Wednesday, 15 October 2014
Ersyie Al-Hamidy: Lembayung Cinta
Ersyie Al-Hamidy: Lembayung Cinta: "Lembayung Cinta" Lagi-lagi aku harus bercerita padamu. Berkisah denganmu. Berhikayat bersamamu. Kamu tau? Aku dan kamu ...
Wednesday, 8 October 2014
Lembayung Cinta
"Lembayung Cinta"
Lagi-lagi aku harus bercerita padamu. Berkisah denganmu. Berhikayat bersamamu. Kamu tau? Aku dan kamu laiknya teko dan gelas. Aku tekonya, dan tentu saja kamu gelasnya. Aku hanya menumpahkan semua yang ada dalam diriku tanpa peduli gelasmu penuh atau malah isinya tumpah keluar.
Egois?
Ya! Aku memang terlalu egois untukmu. Tapi kamu terlalu lembut untuk tetap
tersenyum menyambut keegoisanku.
Itulah aku dan kamu! Laksana bumi yang tak
pernah menemukan pengganti berkeluh kesah pada bulan. Kamu mungkin sudah lelah
mendengarku. Senang, sedih, marah, kesal dan semua rasaku yang kamu tau
bagaimana itu. Tapi sekarang sudah berbeda. Ada yang berubah dari sikapmu.
Kenapa kamu hanya diam saja tiap kali aku bercerita? Kamu marah padaku? Atau kamu
mulai bungkam semenjak aku bercerita tentang dia?
***
Penghujung musim panas memang waktu yang pas
untuk bersantai di sini. Di samudera pasir tak bertuan, di belahan bumi bagian
timur tengah. Sebagian manusia senang menghabiskan waktu mereka di sini. Sekedar
melepas penat atau untuk merenungi salah satu keajaiban ciptaan Tuhan. Di
sinilah, kesombongan manusia tidak ada gunanya. Keangkuhan musnah tertimbun
rasa malu dan kerdil di hadapan Sang
Pencipta.
Siang itu, segerombolan anak manusia
mengujungiku. Kali ini dalam jumlah yang banyak. Dari kejauhan aku menghitung
mereka yang turun dari bus besar berwarna gelap. Ada sekitar 43 orang, setengah
di antaranya masih remaja dan berjalan berpasang-pasangan. Pada awalnya mereka
berkumpul tak jauh dari tempat bus mereka diparkir. Tampak seorang laki-laki
bertopi dan memakai jeans selutut sedang berbicara dengan pengeras suara kearah
mereka. Bisa ditebak, dia pasti seorang pimpinan rombongan.
“Ada yang datang” celetuk Angin menghampiriku
dari arah belakang.
“kau terlambat. Aku sudah memperhatikannya
sejak tadi” jawabku sekenanya. Angin memang suka bermain sendiri. Pergi ke
tempat yang jauh, dan datang sesekali untuk menjengukku di sini. Hari ini aku
meminta dia untuk menemaniku sampai matahari terbenam. Aku senang dia
menyanggupinya.
5 menit kemudian, anak manusia itu mulai
berpencar. Tentu saja aku dan Angin merasa kegirangan. Kami berputar-putar dan
mulai mendekat kearah mereka. Mereka sangat bahagia menikmati permainanku
bersama Angin. Ku belai lembut ujung rambut mereka, wajah, tangan, kaki, bahkan
aku berhasil masuk disela-sela lubang kaos kaki busuk mereka. Permainanku dan
Angin memang menarik. Meski mereka seringkali mengedipkan mata menghindari
sentuhanku, tapi Angin selalu berhasil membuat mereka menikmatinya.
Hampir saja aku melupakanmu karena terlalu asik
bermain bersama Angin. Aku tau kamu ada di sana. Jauh di sana menyaksikanku
bermain. Aku coba tersenyum padamu dengan gaya khasku. Seperti biasa, aku akan
berputar satu kali ke atas dan perlahan Angin melemparku kearahmu. Biasanya
kamu akan membalas senyummu dengan menggerakkan duri yang tertancap tubuhmu.
Belum
sempat aku melihat responmu, Aku bertemu dua anak manusia yang sedang
bercengkrama. Mereka berjalan menghampiriku dan Angin. Aku bisa merasakan kemesraan mereka. Saat mereka saling
bergandeng tangan dan saling bertatap mata. Seakan mampu menghangatkan satu
sama lain hanya dengan jumpa mata saja. Aku mulai berhenti bermain dan tertarik
memperhatikan mereka saat samar-samar aku mendengar salah satu diantara mereka
bercerita tentang Laut.
“Siapa itu Laut?” tanyaku pada angin. Aku
mencoba menghentikan geraknya, tapi aku gagal.
Angin berputar-putar di sampingku dan menjawab
singkat “Dia penguasa air”.
“Pernahkah kamu bertemu dengannya?”
“Tentu” jawabmu masih dengan gerakan yang sama.
“Setiap kali aku meninggalkan tempat ini, aku selalu menyempatkan singgah
menemui Laut. Tidak seperti dunia kita, Laut mudah ditemui di mana-mana. Bahkan
hampir di setiap belahan bumi pasti ada Laut”
“Benarkah? Bisakah aku menemuinya?” pintaku
dengan mimik serius. Angin mulai menghentikan gerakannya.
“Kamu memang berbeda dengan saudaramu yang
lain. Kamu terlahir dan ditakdirkan untuk hidup di sini. Di tempat segersang
ini. Tidak seperti bangsa sejenismu yang banyak tinggal di pesisir pantai,
kawasan kekuasan Laut. Mereka bisa mengenal Laut, berbagi cerita, dan saling
menguntungkan satu sama lain”
Aku mulai terdiam. Mencoba mencerna kata-kata
yang baru saja Angin ucapkan. Sudah sekian lama aku hidup di sini. Sudah jutaan
manusia datang mengunjungi duniaku, ini pertama kalinya aku mendengar cerita
yang menarik seperti itu.
Aku mulai tertarik mendengar cerita tentang
Laut. Sengaja aku berhenti bermain dan mengitari sepasang anak manusia yang di
mabuk kasmaran itu. Kupinta Angin untuk bermain di tempat yang lain agar aku bisa lebih fokus mendengarkan cerita
mereka tentang Laut. Saat itu di penghujung musim panas, matahari bersinar ala
kadarnya dan tidak terlalu menyengat. Langitpun tampak cerah, seperti juga ikut
menyimak cerita itu bersamaku. Sesekali aku mendengar Langit berbisik bahwa ia
juga sering menikmati kecantikan Laut. Memandangnya tak berkedip dari atas
sana.
“Laut mana yang akan kita kunjungi?” Tanya si
gadis berkacamata dengan rambut panjang terurai sebahu kepada kekasihnya. Dia
meletakkan kepalanya kepundak sang kekasih dengan manja.
“Di sebelah Timur sana. Konon, di sana salah
satu tempat wisata yang di gemari banyak orang” Lalu sang kekasih mulai
bercerita tentang Laut yang dia maksud. Aku menyimak seakan aku menyaksikan
keindahan Laut bersama mereka. Entah seperti apa wujud Laut itu sebenarnya.
Dapat kubayangkan betapa cantiknya Laut itu.
Biru warnanya luas membentang. Keindahannya sejauh mata memandang. Ombak yang
berkejaran di tepian pantai. Saat matahari terbenam, kecantikannya semakin
sempurna ditambah sketsa lembayung senja yang memberi rona merah jingga
keemasan kepada bumi. Bahkan cerita yang aku dengar dari mereka, hampir setiap
menit manusia selalu mengunjunginya. Tentu saja tidak sepertiku, manusia hanya
mau mengunjungiku saat tidak sedang puncak musim panas.
Aku semakin terhipnotis akan kecantikan Laut.
Padahal sekalipun tak pernah aku berjumpa dengannya. Seumur hidupku aku
habiskan disini. Yah, di duniaku yang gersang ini. Siang dan malam aku habiskan
bermain bersamamu, Angin, dan segerombolan anak manusia ketika mereka
mengunjungiku. Itu saja.
Aku tersadar dari lamunanku saat sepasang anak
manusia itu pergi. Mungkin waktu berkunjung mereka sudah habis. Dan mereka
harus melanjutkan tamasya mereka ke tempat yang lain. Bayang-bayang cerita
mereka seperti tertinggal di tempat di mana mereka duduk. Menyisakan tanda
tanya. Tiba-tiba aku resah. Rasanya ingin mendengar cerita tentang Laut lebih
lama. Menahan sepasang kekasih itu untuk bercerita lebih banyak di sini.
***
Seperti ada yang aneh dalam diriku. Sejak saat itu, cerita-cerita tentang Laut lebih menarik perhatianku daripada bermain bersama Angin. Bahkan saat Angin mengajakku bermain bersama segorombolan anak manusia, aku lebih memilih menjauh ke tempat lain. Apa aku jatuh cinta pada Laut? Jatuh cinta pada kecantikannya yang abstrak. Jatuh cinta pada keindahannya yang hanya aku lihat dengan telingaku saja. Mata dan logikaku tidak berfungsi. Atau aku sudah mulai gila? Entahlah!
Saat langit mulai keemasan. Matahari berpamitan
denganku dan berjanji akan menemaniku bermain lagi esok hari. Seperti biasa,
yang ada hanya kesunyian. Tidak ada suara selain suaraku, Angin, dan desah
nafasmu. Tentu saja saat malam datang, tidak akan ada anak manusia yang mau
bermalam ditempat ini. Kecuali segelintir orang yang terpaksa berteduh disini
karena harus melakukan perjalanan jauh.
Aku bercerita semuanya padamu. Tentang sepasang
anak manusia, tentang kemesraan mereka dan tentang Laut. Aku juga memberitahumu
sebesar apa rasa kagumku padanya. Aku benar-benar ingin berjumpa dengannya.
Menyaksikan keindahannya langsung di sana. Aku terus bercerita di depanmu
sambil menjelaskan angan-anganku menemui Laut.
Mengitari tubuhmu yang berdiri tegak. Membelai duri-duri tajam yang
tertancap di tubuhmu.
Aku masih ingat saat seorang anak kecil
bertanya pada ibunya tentang dirimu. “Ibu, kenapa pohon kaktus itu bisa
bertahan hidup sendiri di sini?”.
Katanya. Ah, andai saja dia bisa mendengarku. Tentu akan aku jawab “Kaktus tidak pernah sendiri, dia bisa bertahan karena ada Aku, si Pasirmu dan Angin”.
Katanya. Ah, andai saja dia bisa mendengarku. Tentu akan aku jawab “Kaktus tidak pernah sendiri, dia bisa bertahan karena ada Aku, si Pasirmu dan Angin”.
Biasanya kita akan saling membela. Tapi tidak
untuk senja itu. Gerakanku terhenti saat aku sadar bahwa kamu tidak merespon
apapun. Bahkan tidak dengan senyum yang biasa aku lihat saat kamu sedang
mendengarkan semua kisahku. Berulang kali aku tanyakan kenapa kamu bisu. Kamu
hanya melirikku. Dan semua lamunanku tentang Laut buyar seketika saat aku
mendengar jawabanmu.
“Aku lebih dulu mengagumimu jauh sebelum kamu mengagumi Laut. Tapi Aku sadar, semua ini hanya sebatas kekaguman. Seperti kamu memandang kagum Laut dari jauh, seperti itu pula aku memandangmu kagum dari sini. Jauh dan tanpa pernah bisa bersatu”
Katamu sore itu. Ah, ternyata ini alasan kamu
lama mendiamkanku. Ini sebab kamu bungkam tiap kali aku ajak bercerita.
Aku mengalihkan pandangaku menatap Lembayung
Senja di ufuk barat. Rona merah jingga pada tubuhnya memancarkan kesejukan.
Berbagi sinar penuh cinta tanpa belas kasih. Dia mencoba menghiburku dengan
melebarkan sinarnya ke penjuru langit. Aku tersenyum kecut.
Aku sadar, cinta dan kekaguman seperti
lembayung yang kamu miliki, Senja. Indah dan dipuja saat ia bertahta menghiasi
cakrawala. Dikagumi manusia, dipuja bumi saat pesona lembayungmu menguasai ufuk
barat. Mereka akan tersadar bahwa kamu tidak selamanya bisa dimiliki saat malam
merenggut tempatmu. Memaksamu pergi meski mereka tak rela.
Kamu benar, Senja. Andai aku lebih mendengarmu
kala itu. “Anugrah terbesar untuk kita adalah dapat saling mengagumi, meski
dari jarak yang jauh”
Labels:
Kumpulan Cerpen
Garis Pengembara: AKTIVIS? Pilihan atau Tuntutan?
Garis Pengembara: AKTIVIS? Pilihan atau Tuntutan?: AKTIVIS? Sebagai seorang pelajar atau mahasiswa, kata aktivis itu udah gak asing lagi di telinga. Biasanya, ketika bnayak ngikut kelas t...
Sunday, 10 August 2014
AKTIVIS? Pilihan atau Tuntutan?
AKTIVIS?
Sebagai seorang pelajar atau mahasiswa, kata aktivis itu udah gak asing lagi di telinga. Biasanya, ketika bnayak ngikut kelas tambahan di SMA, teman-teman langsung manggil 'aktivis'. Atau contoh sederhana yang pernah sy jumpai, ketika nemu seseorang yang dimana-mana ‘ada’. Entah adanya karena dia memang suka kemana-kemana gak jelas, atau memang dia banyak kegiatan, eh orang-orang tiba-tiba bilang "ciiee cieee, aktivis niye"
Nahlo, Sebenarnya aktivis itu apa sih?
sy setuju kalau ada yg bilang, definisi sebuah kata gak melulu diartikan sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sebuah kata juga bisa kita definisikan melalui pengalaman. Tapi gak ada salahnya kan kalau kata 'aktivis' kita artika sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia dulu setelah itu baru ditinjau dari pengalaman yang ada.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, aktivis adalah "orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yg bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan di organisasinya" atau bisa diartikan juga "seseorang yg menggerakkan (demonstrasi dsb)". Seorang aktivis juga bisa kita sebut 'tokoh', 'penggerak', atau 'penggagas'. Yang artinya, seorang aktivis itu adalah penggerak, tokoh, dan penggagas yang bergerak di seuatu organisasi dengan menyumbangkan tenaga dan fikiran demi mewujudkan visi dan misi yang ingin dicapai.
Nahlo, Sebenarnya aktivis itu apa sih?
sy setuju kalau ada yg bilang, definisi sebuah kata gak melulu diartikan sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sebuah kata juga bisa kita definisikan melalui pengalaman. Tapi gak ada salahnya kan kalau kata 'aktivis' kita artika sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia dulu setelah itu baru ditinjau dari pengalaman yang ada.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, aktivis adalah "orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yg bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan di organisasinya" atau bisa diartikan juga "seseorang yg menggerakkan (demonstrasi dsb)". Seorang aktivis juga bisa kita sebut 'tokoh', 'penggerak', atau 'penggagas'. Yang artinya, seorang aktivis itu adalah penggerak, tokoh, dan penggagas yang bergerak di seuatu organisasi dengan menyumbangkan tenaga dan fikiran demi mewujudkan visi dan misi yang ingin dicapai.
Kalau ditinjau dari segi pengalaman (terutama pengalaman penulis), aktivis itu bisa dibagi menjadi dua bagian.
ada aktivis dalam hal positif dan ada aktivis dalam hal negatif. Loh, emang bisa? ya bisa aja lah! Begitu halnya kehidupan, ada siang ada malam. ada baik ada buruk. Seorang aktivispun gak semuanya bekerja dalam hal yang baik. Aktivis dalam hal negative contohnya aktivis preman di pasar. Keliling kesana kemari buat malakin orang-orang lemah. Atau aktivis mucikari, kemana-mana nyari gadis gadis polos biar mau di ajak kerja di kota dengan di iming-imingi mereka bakal dapat gaji yang besar kalau mau berkerja dengannya. Atau para koruptor, atau pembelot-pembelot Negara yang pandai bersilat lidah. Mereka juga aktivis kan? Karena meraka adalah seorang penggerak yang mencurahkan tenaga dan fikiran untuk mencapai tujuan mereka, tapii dalam hal negatif.
Akan tetapi, aktivis dalam hal kebaikan juga gak kalah banyak. Contohnya kaya aktivis rohis di banyak sekolah Indonesia. Para pelajar baik yang masih menengah pertama atau menengah atas berlomba-lomba bergerak dalam kebaikan. Para mahasiswa banyak yang bergabung dalam organisasi-organisasi untuk membangun bangsa. Ibu-ibu pengajian yang bergerak dalam bidang dakwah di banyak desa dan kelurahan. dan masih banyak lagi contoh para aktivis yang memiliki peran aktiv dalam membangun agama dan bangsa mencapai cita nya yang luhur.
Gak semua orang bisa menjadi aktivis. Nahlo? Kenapa?
Karena menjadi aktivis itu adalah naluri atau karakter yang memang sudah tertanam dalam diri manusia. Ada yang memang suka berkegiatan, pergi kesana-kemari, dikenal banyak orang de el el. Bahkan dalam seminggu dia hampir gak punya waktu libur. Istirahatnya hanya ketika tidur malam. Dan yang sebaliknya juga banyak. Orang-orang yang gak suka berkegiatan di luar. Hobinya menghabiskan waktu di rumah, atau hanya memilik satu tujuan ketika keluar rumah. Kantor-rumah-kantor-rumah. kampus-rumah-kampus-rumah. Fix! Gak kemana-mana lagi. Gak suka ketemu orang banyak, lebih memilih duduk di rumah menamatkan komik atau buku bacaannya, atau hanya sekedar menghabiskan daftar film yang belum di tonton.
orang yang menghabiskan waktunya di rumah gak semuanya negatif. Ada juga profesi yang menghabiskan waktu di rumah saja. Contohnya? penulis. kerjaannya di rumah, ngetik, ngirim tulisan, dapet honor. Gampang kan? tapi bibit dan bobotnya jelas! :D
Menjadi seorang aktivis itu adalah paksaan??
Gak juga! Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, aktivis itu adalah naluri yang ada dalam diri seseorang. Seorang aktivis sejati gak bakal pernah merasa bosan atau terbebani dengan kegiatannya yang sekaliber itu. Banyak kok kasus, seorang aktivis yang dipaksa berhenti dari semua kegiatannya malah jatuh sakit, atau seorang mahasiswa yang dikenal rajin dan pandai oleh dosennya mendadak telat mengumpulkan skripsinya hanya karena dia meninggalkan seluruh kegiatannya.
Artinya, aktivitas dan kegiatan bagi seorang aktivis itu seperti sebuah pemicu bagi hidupnya. Seorang aktivis sejati menjadikan segala aktivitasnya sebagai ladang menambah pahala atau cambuk semangat agar sekolah dan kuliahnya lancar. Dan juga sebagai wadah menyambung silaturahmi, menambah saudara seiman yang memiliki satu visi dan misi dalam mencapai suatu tujuan. Banyak hal positif yang bisa didapat dari seorang aktivis. Tergantung bagaimana kita menyikapi segala aktivitas yang dijalani.
Ohya, Seperti saya sekarang, yang mendadak menjadi orang linglung di rumah karena gak ada kegiatan. Rasanya otak dan badan sakit semua ketika kosong dari aktivitas di luar rumah. Mungkin saya masuk dalam barisan salah satu aktivis di sini (Red : Kairo). :D
Tapi satu catatan penting yang saya dapat dari pengalaman saya menjadi seorang aktivis. Jangan menjadi aktivis 'tong kosong nyaring bunyinya'. Atau menjadi aktivis pengekor senior-senior yang kerjaannya hanya mengikuti intruksi dari atasan. Sudah saatnya menjadi aktivis yang memberi manfaat dan faedah untuk orang lain. Caranya dengan mengisi sebanyak-banyak ilmu dalam diri kita dan memperindah diri dengan akhlak mulia. Dengan harapan, Semoga suatu saat bisa menjadi aktivis, tokoh, penggerak dan penggasas yang mampu beramar makruf nahi mungkar dalam membela agama dan bangsa.
dan sepertinya, sy masuk barisan ini dulu. pengisi daya ilmu, sampai suatu saat daya sy di gunakan orang lain. :)
Wallahua'lam bisshawab
Cat : ini hanya opini dari penulis. Hal-hal yang tidak di setujui silahkan bantah dg opini juga. :)
Labels:
Curhat Wawasan
Monday, 30 June 2014
Sejarah Ringkas Syi’ah
Secara
garis besar Syi’ah dipersatukan satu doktrin, meyakini ada imam setelah Nabi
wafat dan imam itu diwarisi oleh keturunan Rasulullah yaitu anak-anak Fatimah
binti Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib. Ketika Persia ditaklukkan, di antara
tawanan terdapat tiga putri Khusro. Salah seorangnya dinikahkan dengan Husain
bin Abi Thalib. Pernikahan itu menghasilkan Ali Zainal Abidin. Rakyat Persia
menemukan kembali harga dirinya sebagai bangsa yang besar. Darah kenabian dan
darah kekaisaran Persia mengalir pada keturunan Husain. Itu sebabnya Syi’ah
lebih memuliakan keturunan Husain daripada Ahli Bait yang lain.
Akan
tetapi, hal itu tidaklah mutlak. Ada pengecualian bagi Syi’ah Zaidiyah. Mereka
juga mengangkat imam dari keturunan Hasan bin Abi Thalib. Zaidiyah bahkan
dikenal lebih dekat dan lebih moderat terhadap Kaum Syafi’i dan Hanafi, tapi
tak lepas dari unsur Fiqh Ja’fary. Secara akidah, Syi’ah Zaidiyah mirip dengan
Mu’tazilah meski tetap saja berbeda.
Di antara
tiga kelompok besar Syi’ah yaitu Syi’ah Imamiyah (Itsna Asyariyah), Syi’ah
Ismailiyah dan Syi’ah Zaidiyah, Syi’ah Imamiyah memiliki jumlah terbanyak,
selanjutnya Syi’ah Ismailiyah kemudian diikuti Syi’ah Zaidiyah. Perbedaan
mendasar mereka ditengarai oleh pengangkatan imam. Adapun urutan imam tersebut
adalah :
Pertama : Ali bin Abi Thalib (600-661)
Kedua : Hasan bin Ali ( 625-669 )
Ketiga : Husain bin Ali ( 626-680 )
Keempat : Ali bin Husain ( 658-713 )
Kelima : Muhammad bin Ali ( 676-743 )
Keenam : Ja’far bin Muhammad ( 703-765 )
Ketujuh : Musa bin Ja’far ( 745-799 )
Kedelapan
: Ali bin Musa ( 765-818 )
Kesembilan : Muhammad bin Ali ( 810-835 )
Kesepuluh : Ali bin Muhammad ( 827-868 )
Kesebelas : Hasan bin Ali ( 846-874 )
Kedua
belas : Muhammad bin Hasan ( 868-? )
Syi’ah Imamiyah
meyakini pada kedua belas imam. Adapun imam terakhir lenyap tanpa ketahuan
rimbanya. Konon imam itu akan kembali lagi sebagai al–Mahdi. Sedangkan Syi’ah
Ismailiyah bersitegang pada pengangkatan Ismail sebagai imam ketujuh yang sah.
Ismail telah ditunjuk sebagai pengganti ayahnya Ja’far bin Muhammad. Sayangnya,
Ismail lebih dahulu wafat daripada ayahnya.
Dengan
wafatnya Ismail, Syi’ah Imamiyah lantas memindahkan kursi kekhalifahan kepada
saudaranya Musa bin Ja’far. Akan tetapi Syi’ah Ismailiyah tidak mau mengakuinya
dengan dalih pangkat seorang imam tidak bisa dipindahkan begitu saja pada
saudaranya. Imam tetap harus diwarisi dari ayah ke anak lelaki tertua. Oleh
karena itu, Syi’ah Ismailiyah lebih memilih mengangkat keturunan Ismail sebagai
imam mereka selanjutnya. Mereka sangat teguh dalam prinsip imam diwarisi dari
ayah ke anak lelaki tertua. Selain sebutan Ismailiyah, mereka juga dikenal
sebagai Syi’ah Sab’iyah atau Syi’ah yang percaya pada tujuh imam.
Dari segi
kedaulatan dan kekuasaan Syi’ah Ismailiyah adalah yang paling berjaya. Syi’ah
yang lain memang pernah berkuasa, tapi itu didapatkan dengan mendomplang dan
bukan berdiri sendiri. Sedang Syi’ah Ismailiyah berhasil mendirikan dinasti
dengan dasar Negara Syi’ah Ismailiyah yang lebih dikenal dengan dinasti
Fatimiyah di Mesir. Pada dasarnya, mereka bukan di Mesir. Fatimiyah awalnya
berdiri di Afrika Utara, sekitar kawasan Maghrib bagian timur. Abdullah
al-Mahdi Billah mengaku punya garis keturunan dengan Rasulullah melalui pasangan
Fatimah dan Ali bin Abi Thalib. Dengan doktrin itu, ia berhasil menggalang
kekuatan dan menjadi khalifah pertama Fatimiyah tahun 909 M / 297 H. oleh
karena itu dikenal dengan dinasti Fatimiyah.
Oleh
karena Syi’ah Ismailiyah sangat kukuh soal ahli waris, akibatnya banyak
khalifah yang naik tahta pada usia dini. Selama menunggu khalifah dewasa,
pemerintahan diwakilkan pada dewan menteri. Dengan kata lain, pada saat itu
para menteri lah yang menjadi khalifah dan memiliki kuasa yang besar. Hal itu
juga memiliki sisi positif yang menguntungkan khalifah. Di antaranya potensi
sengketa peralihan tahta dapat diminimalisir dan tidak ada klaim atau protes
pada penunjukan ahli waris. Konflik antar-keluarga kerajaan juga tidak banyak
terjadi karena sudah jelas yang hanya boleh menjadi khalifah adalah anak lelaki
tertua.
Jalan
kehidupan tidak selamanya mulus. Adakalanya lika-liku kehidupan menjadi saksi
bahwa hidup tidak berdasarkan kehendak manusia semata. Begitupula yang terjadi
pada Syi’ah Ismailiyah. Selama dua abad mereka mempertahankan prinsip ahli
waris dalam kekhalifahan, ada saja yang mencoba melenceng dari aturan itu.
Secara keseluruhan, ada empat belas khalifah yang mengatur dinasti Fatimiyah.
Dan sudah tiga kali terjadi peralihan kuasa tidak pada putra khalifah.
Peristiwa
pertama, khalifah keenam al-Hakim bi Amrillah ( 996-1020 ) menunjuk
keponakannya Abdurrahim bin Ilyas sebagai pewaris tahta. Usaha ini berhasil
digagalkan oleh saudara perempuan khalifah sendiri yaitu Sitt al-Malik. Dia
bahkan berhasil mendalangi pembunuhan Abdurrahim bin Ilyas. Tahta selanjutnya
dikembalikan pada yang berhak yaitu anak khalifah az-Zahir Li I’zazi Dinillah.
Peristiwa
kedua, khalifah kesebelas al-Hafidz Li Dinillah ( 1130-1149 ) naik tahta secara
kontroversial karena posisinya sebaga saudara sepupu khalifah. Hal itu kembali
terulang oada al-‘Adhid Li Dinillah 9 1160-1171 ) khalifah keempat belas juga
sebagai sepupu khalifah sebelumnya.
Peristiwa
ini tentu sangat menghebohkan dinasti Fatimiyah. Sejak saat itu Fatimiyah
berangsur-angsur melemah. Banyak terjadi perpecahan dan pihak-pihak yang
berseberangan. Militer Negara dan keluarga kerajaan sering kali bersitegang.
Pada
awalnya, Dinasti Fatimiyah semakin maju dan sangat cepat berkembang. Seluruh
Maghrib yang luas itu telah di kuasai, bahkan pada tahun 969 M / 358 H
Ismaliyiah berhasil mengalahkan Dinasti Ikhsyidiyah di Mesir. Empat tahun
sesudahnya Cairo resmi menjadi ibu kota baru bagi dinasti Fatimiyah. Dinasti
ini bertahta hampir dua abad, dari tahun 909-1171. Sampai akhirnya Salahuddin
Ayyubi bersama pamannya Asaduddin Syirikuh mengambil alir Mesir. Salahuddin
mendirikan dinasti Ayyubiyah. Dia mengubah madzhab negara dari Syi’ah kembali
ke Sunni.
Malangnya,
kejeniusan Salahuddin tidak diwarisi keturunannya. Dinasti Ayyubiyah tak
bertahan lama. Usia dinasti ini bahkan tidak sampai satu abad. Mereka berkuasa
dalam kurun waktu 1171-1250 sampai selanjutnya digantikan oleh dinasti Mamalik.
Adapun
bagi Syi’ah Zaidiyah, siapa saja yang punya kapasitas mumpuni menjadi imam, dia
berhak diangkat menjadi imam. Mereka berbeda dalam urutan imam kelima. Zaidiyah
lebih mengakui imam Zaid bin Ali daripada Muhammad bin Ali. Menurut mereka,
imam Ali bin Abi Thalib dan Husain bin Ali telah memberi contoh bagaimana
seorang imam harus bersikap hingga menjadi syahid.
Sekilas
tentang Thaifah Islamiyah…
Sejarah
telah mencatat, pada tahun 1256 M panglima perang tentara Mongol Hulagu Khan
dengan jutaan bala tentaranya menyerang Thaifah Islamiyah di Iran. Perang yang
dimenangkan oleh tentara Mongol setelah mengepung selama berhari-hari ini
menjadi catatan keruntuhan Thaifah Islamiyah yang selama dua abad lamanya
berkuasa di bumi. Tentara Mongol atau biasa disebut tentara Tartar memang
terkenal dengan kebengisannya. Mereka membunuh tanpa ampun. Laki-laki, wanita,
tua-muda tanpa mengenal belas kasih mereka musnahkan seluruhnya.
Thaifah
Islamiyah di Iran saat itu dikenal sebagai sempalan atau pembelot dari
Ismailiyah Fatimiyah. Mereka dikenal luas sebagai Nizariyah. Nizariyah sendiri lahir
dari konspirasi para menteri dan pertikaian para menteri yang menyebabkan
keruntuhan Fatimiyah. Para menteri tidak hanya menikmati pengaruhnya seumur
hidup, namun juga turun temurun. Keturunan para menteri biasanya diangkat juga
sebagai menteri. Tak ayal mereka seakan menciptakan dinasti mereka sendiri yang
terselubung.
Pada
penobatan khalifah kesembilan terjadi sengketa hebat antara pangeran mahkota
dan perdana menteri. Nizar, anak tertua yang ditunjuk ayahnya sebagai khalifah
tidak diakui oleh Syahansyah, sang menteri. Syahansyah yang memang sejak lama
bertikai dengan Nizar lebih memilih Abu Qasim Ahmad, anak bungsu khalifah.
Malangnya, sengketa berujung dengan kekalahan pihak Nizar. Syahansyah kemudian
menobatkan Abu Qasim Ahmad sebagai khalifah dengan gelar al-Musta’ly. Para
pendukung Nizar berontak dan muncullah kelompok Nizariyah.
Sejak
saat itu Ismailiyah terbagi pada Nizariyah dan Musta’liyah. Nizariyah mengambil
markas besarnya di Benteng Alamut. Adapun Musta’liyah tetap di Cairo, Mesir.
Dendam kesumat dalam diri kaum Nizariyah terhadap Fatimiyah tumbuh subur.
Mereka memiliki gerakan mata-mata yang sangat ulung. Banyak korban pembunuhan
para pembesar akibat ulah mereka. Puncaknya ketika pasukan rahasia Nizariyah
berhasil membunuh khalifah kesepuluh Dinasti Fatimiyah, al-Amir bi Ahkamillah (
1130 ).
Berawal
dari pemberontakan atas khalifah Fatimiyah, Nizariyah akhirnya menjadi sekte
yang memiliki pasukan pembunuh bayaran yang terlatih. Mereka siap membunuh diri
jika ketahuan. Bahkan tidak takut membunuh korban di depan umum. Di pasar atau
di masjid sekalipun. Senjata mereka yang paling terkenal adalah sebilah golok
kecil.
Sekte ini
berdiri cukup lama. Sejak tahun 1090 hingga 1256. Sudah banyak yang menjadi
korban kebrutalan mereka, di antaranya : Nizam al-Mulk ( 1092 ), Perdana
Menteri terkenal Dinasti Saljuk. Perdana Menteri Fatimiyah, al-Afdhal
Syahansyah ( 1122 ), para penguasa Salibin, Raymon II penguasa Tripoli ( 1152 )
dan Conrad of Montferrat ( 1192 ).
Dengan
kekalahan yang menimpa Nizariyah atau Thaifah Islamiyah di Iran, sekte kejam
ini musnah dari permukaan bumi.
Wallahu
a’lam bish-shawab.
Labels:
Curhat Wawasan
Sunday, 29 June 2014
Buatkan Aku Cerita, Mah!
"buatkan aku cerita Mah" itu pintamu, sore itu.
maaf sayaang.. bukan aku enggan
aku hanya tak ingin memenuhi pintamu yg ini
membuat-buat cerita tentangmu, tentang kita
karena kisah kita nyata. bukan rekayasa
bukan pula sengaja di buat-buat agar laku jual
atau agar orang lain memuji kisah kita yg sekali lagi, di buat-buat.
ini kisah kita! nyata terjadi sore tadi!
"kamu mau es krim rasa apa?"
"chocolate-vanilla aja, kamu?"
"yg itu aja"
-aku lupa apa namanya, seingat lidahku es krim milikmu rasa capuccino di taburi sedikit kacang-
aku tau, aku tidak terlalu suka dg es krim. kamu pun tau itu, tp karena itu mau mu. aku ikut saja. kapan lagi? pikirku.
walaupun kita membeli es krimnya dua, tapi tetap saja aku hanya mencicipinya sedikit. aku tau kamu penggila es krim, dg ikhlas aku serahkan saja sisa es krimku utk kamu habiskan.
kamu tau? lucu juga melihat ekspresi lahapmu menghabiskan eskrim. ( eh, tapi aku lupa kapan kamu menghabiskan es krim keduamu. seingatku, tiba-tiba saja sudah habis )
Sore itu, kita habiskan waktu mengelilingi mall yg hanya berlantai empat. tidak terlalu besar, tapi cukup utk kita berdua menghabiskan waktu bersama.
kamu sudah terlalu sibuk dg duniamu, begitu pula aku. waktu seperti ini memang sangat langka. yah di manapun, asal kita bisa tertawa bersama.
Ohya, ini aku hadiahkan satu oleh-oleh menarik dari perjalanan kita sore ini. Foto ini. kamu ingatkan?
kamu bilang, kamu terlalu tegang memegang pistol itu. padahal itu cuma mainan. jujur aku ingin tertawa lepas, tapi takut kamu ngambek.
"aku puas dg permainan sore ini!"
"ah masa? yg penting udah tau kan seberapa cool-nya aku mengalahkan musuh2ku?"
aku membuat suaraku sedikit agak menggoda.
"iya, tapi di permainan kedua aku tetap yg bertahan lebih lama. karena aku sudah mulai bisa rilex menahan pistol-pistolan itu"
sanggahmu tertawa renyah.
Bahagiaku sore ini bisa berbagi kebahagiaan bersama.
walau di antara kita, pastilah menyimpan sepotong kisah kehidupan yg suram.
ini kisah kita. bukan rekaya, atau sengaja di buat-buat.
biar mereka cemburu. biar mereka iri melihat kita.
kapan-kapan kita pergi lagi yah? agar aku bisa menulis kisah yg baru bersamamu.
:)
dari sahabatmu.
Kairo, 26 Juni 2014
maaf sayaang.. bukan aku enggan
aku hanya tak ingin memenuhi pintamu yg ini
membuat-buat cerita tentangmu, tentang kita
karena kisah kita nyata. bukan rekayasa
bukan pula sengaja di buat-buat agar laku jual
atau agar orang lain memuji kisah kita yg sekali lagi, di buat-buat.
ini kisah kita! nyata terjadi sore tadi!
"kamu mau es krim rasa apa?"
"chocolate-vanilla aja, kamu?"
"yg itu aja"
-aku lupa apa namanya, seingat lidahku es krim milikmu rasa capuccino di taburi sedikit kacang-
aku tau, aku tidak terlalu suka dg es krim. kamu pun tau itu, tp karena itu mau mu. aku ikut saja. kapan lagi? pikirku.
walaupun kita membeli es krimnya dua, tapi tetap saja aku hanya mencicipinya sedikit. aku tau kamu penggila es krim, dg ikhlas aku serahkan saja sisa es krimku utk kamu habiskan.
kamu tau? lucu juga melihat ekspresi lahapmu menghabiskan eskrim. ( eh, tapi aku lupa kapan kamu menghabiskan es krim keduamu. seingatku, tiba-tiba saja sudah habis )
Sore itu, kita habiskan waktu mengelilingi mall yg hanya berlantai empat. tidak terlalu besar, tapi cukup utk kita berdua menghabiskan waktu bersama.
kamu sudah terlalu sibuk dg duniamu, begitu pula aku. waktu seperti ini memang sangat langka. yah di manapun, asal kita bisa tertawa bersama.
Ohya, ini aku hadiahkan satu oleh-oleh menarik dari perjalanan kita sore ini. Foto ini. kamu ingatkan?
kamu bilang, kamu terlalu tegang memegang pistol itu. padahal itu cuma mainan. jujur aku ingin tertawa lepas, tapi takut kamu ngambek.
"aku puas dg permainan sore ini!"
"ah masa? yg penting udah tau kan seberapa cool-nya aku mengalahkan musuh2ku?"
aku membuat suaraku sedikit agak menggoda.
"iya, tapi di permainan kedua aku tetap yg bertahan lebih lama. karena aku sudah mulai bisa rilex menahan pistol-pistolan itu"
sanggahmu tertawa renyah.
Bahagiaku sore ini bisa berbagi kebahagiaan bersama.
walau di antara kita, pastilah menyimpan sepotong kisah kehidupan yg suram.
ini kisah kita. bukan rekaya, atau sengaja di buat-buat.
biar mereka cemburu. biar mereka iri melihat kita.
kapan-kapan kita pergi lagi yah? agar aku bisa menulis kisah yg baru bersamamu.
:)
dari sahabatmu.
Kairo, 26 Juni 2014
Labels:
Curcol
Monday, 14 April 2014
Hujan Di Mata Amak
HUJAN DI MATA AMAK[1]
Kakiku sudah lelah melangkah. Terlihat dari goresan luka memenuhi
jemarinya. Tumitnya saja sudah pecah. Baunya menyengat. Hidungku mengernyit
tiap kali aku membuka sepatu lusuhku. Aku menghabiskan waktu menyusuri jalanan
ramai di kota Jakarta. Bibirku kering dan pecah-pecah. Mukaku pucat pasi.
Langkahku bahkan tak tahu lagi harus kemana. Jakarta Selatan, Timur, Utara,
Barat, semua pernah ku jamah. Otakku tak mampu lagi mengingat apa-apa. Yang aku
ingat hanya kampung halamanku, Harau[2].
Dan Amak.
“Dunia ko tentang hidup
dan mati, Nak! Ado nan layia dan ado nan mati. Kelahiran, jodoh,
rasaki dan kematian alah tacatat di lauhul mahfudz jauah sabalun Amak
manganduang waang. Baitupun jo Apak”[3]. Ujar
Amak menatapku yang berdiri mematung tanpa kata saat aku tahu tentang kematian Apak.
Saat itu aku masih kelas 6 sekolah dasar. Seragam merah putih masih melekat di tubuh
mungilku. Dia memelukku erat saat aku mulai keheranan melihat warga kampung
yang ramai berdatangan ke rumah. Kurasakan detak jantungnya yang tak beraturan.
Dadanya naik turun mengatur nafas.
“Ado apo, Mak?”[4]
bisikku di telinganya. Aku membalas pelukan hangat Amak. Mencoba menekan
kecamuk pikiran dan rasa takutku.
“Apak waang lah manduhului awak, nak. Apak sudah
dipanggia Allah. Inyo titip salam untuak anak bujangnyo”[5]
katanya. Sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya. Pertahanannya hampir
roboh tapi ia berjuang keras untuk tetap kokoh berdiri di hadapanku.
Tubuhku gemetar. Aku menarik nafas panjang agar Amak tidak
menyadarinya. Aku tahu kepedihannya lebih besar dari apa yang aku rasakan. Tapi
dia memang wanita yang luar biasa. Di balik sendu matanya aku tahu ia menyimpan
beban yang sangat berat untuk ia pikul sendiri.
Ah, Amak. Aku menahan rinduku yang kian sesak. Menyesali tindakan
bodohku menyakiti hati wanita mulia itu. Lututku gemetar menahan tangis.
Menyesal! Sungguh aku benar-benar mengutuk hidupku. Andai saja dulu aku lebih
mendengar kata Amak. Tentu tidak akan seperti ini jadinya.
** Saat itu masa kelulusanku di bangku SMA. Aku bukan murid yang
sangat pintar. Tapi aku selalu berusaha menjadi
anak kebanggan Amak. Aku berhasil mempersembahkan peringkat 10 besar
saat kelulusanku. Amak tersenyum bangga padaku. Aku bahagia melihat gurat
kepedihan perlahan sirna di mata Amak.
“Baraja tu ndk hanyo di
sikola, Nak. Waang bias baraja di taman, jalan, musajik bahkan di
rumah. Pelajari kehidupan sakitar, buek urang dakek wak sanang. Itu
pelajaran yang saketek urang bias dapekan”[6].
Ujar Amak menasehatiku saat aku mengeluh mata pelajaran di sekolah. Aku
mengangguk. Sejak saat itu aku belajar membahagiakan orang-orang di sekitarku,
dan orang yang pertama kali aku bahagiakan adalah Amak.
Pasca kelulusanku, aku bertemu teman baru dari kota sebelah. Namanya
Bayu. Dia mengaku kuliah di kota Jakarta. Aku begitu bersemangat mendengar
ceritanya tentang kota impianku itu. Sampai-sampai aku tak peduli asal usul
dia. Bahkan tak ku hirau kan lagi teguran dari sahabat baikku untuk
berhati-hati terhadap orang asing. Dia menawarkan aku untuk ikut bersamanya ke
Jakarta. Aku tersenyum lebar. Aliran darahku meninggi menahan detak jantungku
yang memacu semakin kencang tak sabar.
Segera aku persiapkan segala keperluanku ke Jakarta. Menyisipkan
ijazah kelulusan SMA ku, dan sedikit uang dari tabunganku selama SMA. Aku sudah
menyiapkan rencana selama hidup di Jakarta. Untuk setahun pertama, aku tidak
akan langsung kuliah. Aku ingin menikmati kota Jakarta. Menghafal seluk beluk
kota besar itu. Bahkan kalau perlu menjadi ‘peta berjalan’ untuk orang-orang
yang tersesat. Aku bisa bekerja untuk tahun pertama. Mengumpulkan uang
sebanyak-banyaknya. Dan mengirimkannya ke Amak kalau uangku berlebih.
Amak? Ah, aku lupa mengingat satu hal itu. Aku memang merahasiakan
hal ini darinya. Aku berencana akan memberi tahunya beberapa hari menjelang
keberangkatan. Aku pikir, Amak pasti
mengijinkanku. Apalagi, semenjak kepergian Apak aku tidak pernah menuntut
apa-apa ke Amak. Aku selalu menuruti apa kata Amak. Aku begitu yakin Amak akan
merestui keberangkatanku.
Matang sudah segala persiapanku. Ragaku begitu bersemangat ingin
merantau ke Jakarta. Jangan tanya jiwaku, menggelora. Memacu adrenalinku tiap
kali terbayang pertualanganku di sana. Teringat lirik lagu pedangdut tersohor
Bang Haji Rhoma Irama “masa muda masa yang berapi-api”. Aku tidak hanya
berapi-api, tapi sudah membara. Terbakar rasa ingin tahu yang mendalam. Nafsu
ingin bebas dan keluar dari desa terpencil ini. Sampai aku lupa memperhitungkan
hal negatif yang mungkin akan menimpaku di sana.
** Seminggu sebelum keberangkatan. Aku menghubungi Bayu.
Menanyakannya perihal tiket kami menuju Jakarta. Dia meyakinkanku bahwa semua
sudah beres. Undercontrol. Aku tenang. Dan untuk membeli tiket, aku
menjual semua barang-barang kesayanganku. Sepatu, koleksi komik, beberapa buku
bacaan dan tape recorder pemberian Apak.
Sejujurnya, aku begitu berat menjual satu-satunya peninggalan Apak
itu. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku membutuhkan uang untuk melengkapi
kekuranganku membeli tiket. Tidak mungkin aku memintanya pada Amak. Aku tidak
ingin menyusahkannya. Sedang uang tabungan yang aku sisihkan mungkin hanya
cukup untukku bertahan satu bulan di Jakarta. Tapi aku berjanji, suatu saat nanti aku akan
membeli kembali tape recorder itu. Sepulangku dari kota Jakarta.
Aku pergi mengunjungi Lembah Harau tiga hari menjelang
keberangkatanku ke Jakarta. Sebuah celah yang terletak di antara dua tebing
batuan pasir. Menjulang tinggi dan indah. Laiknya gerbang besar bagi daratan di
bawahnya. Tinggi tebingnya mencapai 100 meter dan membentang sepanjang beberapa
kilometer. Sawah milik warga mengalasi kedua tebing. Menambah keeksotisan
Lembah Harau.
Tidak hanya itu, yang menarik ragaku untuk ke sana adalah air
terjun yang turun di beberapa titik tebing. Dulu aku selalu menghabiskan
waktuku bermain di sana. Mengguyur tubuhku dengan airnya yang dingin dan segar.
Aku sering lupa waktu dan Amak akan memarahiku kalau aku pulang terlambat
karena bermain di sana sepulang sekolah. Bibirku tertarik beberapa senti ke
samping mengingat memori-memori indah di Harau, tanah kelahiranku.
Aku melipat tangan di dada. Memandang tebing-tebing yang membuatku
terasa kerdil. Menikmati indah Lembah Harau. Merekamnya dengan baik dalam
ingatanku. Berharap jika suatu saat aku jenuh dengan pemandangan dan sesak kota
Jakarta, memori Lembah Harau bisa memberiku cukup banyak oksigen untukku
bernafas dengan lega. Hari semakin gelap. Aku bersiap-siap pulang ke rumah. Ku
tarik nafas panjang sebelum kakiku melangkah pulang. Ya! Ini saatnya
memberitahu Amak tentang kepergianku.
** Amak diam tak bersuara. Tubuhnya tak bergerak. Dia menatapku.
Tatapan itu, ah! Aku tak tahan melihatnya. Detak jantungku berpacu semakin
kencang. Seperti sedang menunggang kuda dengan kecepatan tinggi membelah hutan.
“Mak. Amak ndak usah khawatir. Fahri bisa menjago diri. Fahri alah
gadang, Mak. Indakkah amak sanang mancaliak anak mak marantau ka nagari urang?[7]”
kataku mencoba meyakinkan Amak. Dia tertunduk. Nafasnya semakin berat.
“Bukan itu Nak. Manga harus ka Jakarta? Amak ndak ingin jauah
dari waang. Cukuiklah Apak nan maninggaan awak [8]”.
Wajahku seperti tertampar baja panas. Aku menatap mata Amak.
Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Aku melihat seperti hujan akan turun dari
mata Amak. Hujan dan badai.
Entah setan apa yang merasukiku saat itu. Dia meyakinkanku bahwa
Amak akan baik-baik saja sepeninggalanku nanti. Pedih di matanya hanya luapan
emosinya saat mengetahui anak semata wayangnya akan pergi jauh dari dia. Itu
wajar. Semua itu akan tergantikan setelah aku sukses nanti. Dan dia akan sangat
bahagia melihatku kembali dengan membawa ‘nama’. Tidak perlu meminta restunya,
aku hanya perlu pergi dan buktikan.
Percakapan malam itu berakhir sunyi. Amak hanya diam. Sedang aku
akan tetap pergi ke Jakarta. Menjemput mimpiku. Ku peluk tubuh Amak yang kiat
mengeriput itu. Aku tak berani menatap matanya. Mata yang selalu ingin menumpahkan
hujan yang membendung di dalamnya.
** Sehari setelah kedatanganku di Jakarta, semuanya masih baik-baik
saja. Kami mampir ke sebuah stasiun di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Bayu
memberitahuku, tempat tinggalnya ada di sekitar sana. Aku meninggalkannya untuk
pergi salat di musholla dan membiarkannya menunggu di luar. Katanya, kami akan
salat bergantian. Agar barang-barang kami ada yang menjaga.
Usai salat, aku keluar menemui Bayu. Aku terperanjat melihat
barang-barangku lenyap di luar musholla. Aku mencari Bayu, berteriak
kemana-kemana tapi batang hidung Bayu tak kunjung muncul. Aku mulai ketakutan.
Lututku lemas. Tubuhku terjatuh tepat di mana aku meninggalkan barang-barangku
terakhir kali. Tanganku meraba secarik kertas yang ku temukan di sampingku.
Namaku tertulis tepat di barisan atas kertas itu.
“Fahri. Maafkan aku. Ini memang berat! Tapi kamu tidak akan mati
karena ini. Aku pernah merasakannya. Dan aku masih bisa bertahan sampai
sekarang! Ohya, aku membaca pesan di handphonemu dari keluargamu di kampung.
Katanya, Ibumu meninggal karena kecelakaan tepat saat perjalanan pulang setelah
mengantarmu ke Jakarta. Aku turut berduka. Bayu”. Aku meremas kertas sialan
itu. Berulang kali aku menekan laju nafasku yang semakin tidak beraturan.
Tiba-tiba semuanya gelap.
** Aku berjalan menulusuri gerbong kereta api yang sesak dengan
para pengemis. Menghentikan air mataku yang seharian ini tak pernah berhenti. Miris.
Aku laki-laki yang menghabiskan tiap detiknya menangisi hidup.
Terakhir kali aku melihat mata Amak saat ia mengantarkanku di
Bandara International Minangkabau sebulan yang lalu. Mendung masih bersarang di
matanya. Bergumpal ingin tumpah menjadi hujan. Ya! Mata itu.
Oh Ammakku! Sungguh aku terlalu bodoh untuk menjadi anakmu. Aku
terlalu bernafsu mengejar mimpiku sampai ridho dan restumu aku acuhkan. Aku
buta dengan gemerlap bayang-bayang Jakarta. Bara api kini tak hanya membakarku.
Tapi juga melumatku habis! Menjadikanku debu. Aku tak punya nyali untuk kembali
Ammak! Aku malu!”. Suara tangisku
semakin kencang. Tubuhku bergetar hebat. Samar-samar aku mendengar suara Ammak.
“Fahrii.. Fahrii..”
Aku mencari arah suara Ammak. Mataku yang sudah bengkak seperti
bola ku paksa terbuka untuk mencari sosok Ammak. “Fahrii..”. suara itu
terdengar lagi. Aku berdiri gemetar. Ku lihat bayang-bayang wanita berdiri di
ujung gerbong yang sangat gelap. Wanita itu berdiri sambil mengulurkan tangan
seakan mengajakku padanya. Aku memicingkan mata menatapnya lebih jelas. Aku
tidak dapat melihat jelas wajahnya, kecuali matanya. Mata itu! Ya! Itu mata
Ammak. Mata yang sama seperti sebelum aku meninggalkannya. Aku akan
menyingkirkan hujan di matamu Ammak! Setengah terseok aku menuju arah
Ammak. Tiba-tiba aku tersandung, dan semuanya gelap. The End
[1]
Amak adalah panggilan khas orang minang untuk
Ibunya. Sedangkan panggilan untuk Ayah biasanya menggunakan kata Apak.
[2] Harau adalah nama suatu desa yang ada di Kabupaten
Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Harau terkenal dengan lembahnya yang sangat
indah.
[3] Dunia itu tentang hidup dan mati, Nak! Ada yang lahir dan ada yang
mati. Kelahiran, jodoh, rezeki dan kematianmu sudah tercatat di lauhul
mahfudz jauh sebelum Amak mengandungmu. Begitu pula dengan Apak.
[6]
Belajar
itu tidak hanya di bangku sekolah, Nak. Kamu bisa belajar di taman, jalan raya,
masjid, bahkan di rumah. Pelajari kehidupanmu, buat orang di sekitarmu bahagia.
Itu pelajaran yang sangat sedikit bisa dilewati pelajar mana pun.
[7]
Amak.
Amak tak perlu khawatir. Fahri bisa menjaga diri. Fahri sudah besar Amak.
Tidakkah Amak senang jagoan Amak ini merantau di luar sana?
[8]
Bukan
itu Nak. Kenapa harus Jakarta? Amak hanya tidak ingin jauh dari kamu. Cukup
sudah Apak meninggalkan kita
Labels:
Kumpulan Cerpen

