere di sana. Menatap hutan, menatap bocah tadi. 

Angin meraba tengkuk Rere saat mereka berjalan melewatinya. Dalam sekejap, mereka sudah memasuk hutan. Giliran Rere yang ketakutan. Dia berlari memasuki rumah, melempar keranjangnya dan membenamkan wajahnya di bawah bantal. 

*** 

Senja menyeringai, membias cahaya jingga ke permukaan langit. Awan berarak bergantian meninggalkan cakrawala. Menyusul matahari yang kini beranjak pergi menuju peristirahatannya, Sore itu, Katilombu menjelma menjadi desa yang sangat ramai. Hingar bingar warga yang sedang mempersiapkan ucapara seratus tahun La Ode More memberi warna tersendiri bagi mereka.

Turun temurun Katilombu dipimpin keturunan La Ode Kedo, tetua pertama hingga La Ode More, tetua yang memimpin saat ini. Mereka percaya Katilombu akan tetap aman selama mereka tetap menjaga adat, tidak saling membunuh dan menjaga kerukunan warga. Dan satu lagi, aturan yang tidak banyak diketahui warga Katilombu selain keturunan La Ode,  mendidik dan menjaga para anak gadis keturunan La Ode.

Selang beberapa menit, aktifitas mereka terhenti mendengar suara gaduh di salah satu rumah penduduk. Tangisan histeris dari seorang wanita menarik mereka berkumpul. Tubuh kecil dari penghuni rumah itu terhempas keluar, meronta kesakitan saat mencoba menghindari pukulan. Baju kaos yang ia kenakan robek di beberapa bagian. Dia merangkak keluar sambil menangis.

“Apa yang kau pikirkan, hah??” maki seorang laki-kali dari arah dalam rumah. Dia melempar sebuah gunting berwarna keemasan ke dinding. Kakinya menyeret tumpukan potongan rambut hitam yang berserakan di lantai.

Dengan tergesa-gesa dia melangkah menuju pintu. Dia meraih sebilah parang panjang yang menempel di dinding . Matanya menatap penuh amarah. Diseretnya tubuh kecil itu ke tengah lapangan. Seorang wanita dengan air mata membanjiri pipinya mencoba menahan kaki lelaki itu. Pakaian yang ia kenakan sampai robek ketika mencoba mendekap tubuh kecil yang kini menjadi sorotan warga.

Tapi dekapan erat itu tidak bertahan lama. Tubuhnya terpental saat tendangan kaki lelaki berkulit sawo matang itu mengenai perutnya.  Seketika sebuah tendangan balasan melayang dari arah bawah  dan mengenai selangkangan. Parang panjang jatuh mengenai kakinya. Darah segar mengucur deras, dia berteriak kesakitan.

Untuk beberapa menit warga Katilombu seperti terhipnotis dengan pemandangan yang ada di hadapan mereka, pekik kesakitan dari tubuh besar laki-laki itu menyadarkan mereka . Beberapa laki-laki langsung berlari mendekatinya. Tapi dia menolak, detik selanjutnya dia gelagapan mencari sosok kecil yang menjadi sasaran kemarahannya. Dilihatnya sosok itu tertatih berlari memasuki hutan. Tangannya meraih kembali parang panjangnya dan berjalan menuju hutan.

Semua orang hanya bisa melihat dari jauh. Tidak ada yang berani menghalanginya. Tidak ada yang berani mengejarnya. Punggung lelaki itu menghilang di dalam hutan seiring dengan perginya lembayung senja dari ufuk timur.

***

Rere memilih duduk di teras rumahnya. Pikirannya mengembara entah kemana. Setelah insiden siang itu, dia terlihat lebih pendiam. Sore itu Rere mencoba mengalihkan pikirannya dengan menikmati pemandangan warga Katilombu yang sedang bergotong royong menyiapkan upacara memperingati seratus tahun La Ode More. Lapangan masih sepi, hanya ada beberapa orang yang datang dengan mengangkat empat tiang besar setinggi tiga meter. Tiang itu nantinya akan dijadikan sebuah tenda sederhana untuk tempat duduk La Ode More selama upacara.

Beberapa menit kemudian,  tiga orang datang dengan membawa beberapa kotak lilin. Memasukkannya dalam sebuah wadah kecil terbuat dari pahatan kayu jati dan menatanya membentuk lingkaran. Di tengah-tengahnya, mereka letakkan setumpuk kayu bakar untuk membuat api unggun.

Rere menyapu pandangannya ke seluruh lapangan. Dia terpaku saat menangkap sosok wanita berambut pendek dengan wajah bulat berdiri di tepi hutan. Menatap kearahnya. Mengisyaratkan sesuatu, tapi Rere terlalu kalut untuk bisa mencerna pesan yang dia sampaikan. Wanita itu mendekat, melangkah santai melewati beberapa warga yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya.

“Gunakan ini!” bisiknya tepat di telinga Rere. Dia meninggalkan sebuah gunting berwarna keemasan. Membelai rambut panjang Rere dan kemudian menghilang.

Rere merasakan tubuhnya bergetar hebat. Kepalanya terasa gatal, dia tidak pernah merasakan gatal sedahsyat ini, seperti ribuan kutu bersarang di dalamnya. Tanpa berpikir panjang, dia berlari kearah kamar dan memotong rambutnya menyerupai laki-laki.

***

Gemuruh teriakan warga masih terdengar sangat jelas. Kasus pembunuhan ini benar-benar menyulut emosi mereka. Pasalnya, ini kasus pertama yang terjadi selama kurun waktu ratusan tahun. Beberapa hari yang lalu, beberapa warga menemukan potongan tubuh manusia yang mereka duga adalah jasad dari Lamporo, salah satu kerabat La Ode More yang hilang saat mengejar anaknya ke dalam hutan.

La Ode memerintahkan warga menyisir hutan dan menemukan pembunuhnya. Kurang lebih seminggu, mereka menemukan Rere meringkuk kedinginan di dalam hutan sambil memeluk potongan tangan milik Amanya. Rere hanya terdiam saat semua orang menggiringnya ke lapangan dan menatapnya penuh benci. Dia bahkan tidak bisa mengingat apa-apa selama dia berada di hutan. Yang dia tahu, dia selalu melakukan apa yang diminta oleh dua wanita yang menjadi temannya saat itu.

Salah seorang warga melempar batang korek yang tersulut api kearah tumpukan kayu bakar yang mengelilingi tubuh Rere yang terikat di sebuah tiang di tengah-tengah lapangan. Api mulai merambat membakar kayu bakar dan melahapnya dengan cepat. Meliuk-liuk seperti ular yang mengitari pohon sebelum menyerang mangsanya. Rere  mengangkat wajahnya, mencoba mencari Ina. Matanya menyisir satu persatu wajah yang berdiri di depannya. Tapi sosok Ina tak kunjung dia temukan.

Kobaran api semakin membesar, menutup pandangan Rere mencari Ina. Dia meringis menahan panas api yang kini mulai menyentuh tubuhnya. Bola mata hitamnya berubah merah. Seakan api sudah bersarang di dalamnya. Samar-samar, saat kesadaran  Rere hampir hilang, dia melihat dua sosok wanita berdiri dibalik bayang-bayang si jago merah. Mereka merentangkan tangan, tersenyum manis kearah Rere.
Sekian





[1] Sebutan untuk tokoh desa suku Muna, Buton.
[2] Ama diambil dari bahasa Muna, panggilan untuk Ayah bagi rakyat Buton.
[3] Ina diambil dari bahasa Muna, panggilan untuk Ibu bagi rakyat Buton.

Thursday, 19 March 2015

Cerpen -UJANG- ditulis untuk mengisi Mading PII

Ujang

“Kau tidak ingin punya adik, Jang?” tanyaku di sela-sela perjalanan kita pulang sekolah. Kendaraan lalu lalang di sepanjang ruas jalan raya memaksaku harus menunggu sampai ia agak sepi. Aku memasukkan tanganku ke kantong celana sementara kamu sibuk menendang batu kerikil yang ada di depanmu.

“tidak,” jawabmu sekenanya. Aku menghembuskan nafas pendek. Kita memang sama-sama anak tunggal, tapi kamu masih mempunyai kesempatan memiliki saudara lagi. Berbeda denganku, aku anak yang di asuh oleh wanita yang memutuskan akan tetap menjanda sampai akhir hayatnya. Ku tekan rasa gelisahku agar tidak muncul pertanyaan yang lain.

“Aku sudah cukup memiliki kamu, Man!” lanjutmu lagi. Aku tersenyum lebar. Selebar badan truk yang menyeretmu dariku.

***

Waktu itu kamu sering membelikanku permen karet. Katamu, kita akan terlihat keren ketika berjalan sambil mengunyah permen karet, menggulung lengan baju sampai terlihat ketiak dan berjalan angkuh sambil membusungkan dada. Aku menurut saja. Kata orang, anak bau kencur dengan penampilan seperti kita hanya akan menghancurkan nama sekolah, tapi kamu bilang kamu menikmatinya. Aku?

Aku menikmati apa yang kamu nikmati. Caramu berjalan, pakaianmu, bahkan sering aku meniru apa yang kamu beli. Meski aku harus merengek-rengek meminta kepada orang tuaku agar di belikan mainan Yoyo seperti punyamu dengan merk yang sama. Asal kita selalu punya barang yang sama. Batinku. Alhasil, orang-orang selalu memanggil kita ‘kembar tapi beda’. Tapi aku lebih suka dengan julukan kita, bersahabat. 

Diam-diam aku juga selalu mengikutimu ketika kamu diajak orang tuamu ke pasar untuk membeli baju. Rumah kita yang berdampingan memudahkanku mengetahui apa yang kamu kerjakan. Jarak antara rumahku dan kamu hanya dibatasi parit kecil yang bisa dilewati kucing usia balita. Atau mungkin orang tua kita sengaja membuat parit yang sangat sempit itu sebagai pembatas bahwa “kita tidak tinggal serumah” atau “rumah kita berbeda”. Di tambah lagi kamar kita yang berdampingan, makin sempurnalah misiku mengintip kegiatanmu setiap harinya.

Aku cuek saja ketika teman-teman menjulukiku Si Penguntit. Toh, memang aku sangat menikmati saat-saat aku mengekormu. Kamu juga tidak merasa terbebani kan? Lalu apa masalahnya? Aku menaikkan gulungan lengan bajuku keatas. Sekilas nampak jelas belang warna kulit tangan dan kulit lengan yang biasa tertutupi baju. Aku membuka kancing baju membiarkan angin masuk. Panas. Lamunanku buyar saat segerombolan anak ayam hampir terinjak sepatu lusuhku. Untung induknya tidak sedang berjaga-jaga di sekitar mereka, kalau ada mampus lah aku.

Langkah kakimu masih seperti biasa. Berat dan agak sedikit diseret sehingga menimbulkan bunyi decit di jalanan. Saat itu cuaca sangat panas, tapi jalan yang kita lalu basah karena genangan air hujan tadi malam. Bau khas tanah basah menyeruak masuk melalui lubang hidungku, mengirim sinyal ke otak, lalu otak memerintahkan tubuhku untuk menghindari tanah becek itu.

“Kita mau kemana, Jang?”

“Ke pantai. Sudah lama kita tidak bermain di sana.”

Aku mengekormu lagi seperti sebelumnya. Ikut kemanapun kamu pergi tanpa penolakan, tanpa pertanyaan dan tanpa elakan. Kita memang selalu bermain sepulang sekolah. Kadang di lapangan belakang rumah Pak Haji Edi, di sekitar rumah, dan di pantai. Kali ini kamu mengajakku ke pantai. hemm, aku manut saja.

15 menit berjalan denganmu tanpa suara membuatku sedikit gelisah. Aku lihat kamu sibuk sendiri dengan pikiranmu. Sementara di seberang sana nampak papan bertuliskan nama pantai yang akan kita kunjungi “Pemandian Camplong-Madura”. Tinggal menyeberangi satu jalan raya lagi kita akan sampai di pintu gerbang. Aku melirikmu, perasaanku gelisah melihat wajahmu yang entah kenapa sangat berbeda hari ini. Akhirnya aku menemukan topik obrolan bersamamu. Sayangnya, itu menjadi topik terakhir antara aku dan kamu. Sampai akhirnya semua benar-benar berakhir.

***

Aku benar-benar panik melihat kamu tergeletak bersimbah darah di depanku. Pikiranku buntu. Suaraku tercekat di tenggorokan. Persendianku seakan rontok begitu saja. Oh Ujang! Apa yang terjadi padamu? Apa yang harus aku lakukan? Kamu berdarah Jang! Itu apa Jang? Tulang tanganmu kah yang keluar dari tubuhmu? Sakitkah rasanya? Kamu baik-baik saja kan? Bukankah kita akan ke pantai? Bangunlah, Jang!

Suara-suara itu mulai memenuhi kepalaku. Tubuhku membeku. Ku lihat orang-orang mulai ramai mengelilingi tubuhmu. Aku menyeka dengan cepat genangan air di mata yang mulai mengaburkan pandanganku. Tak ingin rasanya melepaskan pandanganku dari tubuhmu, Jang.

Orang-orang semakin ramai datang menggerumunimu. Posisiku denganmu tanpa terasa semakin menjauh. Aku tak punya daya menahan tubuhku dari desakan tubuh yang lain. Atau mungkin mereka sengaja menjauhkanku darimu karena melihat aku yang tidak bisa berbuat apa-apa untukmu. Aku tidak tau harus berbuat apa, Jang. Ku paksa otakku bekerja ratusan kali lebih cepat dari biasanya. Mencari cara apa yang bisa aku lakukan sekarang untuk kamu. Biasanya apa? Aku harus bagaimana?


Ah iya, bukankah aku penguntitmu? Bukankah aku selalu mengekor apa saja yang kamu lakukan? Ku paksakan tubuhku berdiri mendekati tepi jalan raya. Orang-orang terlalu sibuk mengurusmu sehingga tidak memperhatikan aku di sini. Entah ilham darimana, aku menemukan sesuatu yang bisa aku lakukan untukmu. Cara yang memang biasa aku lakukan untukmu. Dari kejauhan aku lihat truk berukuran besar melaju kenjang.. 2 detik sebelum badan truk sampai di depanku, aku melangkah maju berdiri lebih dulu di hadapannya. Dan menyeret tubuhku padamu, Ujang. 

Monday, 16 March 2015

Naskah - AMAT DAN RAKIT JULAK INOY - Juara II Pekan Menulis Informatika

Amat dan Rakit Julak Inoy
Oleh : Rahmah Rasyidah

“Mat! Bangun!” Tubuh Emon sedikit menggigil. Tampak kegelisahan yang teramat sangat dari wajahnya. Amat mengerjap-ngerjapkan matanya dan memperhatikan sekitar. Suasana benar-benar gelap. Tidak ada cahaya apapun selain sinar rembulan. Amat bergeming. Dia menarik sarung, menutupi kepalanya dan melanjutkan tidur. Sekilas dilihat tidurnya lebih mirip seperti tidur seekor kucing. Melingkar dan meringkuk di dalam sarung.

“Mat! Bangun! Kita tersesat!” kali ini Emon mengguncang tubuh Amat sedikit lebih keras. Amat terpaksa menarik sarung dari kepalanya. Dia mengucek mata sambil mendengus kesal.

“Maksud kau apa, Mon?” jawabnya kesal.

“Kau sebaiknya membuka matamu. Kita dalam masalah!” sahut Emon dengan mimik serius. Dahi Amat bertaut kebingungan. Beberapa detik kemudian dia baru menyadari keadaan sekitarnya sangat gelap. Tidak ada cahaya rumah penduduk. Tidak ada suara kehidupan. Terdengar suara monyet hutan saling bersahutan. Jangkrik malam bernyanyi bersama suara katak. Kemudian hening.

“Kau tau kita di mana, Mat?”

“Tidak.” 

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Emon lagi. Amat tidak menjawab. Lima menit berlalu mereka terdiam. Duduk memeluk lutut menikmati angin yang berhembus.

“Kita akan menunggu pagi,” jawab Amat kemudian.

*** 

Matahari senja menyapa desa Muara Muntai. Sebuah desa terpencil di pelosok Kalimantan Timur. Perkampungan yang sangat jauh dari hiruk pikuk kota besar. Tidak ada mobil, bus, truk, atau kendaraan beroda empat lainnya. Transportasi utama di sana adalah perahu yang dikendalikan oleh mesin. Selebihnya kendaraan beroda dua seperti sepeda motor dan sepeda ontel. Muara Muntai sangat cocok untuk dijadikan pelarian. Pelarian dari polusi misalnya.

Sore di Muara Muntai sangat indah. Semua orang sibuk dengan aktifitas mereka. Anak-anak kecil bermain petak umpet di teras sebuah musholla. Sebagian para istri sibuk membantu suami mereka mengeluarkan ikan dari pukat dan jala. Sebagian yang lain sibuk menertawakan kehidupan gosip murahan. Beberapa gadis manis dengan rambut terurai panjang membawa keranjang sampah untuk di buang ke sungai. Amat melirik salah satu dari mereka. Dahlia, gadis manis idamannya di kelas. Pandangan mereka bertemu.

“Mau kemana kau, Mat?” tanya Dahlia.

“Ke sana!” jawab Amat malu-malu. Dia kemudian melanjutkan perjalanannya tanpa menoleh lagi kearah Dahlia. Pipinya memerah. Selama perjalanan, bibirnya tak berhenti menyinggungkan senyum. 

Kali ini dia menuju hulu desa. Mencuri waktu berkisah tentangnya. Hulu desa memang tempat yang tepat untuk mengurai cerita. Karena jaraknya dengan senja seperti sirna. Hangat senja memeluk tubuh kurus dibalut kulit berwarna sawo matang milik Amat. Suara bising mesin perahu mengitari sungai,  ibarat lagu yang mendayu-dayu di telinganya.

 “Kau sedang apa, Mat?” tanya Emon menepuk bahu kawannya. Tangan kanan Emon membawa ember kecil berisi alat pancing. Segumpal cacing yang menggeliat di dalam gelas plastik kecil nampak mencolok dilihat dari atas. Emon menutup gelasnya dengan plastik dan mengikatnya menggunakan karet agar cacingnya tidak keluar.

Amat menjauhkan sentuhan pensil dari bukunya dan menoleh kearah Emon. “Duduk,” jawabnya singkat.

Pandangannya beralih lagi menatap ejaan huruf di bukunya. Lima menit yang lalu dia baru saja mengambil posisi duduk tepat di ujung jembatan yang menjadi jalan raya utama di desanya.

“Aku tahu itu, Mat! Mataku bisa melihat kau sedang duduk,” Emon terkekeh dan duduk di sampingnya. “Mat, aku akan memancing di sana,” lanjut Emon lagi. Dia menunjuk salah satu rakit[1] yang dikelilingi banyak perahu. Amat melirik sebentar, kemudian mengalihkan pandangannya.

Dia menatap jembatan yang terbuat dari kayu selebar empat meter di hadapannya. Air sungai di desanya meluap. Merendam tiang penyangga jembatan setinggi dua meter di atas permukaan tanah. Air merambat sampai pekarangan bawah rumah warga. Beruntung semua rumah di sana adalah rumah panggung. Dia memperhatikan lalu lalang kaki manusia, kucing, dan ayam yang berjalan di atasnya. Sebentar lagi, banjir akan bertamu ke rumah mereka. Sebentar lagi, tidak akan ada kaki-kaki bersemayam di sana. Dan sebentar lagi, entah di pohon mana ayam dan unggas lainnya berteduh. Entah di atap mana kucing berkeluh.

“Kau bisa memancing di rakit Julak[2] Inoy itu!” jawab Amat menunjuk sebuah rumah terapung tak jauh dari tempat mereka duduk. “Arus air di sana tidak terlalu kuat dan sangat cocok untuk jenis umpan yang kau bawa,” lanjutnya lagi.

Emon menatap wajah kurusnya. “Aku kira kau tidak tahu apa-apa tentang memancing, Mat!” sahutnya. Dia mengeluarkan bungkusan plastik putih kecil dari sakunya. “Aku juga bawa beberapa kue bakwan untuk memancing patin” lanjutnya sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

“Bagus. Aku dengar, Julak Inoy sedang pergi ke kota. Dan dia tidak akan kembali sampai lusa. Kau bisa memancing di sana semalaman,” sambung Amat tanpa menoleh kearah Emon. Wajahnya nampak berpikir serius sambil menggigit ujung pensilnya.

“Wow! Sempurna! Ini akan menjadi hari memancing yang menyenangkan, Mat!” sahut Emon sumringah. “Kau mau ikut?” ajaknya. Amat menggeleng.

“Aku akan menyusul ketika matahari terbenam,” jelas Amat. Emon menepuk bahu sahib karibnya itu dan beranjak pergi. Tidak dihiraukannya lambaian Emon yang semakin menjauh.

Adzan berkumandang. Amat menutup bukunya dan segera berlari ke musholla untuk menunaikan salat maghrib. Selepas isya, dia akan menyusul Emon. Menemaninya memancing.

*** 

“Mon, arus sungai malam ini semakin deras,” sapa Amat dari arah belakang. Dia berjalan mendekati Emon. Setengah ember yang dibawa Emon sudah terisi ikan. Tapi belum ada ikan patin di dalamnya.

“Tengah malam nanti aku akan memancing patin, Mat!” sahut Emon seakan mengerti isi kepala Amat. Dia menangkap ekor mata Amat yang heran melihat isi embernya.

“Hemm,” jawab Amat. Dia mengambil posisi duduk tak jauh dari tempat Emon memancing. Memandang ribuan bintang di langit. Desa ini selalu menyimpan jutaan keindahan. Para bintang ini salah satunya. Batinnya.

Angin malam berhembus. Mengirim rasa kantuk pada Amat. Remang-remang lampu petromak rakit Julak Inoy membuat mata Amat kian berat terbuka. Beberapa menit kemudian, dia tertidur pulas di dalam sarung bercorak kotak-kotak cap Gajah Duduk Samarinda miliknya.

*** 

“Sepertinya, malam belum mau pergi, Mat! Entah kapan pagi datang,” keluh Emon. Mereka tidak bisa memperkirakan waktu. Pintu rakit terkunci. Suasana gelap. Sinar rembulan sesekali hilang tertutup awan.

“Bukannya kau akan memancing? Kenapa rakit ini bisa hanyut terbawa arus sungai?”

“Maaf, Mat. Tiba-tiba aku mengantuk. Dan memutuskan tidur di sampingmu,” jawab Emon merasa bersalah. Amat hanya terdiam. Satu jam mereka termenung dalam diam. Sama-sama merasa takut bagaimana harus bertanggungjawab dengan rakit yang mereka tumpangi. Karena lelah, akhirnya mereka tertidur kembali.

*** 

Amat terbangun mendengar gemericik ombak di tepi rakit. Suasana rakit sedikit terombang ambing. Dia mengucek matanya. Pagi datang. Rupanya baru saja lewat kapal pengangkut batu bara di tengah sungai. Muatannya yang berat menimbulkan gelombang yang besar sehingga rakit tergoncang.

“Mon, bangun! Sepertinya arus sungai membawa kita tersesat terlalu jauh,” Amat membangunkan Emon. 

Mata Emon terbelalak melihat sekitarnya. “Mat! Bagaiamana bisa eceng gondok sebanyak ini ada di sekitar kita???” tanyanya kaget. Rakit tersangkut di tengah-tengah lautan tumbuhan eceng gondok. Sekitar puluhan meter eceng gondok mengitari rakit mereka. Amat tidak menjawab.

Untuk sekian menit, mereka tidak saling bicara. Tidak ada rumah penduduk di sekitar mereka. Hanya ada hutan di seberang sungai. Kapal pengangkut batu bara sangat jarang lewat di sana. Arus sungai malam itu benar-benar sangat kuat sehingga bisa menyeret rakit mereka sejauh itu. Amat segera berdiri mendekati pintu rakit. Dia berusaha mendobrak masuk ke dalam. Emon mengikutinya. 30 menit berlalu, mereka tidak menemukan apa-apa. Tidak banyak barang yang ada di rakit itu.

“Sepertinya kita akan terjebak di sini dalam waktu yang lama,” ucap Emon lesu.

Kening Amat berkerut. Dia berpikir keras mencari jalan keluar. Emon sendiri menyandarkan tubuhnya ke dinding rakit sambil menghembuskan nafas panjang.

Lima jam Amat mengitari seisi rakit, mencoba mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk memperbaiki keadaan. Karena bosan melihat Amat mondar mandir di depannya, Emon memutuskan untuk memancing lagi. Dia masih menyisakan beberapa cacing yang sudah mati dan sepotong kecil bakwan.

“Mat! Kemari! Ada kapal!!” teriak Emon memanggil Amat di dalam rakit. Dari kejauhan nampak kapal penumpang perlahan mendekati mereka. Kali ini berbeda arah dari kapal batu bara yang mereka lihat tadi pagi. Arahnya menuju ke Muara Muntai, tempat tinggal mereka.

Amat berlari keluar rakit. Kapal yang mengangkut penumpang tujuan Melak dan Long Iram semakin tampak lekuk tubuhnya.  Dia memperkirakan sepuluh menit lagi kapal itu akan melewati depan rakit.  Dengan sigap, dia melepaskan kaosnya dan menggunakannya untuk melambai ke arah kapal. Tapi belum sempat ia melambaikan kaos kumalnya, Emon yang melihat kawannya, langsung melepas bajunya dan melambaikannya lebih cepat.

"Hoiii!!! di sini!!!" teriak Emon. Sialnya, kapal itu tidak mengurangi kecepatannya barang sedikitpun. Kedua bocah itu mulai gusar.

“Mat, sepertinya mereka tidak menyadari keberadaan kita,” wajah emon pucat pasi. Suaranya serak karena berteriak terlalu keras.
Para penumpang kapal itu mana peduli dengan dua anak laki-laki belasan tahun, terjebak dalam sebuah rakit yang tertutup hamparan eceng gondok. Saking banyaknya, hampir-hampir memenuhi sepanjang sungai sejauh mata memandang. Amat masih terdiam. Dua alisnya hampir menyatu karena ia berpikir terlalu keras, sama keras dengan teriakan Emon yang masih terdengar. Jarak kapal dengan rakit semakin dekat.

Tiba-tiba Amat berlari masuk ke dalam rakit. Dia mengbongkar isi dapur. Melakukan sesuatu yang tidak diketahui Emon, lalu keluar lagi. Emon memandang kawannya dengan heran.

“Mon, dalam hitungan ketiga, kita harus loncat ke dalam sungai!” ucap Amat cepat. Emon nampak bingung. Tapi dia menganggung cepat.

“Satu…dua…”

“Tapi apa yang kamu lakukan, Mat?” 

“Meledakkan tabung gas!”

Mata Emon terbelalak. Detik selanjutnya, Amat menarik tangan sahabatnya berlari menjauhi dapur dan melompat ke dalam air.

Darrrr!!
Rakit itu meledak begitu hebat. Suaranya menggelegar sangat keras. Burung-burung yang beristirahat di atas pepohonan sepanjang tepi sungai, langsung beterbangan kocar-kacir. Serentak seluruh penumpang kapal pun menoleh ke kobaran api yang menjilat sebuah rakit. Dengan susah-payah, dua bocah berenang melawan eceng gondok dan menjauh dari kobaran api. Mereka tersenyum sambil melambaikan tangan kearah kapal.

Kali ini, tidak mungkin para penumpang kapal itu tidak melihat mereka.

SEKIAN
 #GoreskanPenaTorehkanSejarah


[1] Rakit : rumah terapung di atas air
[2] Julak : adalah bahasa Banjar. Panggilan paman ( kakak dari orang tua ) yang umurnya sudah tua. 

Sunday, 8 March 2015

Naskah -BUNGA TIDUR- Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Senat FSI Kairo

 BUNGA TIDUR
oleh : Rahmah Rasyidah
Senin pagi yang indah. Udara musim dingin bertiup pelan. Menyapa sinar mentari yang malu-malu mengintip dari ufuk timur. Memberi kehangatan pada winter yang sebentar lagi beranjak pergi. Cici merentangkan tangan. Menghirup udara pagi yang masih sedikit berpolusi. Gedung-gedung berwarna cokelat berdiri kokoh di sepanjang jalan. Menjadi saksi banyaknya jenis kendaran yang sudah mulai memenuhi jalan raya. Ada mobil pribadi, ada juga transportasi umum seperti bus biru, bus merah, bus hijau hingga mikrolet. Uniknya, sepeda motor di sini adalah barang langka. Penggunanya bisa dihitung jari dan rata-rata para lelaki. Bukan karena peminatnya sedikit, tapi karena adat warga di sini yang menganggap aib bersepeda motor terlebih bagi wanita.
Kota ini bernama Kairo. Sebuah ibu kota dari negara yang menyimpan berjuta peradaban dunia. Kiblat ilmu untuk menggali wawasan agama. Tempat seorang wanita menghanyutkan buah hati tercinta agar bisa selamat dari kejaran rajanya yang kejam. Tak ayal sang anak tumbuh besar menjadi pemuka agama. Menaklukkan Fir’aun, sang raja yang mengaku tuhan di dunia. Sehingga Tuhan murka dan  menenggelamkan Fir’aun bersama pengikutnya di tengah samudera. Cici sudah menaruh hati terhadap kota seribu menara ini saat pertama kali dia mencuri udaranya. Saat itu hari Jum’at, 21 Oktober 2011. Dia mulai menulis sejarahnya di langit Kairo.
***
Cici mempercepat langkah kakinya. Hari ini ada banyak diktat kuliah yang harus dia lahap habis di kelas. Beruntung jarak rumah dan kampusnya tidak begitu jauh. Butuh waktu 15 menit jalan kaki untuk sampai ke mulut gerbang. Mahasiswi dari berbagai negara sudah memenuhi antrian masuk. Dengan beragam jenis kulit dan model baju sampai aroma yang membuat hidungnya serasa mati rasa. Tubuh mungil Cici berada di antara mereka. Kepalanya mendongak ke atas agar masih bisa bernafas.
Cici mencoba bersabar melewati kenyataan ini setiap pagi. Aturan masuk dengan mengantri ini memang baru saja diterapkan pada tahun ajaran 2014-2015. Untung saja, ini akhir tahun bagi Cici untuk menyelesaikan program sarjananya di Universitas Al-Azhar, Kairo. Mungkin sudah menjadi kebijakan pihak kampus untuk menghindari terjadi demonstrasi di dalam wilayah kampus. Atau? Entahlah!
“Hai Ci, nampaknya kamu butuh peninggi badan untuk bernafas,” Silvi, sahabat karib Cici berbisik di telinganya. Ia tergelak melihat respon Cici yang setengah terkejut dan kesal.
“Yee, kayak situ tinggi aja!” sahut Cici tanpa memalingkan wajah. Antrian masih sangat banyak. Melingkar menutupi seluruh sisi gerbang. Mungkin ini salah satu keunikan antrian kampusnya. Bentuk antriannya bukan memanjang, tapi melingkar. Cici bahkan tidak bisa sekedar menoleh ke arah Silvi. Benar-benar terjebak dalam arus deras lautan manusia.
“Pulang kuliah, kamu ada acara apa, Ci?” tanya Silvi. Dia tampak tidak terganggu dengan suasana berdesakan di pagi hari seperti ini.
“Hemm, ada kegiatan sih!” jawab Cici singkat.
“Kegiatan apa?” tanyanya lagi. Cici sudah mulai jenuh menghadapi nafsu knowing every particular object alias kepo sahabatnya yang satu itu. Mungkin itu tanda perhatiannya sebagai seorang sahabat. Tapi itu sudah menjadi makanan Cici setiap kali bertemu dengannya. Meski kesal juga, terkadang pertanyaannya lebih sulit ditemukan jawabannya daripada pertanyaan ujian di kampus. Akhirnya Cici tersenyum.
“Kepomu gak berkurang juga, yah!” jawab Cici terkekeh. “ Ada kajian ekonomi di Wisma Nusantara,” sahutnya lagi.
“Kamu kajian mulu kayaknya. Kajian ekonomi, kamu ikut. Kajian ushul fiqh juga. Belum lagi kursus-kursusmu itu. Gak pusing ya?” celotehnya.
Cici hanya tertawa. Cici yakin Silvi sudah tahu jawabannya. Dia memang suka mengisi waktu kosongnya untuk hal-hal berbau pendidikan. Seperti kajian-kajian atau kursus. Ditambah lagi, berbagai jenis kajian sudah menjamur di kalangan Masisir –sebutan untuk Mahasiswa Indonesia di Mesir-. Dari kajian umum, agama sampai seni seperti menulis. Waktunya juga hampir setiap hari ada. Kadang malah di jam yang sama. Tinggal milih mau masuk dalam kajian apa.
Semenit kemudian, Silvi dan Cici sudah berhasil melewati mulut gerbang. Cici berjalan tergesa-gesa. Gara-gara terjebak dalam antrian panjang itu, dia harus kehilangan 15 menit waktu belajarnya. Ah, pasti dosen killer itu sudah sampai di kelas! batinnya.
Cici mempercepat langkah menuruni anak tangga yang berbentuk huruf L. Tiba-tiba dia mendengar suara teriakan seorang wanita dari arah tangga tepat di atas anak tangga tempat dia berdiri. Detik selanjutnya, tubuh besar dibalut pakaian serba hitam itu menimpa tubuhnya. Cici terguling. Kepalanya terbentur beberapa anak tangga. Dia meringis kesakitan. Bagian belakang kepalanya terasa sangat sakit. Cici mencoba berdiri, dan semuanya menjadi gelap.
***
“Ci, bangun! Sudah mau ashar, loh! Kamu belum shalat dzuhur!” Rara, teman sekamar Cici membangunkannya yang masih tertidur pulas. Seluruh tubuhnya terbungkus selimut. Musim dingin memang momen yang sangat pas untuk tidur dan menambah berat badan.
Cici menggeliat. Tangan kanannya meraba bagian belakang kepalanya. kok sakit, ya? batinnya. Sekujur tubuhnya kaku. Seingatnya, dia baru saja jatuh dari tangga di kuliah. Kenapa bisa tiba-tiba di sini?
“Ra, kok aku bisa di sini?”
“Loh! maksudmu opo toh, Ci! Kamu dari tadi pagi tidur. ndak bangun-bangun sampai sekarang.” Gadis kelahiran Gresik, Jawa Timur itu menjawab pertanyaan Cici sambil membereskan isi lemarinya.
“Bukannya tadi aku di kuliah? Terus aku jatuh dari tangga?” tanya Cici lagi. Dia benar-benar bingung. Kepalanya terasa makin nyut-nyutan.
“Jatuh dari tangga?” Rara tertawa mengulang pertanyaan temannya itu. “Mungkin itu salah satu bunga tidur musim dinginmu kali, nduk!” lanjutnya terkekeh. Sambil meletakkan tumpukan baju terakhirnya ke dalam lemari ia keluar kamar menuju dapur.
“Tapi kok kepalaku sakit Ra??” tanya Cici setengah berteriak. Dia memegang kepalanya yang masih terasa sakit di bagian belakang. Dari arah dapur Rara membalasnya dengan berteriak juga. “yo jelas sakitlah! Wong kamu tidur dari malam sampai mau ashar!”
“hah?” mata bulat Cici terbelalak. Dia melirik jam hello kitty yang menempel di dinding kamar di atas kepalanya. Jarum pendek menunjukkan kearah pukul 03.00 pm. Pukul 03.30 pm dia punya janji rapat dengan teman-teman FLP ( Forum Lingkar Pena ) Mesir. Cici sangat anti dengan istilah jam karet, secepat kilat ia berlari menuju kamar mandi.
bruuuk! Suara pintu kamar mandi dibanting keras.
Setengah jam kemudian, Cici sudah berada di dalam bus merah menuju Hay ‘Asyir. Cici memakai setelan gamis cokelat tua dipadu jilbab kaos merek rabbani berwarna cokelat krem dan jaket musim dingin berwarna hitam. Dia menerobos kerumunan orang yang berdiri di dalam bus. Cici menggurutu kesal, bagaimana mungkin dia bisa terlambat sedangkan dia satu-satunya orang yang paling semangat memproklamasikan anti jam karet. Kepalanya masih menyisaksan nyeri di bagian belakang. 10 menit kemudian, Cici berhasil mendapatkan tempat duduk.
Perjalanan ke Hay ‘Asyir membutuhkan waktu 30 menit dari rumah. Cici melirik jam tangan pink kesayangannya. 15 menit lagi baru tiba di lokasi. Dia mengaktifkan ponsel smartphonenya, ada banyak notifikasi pesan masuk whatsapp dari berbagai pihak. Dari keputrian kekeluargaan, afiliatif, senat, grup kajian, atau pesan japri alias jaringan pribadi dari teman-temannya. Cici membuka notifikasi dari grup whatsapp FLP Mesir. Sudah banyak pemberitahuan teman-teman tentang rapat. Sebagian besar sudah datang. Banyak juga yang mempertanyakan keberadaan Cici.
Cici mana oyy??
Ada yang tau Cici ngumpet di mana? Kok belum nongol?
Wah, Miss. Anti Jam Karet kita kayanya kehabisan jam normal. Jadi ikutan make jam karet!
Bla…bla…bla… Cici mematikan ponselnya. Dia menarik nafas berat. Pasti nanti dikeroyok teman-teman, batinnya. Cici masih merasa heran dengan mimpi anehnya siang tadi. Nyeri di kepalanya masih terasa. Dia memejamkan mata. Sampai tak sadar, dia tertidur pulas di bus.
***

teeeeettt…teeeeett…
Suara bising kendaraan yang beradu di sore hari membangunkan Cici dari tidurnya. Terdengar umpatan supir bus saling bersahutan dengan seorang bapak paruh baya. Air liur muncrat mengenai pakaian lusuhnya saat ia membalas caci maki supir bus yang Cici tumpangi. Cici menggerakkan kepalanya ke luar jendela, dia menebak bapak itu juga seorang supir kendaraan umum. Pertengkaran seperti itu sudah biasa terjadi di negeri Piramida ini. Penyebabnya biasanya sama. Ada yang menyalip jalan, tersenggol mobil lain lalu terjadilah adu mulut. Tapi pertengkaran ini jarang sampai melibatkan pihak kepolisian. Hanya sekian menit saja, setelah itu seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Kepala Cici terasa sakit lagi. Kali ini lebih nyeri dari sebelumnya.
“Ci, ayo kita turun!” ajak Salma.
“Kita di mana?” tanya Cici kebingungan. Dilihatnya daerah itu nampak tidak asing.
“Loh, kita kan mau talaqqi[1] di Darrasah, Ci! Masa’ lupa? Katanya kamu sudah nyiapin uang untuk beli kitab?” sambungnya lagi.
Cici merogoh saku, ia menemukan uang 50 junaih[2] di sana. Uang ini untuk beli kitab? batinnya. Semakin Cici mencoba berpikir lagi, semakin terasa nyeri di kepalanya.
“Hari ini ngaji apa, Ma?” tanya Cici pasrah.
“Ngaji fiqh syafi’i sama Syeikh Hisyam Kamil” Jawab Salma.
Cici mengikuti Salma turun dari bus 65 berwarna merah. Jalannya sempoyongan. Segerombolan pemudi dari Thailand tampak berjalan melewati Cici. Mereka melempar senyum ke arah Cici dan Salma. Cici membalas dengan tatapan aneh.
“Ma, jam tanganku di mana ya?” Cici memeriksa pergelangan tangannya. Dia tidak menemukan jam tangan pink yang biasa dia pakai.
“Sebelum naik bus, kamu bilang kalau jam tanganmu ketinggalan.”
“Ketinggalan?” sahut Cici cepat. Aneh. Biasanya dia tidak pernah meninggalkan jam tangan kesayangannya itu. Rasanya, baru beberapa jam yang lalu dia melirik jam tangannya saat di perjalanan menuju Hay ‘Asyir, dan sekarang? Ketinggalan?
“Hemm, kamu tau gak rapat FLP kapan?” tanya Cici lagi. Salma mengernyitkan dahi. Kebetulan dia sama-sama aktifis di FLP.
“Rapat FLP besok, Ci! Jam 03.30 pm.”
“Besok?” mata bulat Cici membesar. “Bukannya ta…” Cici menghentikan langkahnya. Dia menatap Salma dalam.
“Kamu kenapa sih, Ci? Sakit?” tanya Salma mulai khawatir. Salma mengenal Cici sudah lama. Dua tahun yang lalu, dia bertemu Cici saat sedang dalam perjalanan menuju Darassah untuk mengaji. Kepribadian Cici yang supel dan mudah bergaul membuat Salma merasa nyaman berteman dengannya. Sejak saat itu, dia mengetahui sosok aktifis Cici selalu meluangkan satu hari waktunya dalam seminggu untuk mengaji kitab bersamanya.
“Rasanya tadi aku sedang di bus untuk hadir rapat FLP. Tapi tiba-tiba aku sudah sama kamu” Cici bercerita dengan suara lirih. Dia menekan kepala bagian belakang dengan tangan kanannya. Nyeri lagi, batinnya.
Salma terbahak. “Kamu terlalu memikirkan acara talk show FLP besok lusa, Ci! Rapatnya besok kok! Sudahlah, santai saja. Nanti aku bantu mempersiapkannya, oke?” jawab Salma sambil merangkul pundak Cici.
“Berarti seharian ini, aku sama kamu?”
“Iya, Ci! Mungkin itu bunga tidur kamu di bus!” jawab Salma terkekeh. Dia meraih tangan Cici dan menariknya untuk segera jalan. “Ayo cepat! Kita sudah telat!” sahutnya lagi.
            Bunga tidur?
            Tiba-tiba kepala Cici teras sangat sakit. Dia merasakan keadaan di sekelilingnya berputar-putar. Samar-samar ia mendengar suara orang yang sedang berbincang-bincang tidak jelas. Seperti suara bising lebah dalam sarangnya. Pandangan Cici mulai kabur. Nafasnya tertahan. Dicarinya Salma, tapi dia sudah tidak melihatnya lagi di sampingnya. Cici mencari sesuatu untuk dijadikan pegangan tapi tidak ia temukan. Dia terjatuh dan semuanya gelap.
***
            Cici membuka mata. Dia meringis saat mencoba duduk. Kepalanya terasa berat. Nyeri seperti tertusuk ribuan jarum di sana. Dia melihat ke sekelilingnya, ada dua lemari kayu yang sudah tampak tua dan reyot berbaris dua meter dari hadapannya. Di atas kepalanya, jam dinding hello kitty masih mengeluarkan bunyi ‘tak tik tak tik’. Hampir seperti suara ketukan pena di atas meja seorang guru yang sedang mengawasi muridnya di ruang ujian.  Cici menyadari dia sedang terbaring di kamarnya.
            “Guys, Cici sudah bangun, nih!” teriak satu orang. Entah siapa itu Cici tidak bisa mengenali suaranya. Terdengar deru langkah kaki mendekati ruangan Cici. Silvi, Salma, Rara, Intan, Iir, dan beberapa teman rumahnya menyerbu Cici.
“Gimana kabarmu, Ci?” tanya Salma bersemangat. Cici menatap mereka satu persatu. Adegan jatuh dari tangga, terlambat datang rapat FLP, dan pingsan saat akan menghadiri talaqqi bersama Syeikh Hisyam seperti disiarkan ulang dalam benaknya. Dia sudah tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak.
“Aku mimpi lagi, ya?” tanyanya memastikan.
“Maksud kamu apa, Ci?” Intan teman serumahnya bertanya balik. “Kepalamu masih sakit, Ci?” Silvi menimpali. Mereka semua mulai tampak khawatir. Jangan-jangan Cici kehilangan ingatan karena kepalanya terbentur terlalu keras.
“Kok, kalian tahu kepalaku sakit?” tanya Cici heran. Sejauh ini dalam mimpi Cici tidak ada yang menyadari tentang sakit kepalanya.
“Kamu kan baru sadar dari pingsan, Ci.” Jawab Rara.
Pingsan? Pingsan yang mana? Jatuh dari tangga? atau pas talaqqi? Cici mulai kebingungan. Kali ini dia benar-benar yakin bahwa dia sedang bermimpi lagi.
“Ci, aku minta maaf, ya! Gara-gara aku gak sengaja menginjak pakaian orang mesir di depanku, dia jadi jatuh nimpa kamu, deh!” Silvi menjelaskan dengan raut wajah menyesal. Kening Cici bertaut bingung.
“Kamu juga dapat salam dari teman-teman FLP. Rapat gak ada kamu gak asik kata mereka” sambung Salma tersenyum.
“Teman-teman senat juga titip salam, Ci. Semoga cepat sembuh!” Intan menimpali. Selanjutnya Cici kebingungan menerima banyak salam dari berbagai pihak. Cici hanya diam.
“InsyaAllah ada hikmahnya, setidaknya Cici sekarang bisa istirahat dari jutaan aktifitasnya itu”
“Iya, Ci. Tubuh kamu juga butuh istirahat” sahut yang lainnya.
“Tapi acara talk show FLP tanpa Cici, hampa euy!” Salma menimpali. Mata bulat Cici membesar. Dia menatap Salma dalam. “Acara FLP sudah diadain?” tanyanya.
“Sudah Ci, kemarin” jawab Salma.
“Berapa lama aku pingsan?”
“3 hari” jawab mereka serempak.
“Hah?” Cici shock. Mulutnya terbuka lebar. Nyeri kepalanya makin terasa. Seketika ia berharap yang ini juga termasuk bunga tidurnya.  
SEKIAN




[1] Talaqqi : diambil dari kata bahasa arab yang diartikan bertemu dengan seorang Syeikh dan duduk bersama beliau untuk mengaji ilmu agama.
[2] Sebutan untuk mata uang Negara Mesir.