HUJAN DI MATA AMAK[1]

“Dunia ko tentang hidup
dan mati, Nak! Ado nan layia dan ado nan mati. Kelahiran, jodoh,
rasaki dan kematian alah tacatat di lauhul mahfudz jauah sabalun Amak
manganduang waang. Baitupun jo Apak”[3]. Ujar
Amak menatapku yang berdiri mematung tanpa kata saat aku tahu tentang kematian Apak.
Saat itu aku masih kelas 6 sekolah dasar. Seragam merah putih masih melekat di tubuh
mungilku. Dia memelukku erat saat aku mulai keheranan melihat warga kampung
yang ramai berdatangan ke rumah. Kurasakan detak jantungnya yang tak beraturan.
Dadanya naik turun mengatur nafas.
“Ado apo, Mak?”[4]
bisikku di telinganya. Aku membalas pelukan hangat Amak. Mencoba menekan
kecamuk pikiran dan rasa takutku.
“Apak waang lah manduhului awak, nak. Apak sudah
dipanggia Allah. Inyo titip salam untuak anak bujangnyo”[5]
katanya. Sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya. Pertahanannya hampir
roboh tapi ia berjuang keras untuk tetap kokoh berdiri di hadapanku.
Tubuhku gemetar. Aku menarik nafas panjang agar Amak tidak
menyadarinya. Aku tahu kepedihannya lebih besar dari apa yang aku rasakan. Tapi
dia memang wanita yang luar biasa. Di balik sendu matanya aku tahu ia menyimpan
beban yang sangat berat untuk ia pikul sendiri.
Ah, Amak. Aku menahan rinduku yang kian sesak. Menyesali tindakan
bodohku menyakiti hati wanita mulia itu. Lututku gemetar menahan tangis.
Menyesal! Sungguh aku benar-benar mengutuk hidupku. Andai saja dulu aku lebih
mendengar kata Amak. Tentu tidak akan seperti ini jadinya.
** Saat itu masa kelulusanku di bangku SMA. Aku bukan murid yang
sangat pintar. Tapi aku selalu berusaha menjadi
anak kebanggan Amak. Aku berhasil mempersembahkan peringkat 10 besar
saat kelulusanku. Amak tersenyum bangga padaku. Aku bahagia melihat gurat
kepedihan perlahan sirna di mata Amak.
“Baraja tu ndk hanyo di
sikola, Nak. Waang bias baraja di taman, jalan, musajik bahkan di
rumah. Pelajari kehidupan sakitar, buek urang dakek wak sanang. Itu
pelajaran yang saketek urang bias dapekan”[6].
Ujar Amak menasehatiku saat aku mengeluh mata pelajaran di sekolah. Aku
mengangguk. Sejak saat itu aku belajar membahagiakan orang-orang di sekitarku,
dan orang yang pertama kali aku bahagiakan adalah Amak.
Pasca kelulusanku, aku bertemu teman baru dari kota sebelah. Namanya
Bayu. Dia mengaku kuliah di kota Jakarta. Aku begitu bersemangat mendengar
ceritanya tentang kota impianku itu. Sampai-sampai aku tak peduli asal usul
dia. Bahkan tak ku hirau kan lagi teguran dari sahabat baikku untuk
berhati-hati terhadap orang asing. Dia menawarkan aku untuk ikut bersamanya ke
Jakarta. Aku tersenyum lebar. Aliran darahku meninggi menahan detak jantungku
yang memacu semakin kencang tak sabar.
Segera aku persiapkan segala keperluanku ke Jakarta. Menyisipkan
ijazah kelulusan SMA ku, dan sedikit uang dari tabunganku selama SMA. Aku sudah
menyiapkan rencana selama hidup di Jakarta. Untuk setahun pertama, aku tidak
akan langsung kuliah. Aku ingin menikmati kota Jakarta. Menghafal seluk beluk
kota besar itu. Bahkan kalau perlu menjadi ‘peta berjalan’ untuk orang-orang
yang tersesat. Aku bisa bekerja untuk tahun pertama. Mengumpulkan uang
sebanyak-banyaknya. Dan mengirimkannya ke Amak kalau uangku berlebih.
Amak? Ah, aku lupa mengingat satu hal itu. Aku memang merahasiakan
hal ini darinya. Aku berencana akan memberi tahunya beberapa hari menjelang
keberangkatan. Aku pikir, Amak pasti
mengijinkanku. Apalagi, semenjak kepergian Apak aku tidak pernah menuntut
apa-apa ke Amak. Aku selalu menuruti apa kata Amak. Aku begitu yakin Amak akan
merestui keberangkatanku.
Matang sudah segala persiapanku. Ragaku begitu bersemangat ingin
merantau ke Jakarta. Jangan tanya jiwaku, menggelora. Memacu adrenalinku tiap
kali terbayang pertualanganku di sana. Teringat lirik lagu pedangdut tersohor
Bang Haji Rhoma Irama “masa muda masa yang berapi-api”. Aku tidak hanya
berapi-api, tapi sudah membara. Terbakar rasa ingin tahu yang mendalam. Nafsu
ingin bebas dan keluar dari desa terpencil ini. Sampai aku lupa memperhitungkan
hal negatif yang mungkin akan menimpaku di sana.
** Seminggu sebelum keberangkatan. Aku menghubungi Bayu.
Menanyakannya perihal tiket kami menuju Jakarta. Dia meyakinkanku bahwa semua
sudah beres. Undercontrol. Aku tenang. Dan untuk membeli tiket, aku
menjual semua barang-barang kesayanganku. Sepatu, koleksi komik, beberapa buku
bacaan dan tape recorder pemberian Apak.
Sejujurnya, aku begitu berat menjual satu-satunya peninggalan Apak
itu. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku membutuhkan uang untuk melengkapi
kekuranganku membeli tiket. Tidak mungkin aku memintanya pada Amak. Aku tidak
ingin menyusahkannya. Sedang uang tabungan yang aku sisihkan mungkin hanya
cukup untukku bertahan satu bulan di Jakarta. Tapi aku berjanji, suatu saat nanti aku akan
membeli kembali tape recorder itu. Sepulangku dari kota Jakarta.
Aku pergi mengunjungi Lembah Harau tiga hari menjelang
keberangkatanku ke Jakarta. Sebuah celah yang terletak di antara dua tebing
batuan pasir. Menjulang tinggi dan indah. Laiknya gerbang besar bagi daratan di
bawahnya. Tinggi tebingnya mencapai 100 meter dan membentang sepanjang beberapa
kilometer. Sawah milik warga mengalasi kedua tebing. Menambah keeksotisan
Lembah Harau.
Tidak hanya itu, yang menarik ragaku untuk ke sana adalah air
terjun yang turun di beberapa titik tebing. Dulu aku selalu menghabiskan
waktuku bermain di sana. Mengguyur tubuhku dengan airnya yang dingin dan segar.
Aku sering lupa waktu dan Amak akan memarahiku kalau aku pulang terlambat
karena bermain di sana sepulang sekolah. Bibirku tertarik beberapa senti ke
samping mengingat memori-memori indah di Harau, tanah kelahiranku.
Aku melipat tangan di dada. Memandang tebing-tebing yang membuatku
terasa kerdil. Menikmati indah Lembah Harau. Merekamnya dengan baik dalam
ingatanku. Berharap jika suatu saat aku jenuh dengan pemandangan dan sesak kota
Jakarta, memori Lembah Harau bisa memberiku cukup banyak oksigen untukku
bernafas dengan lega. Hari semakin gelap. Aku bersiap-siap pulang ke rumah. Ku
tarik nafas panjang sebelum kakiku melangkah pulang. Ya! Ini saatnya
memberitahu Amak tentang kepergianku.
** Amak diam tak bersuara. Tubuhnya tak bergerak. Dia menatapku.
Tatapan itu, ah! Aku tak tahan melihatnya. Detak jantungku berpacu semakin
kencang. Seperti sedang menunggang kuda dengan kecepatan tinggi membelah hutan.
“Mak. Amak ndak usah khawatir. Fahri bisa menjago diri. Fahri alah
gadang, Mak. Indakkah amak sanang mancaliak anak mak marantau ka nagari urang?[7]”
kataku mencoba meyakinkan Amak. Dia tertunduk. Nafasnya semakin berat.
“Bukan itu Nak. Manga harus ka Jakarta? Amak ndak ingin jauah
dari waang. Cukuiklah Apak nan maninggaan awak [8]”.
Wajahku seperti tertampar baja panas. Aku menatap mata Amak.
Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Aku melihat seperti hujan akan turun dari
mata Amak. Hujan dan badai.
Entah setan apa yang merasukiku saat itu. Dia meyakinkanku bahwa
Amak akan baik-baik saja sepeninggalanku nanti. Pedih di matanya hanya luapan
emosinya saat mengetahui anak semata wayangnya akan pergi jauh dari dia. Itu
wajar. Semua itu akan tergantikan setelah aku sukses nanti. Dan dia akan sangat
bahagia melihatku kembali dengan membawa ‘nama’. Tidak perlu meminta restunya,
aku hanya perlu pergi dan buktikan.
Percakapan malam itu berakhir sunyi. Amak hanya diam. Sedang aku
akan tetap pergi ke Jakarta. Menjemput mimpiku. Ku peluk tubuh Amak yang kiat
mengeriput itu. Aku tak berani menatap matanya. Mata yang selalu ingin menumpahkan
hujan yang membendung di dalamnya.
** Sehari setelah kedatanganku di Jakarta, semuanya masih baik-baik
saja. Kami mampir ke sebuah stasiun di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Bayu
memberitahuku, tempat tinggalnya ada di sekitar sana. Aku meninggalkannya untuk
pergi salat di musholla dan membiarkannya menunggu di luar. Katanya, kami akan
salat bergantian. Agar barang-barang kami ada yang menjaga.
Usai salat, aku keluar menemui Bayu. Aku terperanjat melihat
barang-barangku lenyap di luar musholla. Aku mencari Bayu, berteriak
kemana-kemana tapi batang hidung Bayu tak kunjung muncul. Aku mulai ketakutan.
Lututku lemas. Tubuhku terjatuh tepat di mana aku meninggalkan barang-barangku
terakhir kali. Tanganku meraba secarik kertas yang ku temukan di sampingku.
Namaku tertulis tepat di barisan atas kertas itu.
“Fahri. Maafkan aku. Ini memang berat! Tapi kamu tidak akan mati
karena ini. Aku pernah merasakannya. Dan aku masih bisa bertahan sampai
sekarang! Ohya, aku membaca pesan di handphonemu dari keluargamu di kampung.
Katanya, Ibumu meninggal karena kecelakaan tepat saat perjalanan pulang setelah
mengantarmu ke Jakarta. Aku turut berduka. Bayu”. Aku meremas kertas sialan
itu. Berulang kali aku menekan laju nafasku yang semakin tidak beraturan.
Tiba-tiba semuanya gelap.
** Aku berjalan menulusuri gerbong kereta api yang sesak dengan
para pengemis. Menghentikan air mataku yang seharian ini tak pernah berhenti. Miris.
Aku laki-laki yang menghabiskan tiap detiknya menangisi hidup.
Terakhir kali aku melihat mata Amak saat ia mengantarkanku di
Bandara International Minangkabau sebulan yang lalu. Mendung masih bersarang di
matanya. Bergumpal ingin tumpah menjadi hujan. Ya! Mata itu.
Oh Ammakku! Sungguh aku terlalu bodoh untuk menjadi anakmu. Aku
terlalu bernafsu mengejar mimpiku sampai ridho dan restumu aku acuhkan. Aku
buta dengan gemerlap bayang-bayang Jakarta. Bara api kini tak hanya membakarku.
Tapi juga melumatku habis! Menjadikanku debu. Aku tak punya nyali untuk kembali
Ammak! Aku malu!”. Suara tangisku
semakin kencang. Tubuhku bergetar hebat. Samar-samar aku mendengar suara Ammak.
“Fahrii.. Fahrii..”
Aku mencari arah suara Ammak. Mataku yang sudah bengkak seperti
bola ku paksa terbuka untuk mencari sosok Ammak. “Fahrii..”. suara itu
terdengar lagi. Aku berdiri gemetar. Ku lihat bayang-bayang wanita berdiri di
ujung gerbong yang sangat gelap. Wanita itu berdiri sambil mengulurkan tangan
seakan mengajakku padanya. Aku memicingkan mata menatapnya lebih jelas. Aku
tidak dapat melihat jelas wajahnya, kecuali matanya. Mata itu! Ya! Itu mata
Ammak. Mata yang sama seperti sebelum aku meninggalkannya. Aku akan
menyingkirkan hujan di matamu Ammak! Setengah terseok aku menuju arah
Ammak. Tiba-tiba aku tersandung, dan semuanya gelap. The End
[1]
Amak adalah panggilan khas orang minang untuk
Ibunya. Sedangkan panggilan untuk Ayah biasanya menggunakan kata Apak.
[2] Harau adalah nama suatu desa yang ada di Kabupaten
Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Harau terkenal dengan lembahnya yang sangat
indah.
[3] Dunia itu tentang hidup dan mati, Nak! Ada yang lahir dan ada yang
mati. Kelahiran, jodoh, rezeki dan kematianmu sudah tercatat di lauhul
mahfudz jauh sebelum Amak mengandungmu. Begitu pula dengan Apak.
[6]
Belajar
itu tidak hanya di bangku sekolah, Nak. Kamu bisa belajar di taman, jalan raya,
masjid, bahkan di rumah. Pelajari kehidupanmu, buat orang di sekitarmu bahagia.
Itu pelajaran yang sangat sedikit bisa dilewati pelajar mana pun.
[7]
Amak.
Amak tak perlu khawatir. Fahri bisa menjaga diri. Fahri sudah besar Amak.
Tidakkah Amak senang jagoan Amak ini merantau di luar sana?
[8]
Bukan
itu Nak. Kenapa harus Jakarta? Amak hanya tidak ingin jauh dari kamu. Cukup
sudah Apak meninggalkan kita