Pages

Friday, 30 January 2015

usah saja

Tulis saja. 
tulis apa saja yang ada di pikiran, hati dan rasamu sekarang.
biarkan ia mengalir, keluar dari dasar, apa adanya.
gak perlu pake bawang putih biar wangi, gak perlu pake kaldu biar sedap. 
cukup air putih, rebus sampai kering kelontang!

terkadang jenuh rasanya, jenuh dengan kehidupan yang rasanya berat mulu di jalani.
iya sih, itu hanya perasaaan saja. karena pada nyatanya setiap satu kesulitan pasti terdapat dua kemudahan. tinggal kitanya aja, nyari mudah atau nyari sulit?

pengen jadi anak kecil lagi. jadi bocah ingusan yang suka megang jajan lengkap di tangan kanan dan kiri. yang kalau makan cemilan gigitnya dikit-dikit. yang suka ngumpetin sisa cemilan yang di makan dikit-dikit tadi di lemari, terus di ambil lagi kalau cemilan orang-orang lain udah habis. dan dengan bangga nunjukin ke orang-orang kalau "ini loh gue masih punya jajan!"

pengen kaya dulu, satu kasur bertiga sama dua kakak saya. tapi saya selalu tidur di bagian tengah dg bantal di kepala, kaki, tangan kanan dan tangan kiri. gak usah di tanya, saya yang paling berkuasa soal kamar. sampe-sampe di langit-langit kamar seakan ada tulisan yang berbunyi "JANGAN SENTUH BANTAL SAYA ATAU SAYA LAPORKAN KE MAMA!". saking kejamnya, walau hanya ujung jari telunjuk mereka yang nyentuh saya sudah nangis kenceeng na'udzubillah!! yah tapi itu lah saya dulu yg sangat sy rindukan.

tapi itu belasan tahun silam. yang memorinya hanya tersisa sedikit, tercecer entah di mana. sedikit itu lah yang saya coba abadikan. saya kenang di usia saya yang akan menginjak umur 21 tahun. dulu waktu saya kelas 3 aliyah, ustad saya pernah memberi saran pada kami untuk menentukan masa depan dari sekarang. minimal kapan rencana menikah, kapan target kuliah selesai dan lain sebagainya. 
watktu itu saya menargetkan hidup saya. sepertinya saya memang jago menargetkan hidup seperti tahun ini saya akan berbuat apa, saya ingin bagaimana, apa saja yang ingin saya capai. dan saat itu, saya menargetkan akan menikah pada umur 21 tahun. ya! 21 tahun meen! berarti waktunya menikah dong?? :/

planning yang kita buat gak selamanya semulus yang kita mau, ada kala nya terhambat karena berbagai faktor. seperti faktor belum dapat restu orang tua misalnya. yah, apalah daya. mau di paksa juga gak bisa. calon juga belum ada. membujang dulu saja! -_-

sudah dulu malam ini, besok hari jum'at, hari libur. tapi gak ada hari libur untuk aktivis sejati *cieile -,-

see u


Tuesday, 11 November 2014

ALHAMDULILLAH SAYA SUDAH DAPAT KARTU SAKTI!

ALHAMDULILLAH SAYA SUDAH DAPAT KARTU SAKTI!
Ngomongin 'kartu sakti' pasti yg kebayang langsung wajah Bapak Negara kita ( Red: Pak Jokowi ). Yang konon katanya mau naikin harga BBM ( Bukan Blackberry Messenger ) di Indoneisa trus di alihkan ke sektor yg lebih produktif ( katanya )
Sy sih gak masalah dg kenaikan harga BBM(toh sy tinggalnya gak di indonesia), sekalipun rada gelisah jg sih dg nasib rakyat miskin nantinya. Tp yg lebih menarik, kabar pembuatan 'Kartu Sakti' oleh bapak negara kita yg katanya itu salah satu bentuk pengalihan kenaikan harga bbm. 
Sebut saja Kartu Indonesia Pintar, Kartu Keluarga Sejahtera dan Kartu Indonesia Sehat. 
Dari 3 kartu ini, yg paling menarik hati sy sih KIP ( secara, sy kan pelajar ).
Konon katanya kartu ini di bagikan utk rakyat miskin. Yg trbayang di benak sy otomatis mreka2 para pengemis, pemulung, gak pnya rumah, atau kehidupan mreka yg sangat2 pas pas-an. Kalo itu yg di maksud, wah bakal bikin jutaan kartu nih!  ( iyalah! Wong ada jutaan makhluk seperti itu di indonesia )

Penasaran jg sih, pengen ikut ngerasain atmosfer pembagian si 'kartu sakti' di tanah airku ( tidak kulupakan ~~ *sing* ) itu. Heboh gak ya? Rebutan gak ya? Adil gak ya? Untuk ranah sepak bola saja masih suka tawuran ( pasca kemenangan persib yg katanya udah bertahun2 gak menang, ada serangan menimpa salah satu pihak) apalagi pembagian 'uang' dlm bentuk kartu yg rada sensitif.
Tapi sy berdoa saja lah yg terbaik buat negara tercinta. Niat baik bapak negara insyaAllah berbuah baik juga. Amin.

Tapi jujur, bukan kartu sakti ini yg sy dapatkan. Meskipun sy pengen punya jg. Lumanyun meringankan beban keluarga yg baru saja kehilangan rumah (hiks). Tapi emg rezki Allah itu selalu datang dr arah yg tak di duga.
Well, dapetin 'kartu sakti' yg satu ini gak mudah loh. Butuh perjuangan jiwa raga. Lahir batin. Rohani jasmani.
Loh kok bisa?
Ohyajelas! Pertama: kita harus mengikuti seleksi dari ribuan calon pemegang kartu dari berbagai mancanegara ( seleksinya di tempat masing2 sih )

Kalo lolos, baru kita beranjak ke tahap selanjutnya.
Menyebrangi samudra luas meninggalkan kampung halaman utk menjemput si kartu. Hiks. Bagian ini nih yg paling berat. Secara, pisah sm ortu bray! Udah dulunya 6 tahun pisah krna harus 'menjara suci' dlu. Eh, skrg pisah lg. 


Belum selesai sampe dsna, kita masih terikat kontrak 4 tahun (paling bentar) kalo udh nerima si kartu. 
4 tahun gak pulang2?? Itu sesuatu bgt sist! :|

But, anyway by way alhamdulillah ini kartu sakti ke 4 yg sy pnya selama 3 thn lebih sy disini. 
Diantara 4 kartu yg sy pnya,baru krtu ini yg foto, style, bentuk, dan design nya agak keren dikit. Jadi pede lah bagi2 kisah ke temen2 dumay sy yg insyaAllah berbahagia semua ini. 


InsyaAllah kartu ini akan menjadi kartu terakhir sy di bangku sarjana ( Kan kontraknya cm 4 tahun  ). Dan insyaAllah jg, ada kartu baru lg tahun depan, dg design beda dan lebih mewah utk level Megister. ( ya Rabb!! )
Terimakasih Al Azhar Kairo, atas kesempatan yg kau berikan utkku belajar bersamamu agar dapat berbakti pd agama dan umat.
Tak Lelah Kalau Lillah! 
Malam Kairo.

Monday, 20 October 2014

Adik Bendahara

Sepanjang hidup saya, angka itu selalu memusingkan.
Dulu saya memang sangat suka matematika. Saat masuk SMP, saya mulai memusuhinya.
Trnyata benar, cara mengajar guru itu sangat berpengaruh trhadap murid. Mungkin dlu guru saya ogah-ogahan ngajarnya.
Sampe pernah suatu hari sy protes. Sy kritik gaya ngajar guru sy yg menurut sy terlalu rumit. Beliau mencoba menerapkn gaya belajar-mengajar antara dosen dan mahasiswa. Lah, sedang waktu itu kami masih SMP. Sontak aja saya protes.

Saya sempet bersyukur, ditempat kuliah sy ini (al Azhar Univercity ) sy gak bertemu dg yg namanya hitung-hitungnya. But, lagi-lagi benar kata orang bijak 'manusia tdk akan prnah lepas dg angka'. Mau tidur aja musti nengok angka jam. Mau beli sesuatu nyodorin sejumlah angka uang.
Kali ini, sy diberi amanah memegang jabatan bendahara di suatu kepanitiaan. Awalnya saya di panggil 'Bu Bendahara'. Tapi.saya gak terima. Toh, sy masih muda. Termasuk yg paling muda diantara smua panitia malah. Jadi sy memanggil diri sy dg sebutan 'Adik Bendahara'

Rencananya, acara yg dinamakan 'Kampoeng Pelajar' ini akan diadakan mulai senin pagi ini sampe rabu di daerah Fayoum.
Sebenarnya konsep acaranya udah bagus banget, tp emang saya yg apes kali ya. Dapet jabatan yg gak mudah di kondisi yg memang lg krisis ekonomi. Jadilah sy pusing tujuh keliling di tambah maju mundur 3x. :-SS

Tapi 'ala kulli haal
Moga acara besok dan seterusnya lancar. Baik-baik saja. Tdk ada hambatan sampai akhir. Amin

Ohya, utk acara kali ini sbnernya sy pnya 3 profesi sekaligus. Pertama: Adik Bendahara. Kedua: Pemandu. Ketiga: Observer.

Pengalaman itu PROSES! Semangat LILLAH! ;-)

Wednesday, 15 October 2014

Ersyie Al-Hamidy: Lembayung Cinta

Ersyie Al-Hamidy: Lembayung Cinta: "Lembayung Cinta" Lagi-lagi aku harus bercerita padamu. Berkisah denganmu. Berhikayat bersamamu. Kamu tau? Aku dan kamu ...

Wednesday, 8 October 2014

Lembayung Cinta


"Lembayung Cinta"

Lagi-lagi aku harus bercerita padamu. Berkisah denganmu. Berhikayat bersamamu. Kamu tau? Aku dan kamu laiknya teko dan gelas. Aku tekonya, dan tentu saja kamu gelasnya. Aku hanya menumpahkan semua yang ada dalam diriku tanpa peduli gelasmu penuh atau malah isinya tumpah keluar. 

Egois? Ya! Aku memang terlalu egois untukmu. Tapi kamu terlalu lembut untuk tetap tersenyum menyambut keegoisanku.


Itulah aku dan kamu! Laksana bumi yang tak pernah menemukan pengganti berkeluh kesah pada bulan. Kamu mungkin sudah lelah mendengarku. Senang, sedih, marah, kesal dan semua rasaku yang kamu tau bagaimana itu. Tapi sekarang sudah berbeda. Ada yang berubah dari sikapmu. Kenapa kamu hanya diam saja tiap kali aku bercerita? Kamu marah padaku? Atau kamu mulai bungkam semenjak aku bercerita tentang dia?
***
Penghujung musim panas memang waktu yang pas untuk bersantai di sini. Di samudera pasir tak bertuan, di belahan bumi bagian timur tengah. Sebagian manusia senang menghabiskan waktu mereka di sini. Sekedar melepas penat atau untuk merenungi salah satu keajaiban ciptaan Tuhan. Di sinilah, kesombongan manusia tidak ada gunanya. Keangkuhan musnah tertimbun rasa malu dan  kerdil di hadapan Sang Pencipta.

Siang itu, segerombolan anak manusia mengujungiku. Kali ini dalam jumlah yang banyak. Dari kejauhan aku menghitung mereka yang turun dari bus besar berwarna gelap. Ada sekitar 43 orang, setengah di antaranya masih remaja dan berjalan berpasang-pasangan. Pada awalnya mereka berkumpul tak jauh dari tempat bus mereka diparkir. Tampak seorang laki-laki bertopi dan memakai jeans selutut sedang berbicara dengan pengeras suara kearah mereka. Bisa ditebak, dia pasti seorang pimpinan rombongan.  

“Ada yang datang” celetuk Angin menghampiriku dari arah belakang.

“kau terlambat. Aku sudah memperhatikannya sejak tadi” jawabku sekenanya. Angin memang suka bermain sendiri. Pergi ke tempat yang jauh, dan datang sesekali untuk menjengukku di sini. Hari ini aku meminta dia untuk menemaniku sampai matahari terbenam. Aku senang dia menyanggupinya.

5 menit kemudian, anak manusia itu mulai berpencar. Tentu saja aku dan Angin merasa kegirangan. Kami berputar-putar dan mulai mendekat kearah mereka. Mereka sangat bahagia menikmati permainanku bersama Angin. Ku belai lembut ujung rambut mereka, wajah, tangan, kaki, bahkan aku berhasil masuk disela-sela lubang kaos kaki busuk mereka. Permainanku dan Angin memang menarik. Meski mereka seringkali mengedipkan mata menghindari sentuhanku, tapi Angin selalu berhasil membuat mereka menikmatinya.

Hampir saja aku melupakanmu karena terlalu asik bermain bersama Angin. Aku tau kamu ada di sana. Jauh di sana menyaksikanku bermain. Aku coba tersenyum padamu dengan gaya khasku. Seperti biasa, aku akan berputar satu kali ke atas dan perlahan Angin melemparku kearahmu. Biasanya kamu akan membalas senyummu dengan menggerakkan duri yang tertancap tubuhmu.

 Belum sempat aku melihat responmu, Aku bertemu dua anak manusia yang sedang bercengkrama. Mereka berjalan menghampiriku dan Angin. Aku bisa merasakan  kemesraan mereka. Saat mereka saling bergandeng tangan dan saling bertatap mata. Seakan mampu menghangatkan satu sama lain hanya dengan jumpa mata saja. Aku mulai berhenti bermain dan tertarik memperhatikan mereka saat samar-samar aku mendengar salah satu diantara mereka bercerita tentang Laut.

“Siapa itu Laut?” tanyaku pada angin. Aku mencoba menghentikan geraknya, tapi aku gagal.

Angin berputar-putar di sampingku dan menjawab singkat “Dia penguasa air”.

“Pernahkah kamu bertemu dengannya?”

“Tentu” jawabmu masih dengan gerakan yang sama. “Setiap kali aku meninggalkan tempat ini, aku selalu menyempatkan singgah menemui Laut. Tidak seperti dunia kita, Laut mudah ditemui di mana-mana. Bahkan hampir di setiap belahan bumi pasti ada Laut”

“Benarkah? Bisakah aku menemuinya?” pintaku dengan mimik serius. Angin mulai menghentikan gerakannya.

“Kamu memang berbeda dengan saudaramu yang lain. Kamu terlahir dan ditakdirkan untuk hidup di sini. Di tempat segersang ini. Tidak seperti bangsa sejenismu yang banyak tinggal di pesisir pantai, kawasan kekuasan Laut. Mereka bisa mengenal Laut, berbagi cerita, dan saling menguntungkan satu sama lain”

Aku mulai terdiam. Mencoba mencerna kata-kata yang baru saja Angin ucapkan. Sudah sekian lama aku hidup di sini. Sudah jutaan manusia datang mengunjungi duniaku, ini pertama kalinya aku mendengar cerita yang menarik seperti itu.

Aku mulai tertarik mendengar cerita tentang Laut. Sengaja aku berhenti bermain dan mengitari sepasang anak manusia yang di mabuk kasmaran itu. Kupinta Angin untuk bermain di tempat yang lain agar  aku bisa lebih fokus mendengarkan cerita mereka tentang Laut. Saat itu di penghujung musim panas, matahari bersinar ala kadarnya dan tidak terlalu menyengat. Langitpun tampak cerah, seperti juga ikut menyimak cerita itu bersamaku. Sesekali aku mendengar Langit berbisik bahwa ia juga sering menikmati kecantikan Laut. Memandangnya tak berkedip dari atas sana.

“Laut mana yang akan kita kunjungi?” Tanya si gadis berkacamata dengan rambut panjang terurai sebahu kepada kekasihnya. Dia meletakkan kepalanya kepundak sang kekasih dengan manja.

“Di sebelah Timur sana. Konon, di sana salah satu tempat wisata yang di gemari banyak orang” Lalu sang kekasih mulai bercerita tentang Laut yang dia maksud. Aku menyimak seakan aku menyaksikan keindahan Laut bersama mereka. Entah seperti apa wujud Laut itu sebenarnya.

Dapat kubayangkan betapa cantiknya Laut itu. Biru warnanya luas membentang. Keindahannya sejauh mata memandang. Ombak yang berkejaran di tepian pantai. Saat matahari terbenam, kecantikannya semakin sempurna ditambah sketsa lembayung senja yang memberi rona merah jingga keemasan kepada bumi. Bahkan cerita yang aku dengar dari mereka, hampir setiap menit manusia selalu mengunjunginya. Tentu saja tidak sepertiku, manusia hanya mau mengunjungiku saat tidak sedang puncak musim panas.

Aku semakin terhipnotis akan kecantikan Laut. Padahal sekalipun tak pernah aku berjumpa dengannya. Seumur hidupku aku habiskan disini. Yah, di duniaku yang gersang ini. Siang dan malam aku habiskan bermain bersamamu, Angin, dan segerombolan anak manusia ketika mereka mengunjungiku. Itu saja.

Aku tersadar dari lamunanku saat sepasang anak manusia itu pergi. Mungkin waktu berkunjung mereka sudah habis. Dan mereka harus melanjutkan tamasya mereka ke tempat yang lain. Bayang-bayang cerita mereka seperti tertinggal di tempat di mana mereka duduk. Menyisakan tanda tanya. Tiba-tiba aku resah. Rasanya ingin mendengar cerita tentang Laut lebih lama. Menahan sepasang kekasih itu untuk bercerita lebih banyak di sini.

***

Seperti ada yang aneh dalam diriku. Sejak saat itu, cerita-cerita tentang Laut lebih menarik perhatianku daripada bermain bersama Angin. Bahkan saat Angin mengajakku bermain bersama segorombolan anak manusia, aku lebih memilih menjauh ke tempat lain. Apa aku jatuh cinta pada Laut? Jatuh cinta pada kecantikannya yang abstrak. Jatuh cinta pada keindahannya yang hanya aku lihat dengan telingaku saja. Mata dan logikaku tidak berfungsi. Atau aku sudah mulai gila? Entahlah!

Saat langit mulai keemasan. Matahari berpamitan denganku dan berjanji akan menemaniku bermain lagi esok hari. Seperti biasa, yang ada hanya kesunyian. Tidak ada suara selain suaraku, Angin, dan desah nafasmu. Tentu saja saat malam datang, tidak akan ada anak manusia yang mau bermalam ditempat ini. Kecuali segelintir orang yang terpaksa berteduh disini karena harus melakukan perjalanan  jauh.

Aku bercerita semuanya padamu. Tentang sepasang anak manusia, tentang kemesraan mereka dan tentang Laut. Aku juga memberitahumu sebesar apa rasa kagumku padanya. Aku benar-benar ingin berjumpa dengannya. Menyaksikan keindahannya langsung di sana. Aku terus bercerita di depanmu sambil menjelaskan angan-anganku menemui Laut.  Mengitari tubuhmu yang berdiri tegak. Membelai duri-duri tajam yang tertancap di tubuhmu.

Aku masih ingat saat seorang anak kecil bertanya pada ibunya tentang dirimu. “Ibu, kenapa pohon kaktus itu bisa bertahan hidup sendiri di sini?”

 Katanya. Ah, andai saja dia bisa mendengarku. Tentu akan aku jawab “Kaktus tidak pernah sendiri, dia bisa bertahan karena ada Aku, si Pasirmu dan Angin”.

Biasanya kita akan saling membela. Tapi tidak untuk senja itu. Gerakanku terhenti saat aku sadar bahwa kamu tidak merespon apapun. Bahkan tidak dengan senyum yang biasa aku lihat saat kamu sedang mendengarkan semua kisahku. Berulang kali aku tanyakan kenapa kamu bisu. Kamu hanya melirikku. Dan semua lamunanku tentang Laut buyar seketika saat aku mendengar jawabanmu.

“Aku lebih dulu mengagumimu jauh sebelum kamu mengagumi Laut. Tapi Aku sadar, semua ini hanya sebatas kekaguman. Seperti kamu memandang kagum Laut dari jauh, seperti itu pula aku memandangmu kagum dari sini. Jauh dan tanpa pernah bisa bersatu”

Katamu sore itu. Ah, ternyata ini alasan kamu lama mendiamkanku. Ini sebab kamu bungkam tiap kali aku ajak bercerita.

Aku mengalihkan pandangaku menatap Lembayung Senja di ufuk barat. Rona merah jingga pada tubuhnya memancarkan kesejukan. Berbagi sinar penuh cinta tanpa belas kasih. Dia mencoba menghiburku dengan melebarkan sinarnya ke penjuru langit. Aku tersenyum kecut.

Aku sadar, cinta dan kekaguman seperti lembayung yang kamu miliki, Senja. Indah dan dipuja saat ia bertahta menghiasi cakrawala. Dikagumi manusia, dipuja bumi saat pesona lembayungmu menguasai ufuk barat. Mereka akan tersadar bahwa kamu tidak selamanya bisa dimiliki saat malam merenggut tempatmu. Memaksamu pergi meski mereka tak rela.

Kamu benar, Senja. Andai aku lebih mendengarmu kala itu. “Anugrah terbesar untuk kita adalah dapat saling mengagumi, meski dari jarak yang jauh”

Garis Pengembara: AKTIVIS? Pilihan atau Tuntutan?

Garis Pengembara: AKTIVIS? Pilihan atau Tuntutan?: AKTIVIS? Sebagai seorang pelajar atau mahasiswa, kata aktivis itu udah gak asing lagi di telinga. Biasanya, ketika bnayak ngikut kelas t...

Sunday, 10 August 2014

AKTIVIS? Pilihan atau Tuntutan?


AKTIVIS?
Sebagai seorang pelajar atau mahasiswa, kata aktivis itu udah gak asing lagi di telinga. Biasanya, ketika bnayak ngikut kelas tambahan di SMA, teman-teman langsung manggil 'aktivis'. Atau contoh sederhana yang pernah sy jumpai, ketika nemu seseorang yang dimana-mana ‘ada’. Entah adanya karena dia memang suka kemana-kemana gak jelas, atau memang dia banyak kegiatan, eh orang-orang tiba-tiba bilang "ciiee cieee, aktivis niye"

Nahlo, Sebenarnya aktivis itu apa sih?
sy setuju kalau ada yg bilang, definisi sebuah kata gak melulu diartikan sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sebuah kata juga bisa kita definisikan melalui pengalaman. Tapi gak ada salahnya kan kalau kata 'aktivis' kita artika sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia dulu setelah itu baru ditinjau dari pengalaman yang ada.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, aktivis adalah "orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yg bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan di organisasinya" atau bisa diartikan juga "seseorang yg menggerakkan (demonstrasi dsb)". Seorang aktivis juga bisa kita sebut 'tokoh', 'penggerak', atau 'penggagas'. Yang artinya, seorang aktivis itu adalah penggerak, tokoh, dan penggagas yang bergerak di seuatu organisasi dengan menyumbangkan tenaga dan fikiran demi mewujudkan visi dan misi yang ingin dicapai.

Kalau ditinjau dari segi pengalaman (terutama pengalaman penulis), aktivis itu bisa dibagi menjadi dua bagian. 
ada aktivis dalam hal positif dan ada aktivis dalam hal negatif. Loh, emang bisa? ya bisa aja lah! Begitu halnya kehidupan, ada siang ada malam. ada baik ada buruk. Seorang aktivispun gak semuanya bekerja dalam hal yang baik. Aktivis dalam hal negative contohnya aktivis  preman di pasar. Keliling kesana kemari buat malakin orang-orang lemah. Atau aktivis mucikari, kemana-mana nyari gadis gadis polos biar mau di ajak kerja di kota dengan di iming-imingi mereka bakal dapat gaji yang besar kalau mau berkerja dengannya. Atau para koruptor, atau pembelot-pembelot Negara yang pandai bersilat lidah. Mereka juga aktivis kan? Karena meraka adalah seorang penggerak yang mencurahkan tenaga dan fikiran untuk mencapai tujuan mereka, tapii dalam hal negatif.

Akan tetapi,  aktivis dalam hal kebaikan juga gak kalah banyak. Contohnya kaya aktivis rohis di banyak sekolah Indonesia. Para pelajar baik yang masih menengah pertama atau menengah atas berlomba-lomba bergerak dalam kebaikan. Para mahasiswa banyak yang bergabung dalam organisasi-organisasi untuk membangun bangsa. Ibu-ibu pengajian yang bergerak dalam bidang dakwah di banyak desa dan kelurahan. dan masih banyak lagi contoh para aktivis yang memiliki peran aktiv dalam membangun agama dan bangsa mencapai cita nya yang luhur. 

Gak semua orang bisa menjadi aktivis. Nahlo? Kenapa?
Karena menjadi aktivis itu adalah naluri atau karakter yang memang sudah tertanam dalam diri manusia. Ada yang memang suka berkegiatan, pergi kesana-kemari, dikenal banyak orang de el el. Bahkan dalam seminggu dia hampir gak punya waktu libur. Istirahatnya hanya ketika tidur malam.  Dan yang sebaliknya juga banyak. Orang-orang yang gak suka berkegiatan di luar. Hobinya menghabiskan waktu di rumah, atau hanya memilik satu tujuan ketika keluar rumah. Kantor-rumah-kantor-rumah. kampus-rumah-kampus-rumah. Fix! Gak kemana-mana lagi. Gak suka ketemu orang banyak, lebih memilih duduk di rumah menamatkan komik atau buku bacaannya, atau hanya sekedar menghabiskan daftar film yang belum di tonton. 
orang yang menghabiskan waktunya di rumah gak semuanya negatif. Ada juga profesi yang menghabiskan waktu di rumah saja. Contohnya? penulis. kerjaannya di rumah, ngetik, ngirim tulisan, dapet honor. Gampang kan? tapi bibit dan bobotnya jelas! :D

Menjadi seorang aktivis itu adalah paksaan??
Gak juga! Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, aktivis itu adalah naluri yang ada dalam diri seseorang. Seorang aktivis sejati gak bakal pernah merasa bosan atau terbebani dengan kegiatannya yang sekaliber itu. Banyak kok kasus, seorang aktivis yang dipaksa berhenti dari semua kegiatannya malah jatuh sakit, atau seorang mahasiswa yang dikenal rajin dan pandai oleh dosennya mendadak telat mengumpulkan skripsinya hanya karena dia meninggalkan seluruh kegiatannya. 
Artinya, aktivitas dan kegiatan bagi seorang aktivis itu seperti sebuah pemicu bagi hidupnya. Seorang aktivis sejati menjadikan segala aktivitasnya sebagai ladang menambah pahala atau cambuk semangat agar sekolah dan kuliahnya lancar.  Dan juga sebagai wadah menyambung silaturahmi, menambah saudara seiman yang memiliki satu visi dan misi dalam mencapai suatu tujuan. Banyak hal positif yang bisa didapat dari seorang aktivis. Tergantung bagaimana kita menyikapi segala aktivitas yang dijalani.

Ohya, Seperti saya sekarang, yang mendadak menjadi orang linglung di rumah karena gak ada kegiatan. Rasanya otak dan badan sakit semua ketika kosong dari aktivitas di luar rumah. Mungkin saya masuk dalam barisan salah satu aktivis di sini (Red : Kairo). :D
Tapi satu catatan penting yang saya dapat dari pengalaman saya menjadi seorang aktivis. Jangan menjadi aktivis 'tong kosong nyaring bunyinya'. Atau menjadi aktivis pengekor senior-senior yang kerjaannya hanya mengikuti intruksi dari atasan. Sudah saatnya menjadi aktivis yang memberi manfaat dan faedah untuk orang lain. Caranya dengan mengisi sebanyak-banyak ilmu dalam diri kita dan memperindah diri dengan akhlak mulia. Dengan harapan, Semoga suatu saat bisa menjadi aktivis, tokoh, penggerak dan penggasas yang mampu beramar makruf nahi mungkar dalam membela agama dan bangsa.
dan sepertinya, sy masuk barisan ini dulu. pengisi daya ilmu, sampai suatu saat daya sy di gunakan orang lain. :)
Wallahua'lam bisshawab


Cat : ini hanya opini dari penulis. Hal-hal yang tidak di setujui silahkan bantah dg opini juga. :)