Pages

Saturday, 5 April 2014

Senyum Indah di Doha

Padahal ini bukan kali pertama aku menaiki burung besi seumur hidupku. Tapi untuk kali ini, tetap saja ketar ketir rasanya menunggu pesawat Qatar Airwaysyang akan aku tumpangi take off dan membawaku ke daerah yang bernama Doha. Transit sejenak sebelum melanjutkan kembali ke tanah air yang aku rindukan, Jakarta.
Rasanya seperti hidup dalam dunia mimpi. Dimana aku bisa tetap hidup ketika aku terus bermimpi. Walau itu hanya sekedar mimpi biasa. Bak datangnya seorang peri kepadaku, menawarkan jutaan mimpi-mimpi indah. Seakan itu semua bisa aku gapai. Mimpiku, bukan mimpi orang lain. Tapi memang mimpi ini lah yang membawaku kesini. Menikmati indahnya panaroma ciptaan Sang Maha Kuasa dari atas langit. Terbang bersama si burung besi, ah sudah 2 tahun rupanya. Hampir lupa bagaimana rasanya mengudara.
            Tentu saja aku gembira, rasanya sudah tak sabar melihat hamparan hijau ibu pertiwi. Merasakan rintik hujan, larut bersama gemuruh derasnya hujan, menikmati indahnya lautan Indonesia, pegunungan, semua yang ada pada Indonesia yang tidak di miliki Negara lain. Tapi juga aku sedih meninggalkan negeri Para Nabi ini. Tempat aku menuntut ilmu di Universitas Islam tertua di dunia, Al Azhar. Siapapun pasti tau dan pernah mendengar nama yang sudah popular itu. dan aku bangga bisa menjadi salah satu pelajar disana. Meski pertemuanku dengan Mesirku baru berumur 2 tahun, tapi pergi meninggalkannya seperti pergi meninggalkan kampung halaman sendiri. Sedih, hampir sama seperti meninggalkan separuh hatiku.
            Sekarang aku sudah di Doha International Airport. Transit selama kurang lebih 11 jam. Waktu yang tidak sebentar untuk membuat seseorang membusuk karna bosan. Yah, tidak ada yang bisa aku lakukan selain memperhatikan orang-orang yang mondar mandir sambil menyeret koper-koper mereka. Unik. Dari koper yang super antik, sampai koper atau tas yang sudah bisa di tebak pasti di beli di pasar loakan disudut desa. Mereka tidak mungkin peduli dengan aku yang bosan menunggu waktu, atau aku yang sudah mulai kelaparan. “Urusanmu ya urusanmu, bukan urusanku”. Mungkin begitu batin mereka. Sama seperti aku yang selalu membatin tiap kali melihat tingkah aneh dari para penumpang lain.
            Kadang aku berpikir, rasanya aku sedang berada dalam salah satu mimpi dari ribuan daftar mimpi indahku. Tapi faktanya memang begini. Ah, Indonesia! I’m coming!
            Dalam perjalanan yang panjang ini, tidak lupa aku panjatkan doa untuk semua mahasiswa dan pelajar Indonesia yang ada di Mesir. Semoga kuliah kita semua lancar. Mendapat predikat sempurna dalam ujian kita. Yang akan wisuda segera wisuda, yang masih ma’had segera bisa kuliah, yang menanti pengumuman kenaikan kelas diberi kabar kenaikannya dengan gembira, dan segera bisa berbakti kepada ibu pertiwi.
            Dan semoga aku bisa bertemu dengan Abah, Mama, dan keluargaku dalam keadaan sehat wal alfiat. Bisa berbakti kepada mereka meski hanya diberi waktu 3.5 bulan. Dan menjadi liburan yang penuh berkah. Amin Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Doa tulus untuk keluarga dan semua sahabat yang setia menemani hariku. Syukron katsiro, jazakumullah ahsanul jazaa’.
Memoar Doha, 8 juli 2013.

0 comments:

Post a Comment